[chaptered/ongoing] As a Man – Chapter 2

© Ai Lee’s Storyline, 2012
Casts:
Jung Jin Young (B1A4), Han Eun Joo (OC), and other B1A4′s members
Genre:
AU, Romance, Drama
Length:
chaptered (2 of  ?)
Rating: G – PG15

“Eun Joo-ya!”

Eun Joo mendengar jelas saat namanya dipanggil tapi ia tidak memberikan waktu pada kakinya untuk berhenti atau pada kepalanya untuk menoleh. Eun Joo justru mempercepat langkahnya siang itu.

“Han Eun Joo!”

Kaki gadis itu akhirnya berhenti. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa tidak bisa terus berjalan hingga sampai di pintu gerbang. Eun Joo berbalik sambil memasang senyum kaku. Tapi justru dibalas dengan senyum manis dari lelaki berambut hitam yang mengejarnya. Gong Chan Shik.

“Kau mau pulang?” tanya Gong Chan. “Mau kuantar?”

“Tidak, terimakasih,” jawab Eun Joo singkat. “Dong Woo Oppa sudah menjemputku.”

“Kalau begitu katakan pada Dong Woo, aku yang akan mengantarmu nanti.”

“Tidak mau. Aku akan pulang dengan Dong Woo Oppa.”

Gong Chan meringis. “Tidak bisakah kita bicara sebentar saja? Eun Joo-ya, aku—”

PLAK!

Tepat saat jemari Gong Chan menyentuh kulit Eun Joo, tamparan mendarat di pipi kiri lelaki itu. Gong Chan terbelak, begitu juga Eun Joo. Tangannya bergetar. Eun Joo tidak percaya ia bisa menampar Gong Chan sekeras itu. Bahkan hal ini tidak pernah dilakukannya ketika mereka berpisah.

“Han Eun Joo, dengarkan aku!” Dengan sigap, Gong Chan mencengkram tangan Eun Joo.

“Lepaskan!”

Dan tangan lain melakukan hal yang sama pada lengan Gong Chan.

“Maaf, gadis ini ada urusan denganku.”

Rambut merah…

Deg!

Seperti terkena serangan jantung, Eun Joo langsung membuka matanya. Nafas terengah begitu menatap langit-langit kamarnya. Eun Joo duduk memeluk lutut sambil memegangi kepalanya yang mendadak terasa sakit.

Kenapa harus mimpi kejadian kemarin?

Dengan lemas, Eun Joo berjalan ke arah dapur. Ia menuangkan air mineral ke dalam gelas sembari mengingat mimpi-yang-sebenarnya-adalah-kenyataan.

Kenyataan, ya? Kenyataan kalau Eun Joo dan Gong Chan sudah berpisah dan lelaki itu mendekatinya lagi. Kemudian si rambut merah datang seperti seorang pahlawan gagal—bagi Eun Joo.

Eun Joo menegak minumnya dengan dahi berkerut. Kira-kira kemana perginya si rrambut merah, ya? Setelah menolong Eun Joo yang nyaris tertabrak mobil kemarin, ia pergi tanpa berkata apapun. Tsk, orang aneh.

“Anda sudah bangun?”

Ekor mata Eun Joo mencari sumber suara.

“…Agasshi (nona)?”

“Uhuk!”

Jin Young terlonjak ketika Eun Joo tiba-tiba tersedak melihatnya. Jin Young segera menghampiri Eun Joo, mengusap punggung gadis itu khawatir.

Gwenchanhna (tidak apa-apa)?” tanya Jin Young.

Eun Joo melepaskan tangan Jin Young yang ada di punggungnya lalu berjalan mundur. Masih kaget, Eun Joo memperhatikan penampilan Jin Young dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ini gila, pikirnya. Bagaimana bisa si rambut merah itu datang lagi?!

“Siapa kau?” Eun Joo balik bertanya. “Kenapa ada di rumahku?”

Jin Young menatap Eun Joo lalu mengacak rambutnya sendiri. Dong Woo belum memberitahunya atau apa sih, batin Jin Young. Ia menghela nafas pelan sambil berjalan mendekati Eun Joo.

“Jangan mendekat!” seru Eun Joo panik. “Kalau bergerak lagi, aku akan berteriak!”

Astaga, gadis ini!

Appa, kenapa tidak mengatakannya padaku dulu?!” Jin Young mendesah setiap telinganya mendengar rengekan gadis yang sekarang menjadi majikannya. “Appa lupa umurku? Aku tidak butuh bodyguard!”

Jin Young melirik Dong Woo yang berdiri di sampingnya. Dong Woo tersenyum tipis, sudah terbiasa mendengar majikannya berbicara di telepon dengan ayahnya seperti ini. Jin Young meringis. Apa ia bisa bertahan dengan majikannya ini sampai menemukan pekerjaan yang baru?

Eun Joo menutup teleponnya dengan kesal. Ia berbalik menatap Jin Young dan Dong Woo bergantian.

“Jadi,” ucap Eun Joo. “Oppa sudah tahu ini sejak lama tapi tidak mengatakannya padaku?”

“Saya hanya ingin Agasshi mendengarnya langsung dari Tuan,” jawab Dong Woo jujur.

Oppa, aku ‘kan sudah bilang, berhenti menggunakan bahasa formal denganku!” omel Eun Joo lagi.

Dong Woo langsung mengatupkan bibirnya. Eun Joo menghela nafas, lelah karena sudah terlalu banyak berteriak pagi ini. Ia melirik Jin Young lagi. Eun Joo menyipitkan matanya sedangkan Jin Young berusaha tidak bertatapan langsung dengan gadis itu.

Oppa, hari ini aku akan pergi dengan San Deul. Tidak usah dijemput, aku akan memintanya mengantarku,” kata Eun Joo angkuh pada Dong Woo.

Dong Woo hanya mengangguk-angguk lalu melirik Jin Young yang masih disebelahnya. Jin Young memberi tatapan aku-harus-apa-sekarang pada Dong Woo dan membuat Dong Woo baru ingin menahan Eun Joo. Belum sempat Dong Woo memanggil majikannya itu, Eun Joo sudah berbalik dan menatap tajam mereka berdua.

“Dan jangan biarkan dia mengikutiku lagi!” tegas Eun Joo sambil menunjuk Jin Young.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Eun Joo kembali ke kamarnya. Dong Woo menghela nafas pelan akibat tingkah kekanak-kanakan Eun Joo. Jin Young hanya berdecak menatap Dong Woo.

“Pekerjaanmu benar-benar berat, hyung,” sindir Jin Young. “Jadi, aku harus apa? Membantumu menyiapkan makan siang?”

“Ikuti dia.”

Jin Young mengangkat sebelah alisnya. Tapi Dong Woo balas menatap Jin Young yakin. “Ikuti dia. Kau bekerja sebagai bodyguardnya ‘kan?”

“Belum bekerja saja dia sudah cerewet seperti itu. Tidak, aku keluar.”

Ya, siapa yang anak-anak disini? Kau mau kembali ke tempat yang kau sebut rumah itu?”

Jin Young mendesah kesal. Dong Woo kembali membahas soal rumahnya. Walaupun sebenarnya itu bukan rumahnya. Apartemen kecil yang lebih tepatnya tidak layak huni itu sudah menjadi tempat tinggalnya beberapa tahun terakhir. Dong Woo sudah berkali-kali menyuruhnya pindah dari tempat itu. Tapi sampai sekarang Jin Young belum menemukan tempat yang nyaman, menurut harga dan lingkungannya.

“Masih mau bilang ‘keluar’?” Dong Woo menyeringai.

Dwaesseo (baiklah)! Aku ikut dia.”

Eun Joo menyeruput cokelat panasnya dengan sebelah tangan menempelkan ponsel ke telinga, berusaha menghubungi San Deul yang tidak mengangkat telepon sejak tadi.

Aishh, kemana sih, anak itu?” gerutu Eun Joo ketika mendengar suara operator yang mengatakan hal yang sama—teleponnya diacuhkan. Eun Joo ingat ia sudah mengatakan pada San Deul untuk menemaninya menonton Sabtu ini. Dia lupa? Eun Joo mendengus. Lihat saja apa yang akan terjadi padamu, Lee San Deul.

Langkah Eun Joo terhenti saat ekor matanya menangkap sesuatu. Ia memasang senyum terpaksa kemudian lalu berjalan lagi. Tapi semakin lama, Eun Joo merasa pelipisnya berdenyut setiap mendengar suara langkah di belakangnya. Eun Joo memang sedang melewati taman yang sepi. Jadi, langkah laki-laki itu jelas terdengar di telinga Eun Joo.

YAAA!!!” teriak Eun Joo. Ia berbalik dengan wajah yang jelas-jelas kesal. “BERHENTI MENGIKUTIKU!”

Beberapa burung yang sedang berada di taman itu langsung terbang karena teriakan Eun Joo. Jin Young yang tertangkap basah sedang mengikuti gadis itu langsung gelagapan. Ia mengacak rambutnya sendiri—bingung—lalu berdeham.

“Tapi, aku harus—”

“Aku tidak mau dengar!” potong Eun Joo. “Pulanglah dan telepon ayahku. Katakan kalau kau kupecat!”

Rahang Jin Young mengeras. Ia sadar, di hadapannya adalah anak dari orang yang mempekerjakannya. Tapi haruskah gadis yang lebih muda darinya memperlakukannya seperti ini? Gadis tempramental yang tidak sadar kalau kata ‘dipecat’ itu tidak bisa diterima oleh sebagian besar orang. Ha! Anak ini belum pernah merasakan dipecat, ya?

“Tugasku melindungi Agasshi dan yang bisa memecatku hanya Tuan besar. Jadi, aku akan tetap mengikuti Agasshi kemanapun Agasshi pergi.”

Eun Joo mendecakkan lidahnya. “Kau tidak mengerti arti kata privacy? Sebegitu inginkah kau dengan pekerjaan ini?”

Memangnya aku sudah gila? Jin Young hanya nyengir kaku dan disambut dengan decakan Eun Joo lagi.

“Aku akan berpura-pura tidak mengenalmu.” Eun Joo mengibaskan tangannya dan kembali berjalan.

Jin Young segera mengikuti Eun Joo dari belakang. Mereka melewati taman dengan sungai kecil disisi kirinya. Saat itu taman sangat sepi, Jin Young bahkan menduga hanya mereka berdua yang sedang berada disana. Tiba-tiba Eun Joo kehilangan keseimbangan diatas wedges putih susunya. Refleks, ia mencengkram lengan Jin Young sebelum jatuh konyol. Jin Young segera menahan tubuh Eun Joo yang nyaris tersungkur.

“Sudah kuduga akan seperti ini,” gumam Jin Young.

Eun Joo mendelik, menatap Jin Young seakan ingin membunuh. Eun Joo menegakkan tubuhnya dan segera melepaskan tangan Jin Young. Gadis itu langsung mempercepat langkah agar bisa menjauh dari Jin Young.

Jin Young mendesah kesal. Kenapa anak ini tidak bisa berbuat manis sebentar saja? Ia berlari mengejar Eun Joo dan langsung menggapai tangan gadis itu. Eun Joo tersontak. Ia menoleh cepat pada Jin Young.

Jin Young berdeham. “Aku bukan mencari kesempatan. Ini hanya agar Agasshi tidak terjatuh lagi.”

Eun Joo mengerjapkan matanya. Baru sehari kerja sudah selancang ini? umpat Eun Joo dalam hati. Tapi bukannya memarahi Jin Young seperti yang ada di pikirannya, Eun Joo justru membiarkan tangan mereka seperti itu dan menyamakan langkahnya dengan Jin Young.

“Ini juga bukan berarti aku akan baik padamu, mengerti?” desis Eun Joo.

“Kau mau disini sampai kapan?”

Eun Joo menopang dagunya sambil menatap Jin Young lurus. Lelaki berambut merah itu hanya mengangkat bahu sambil terus memandang keluar jendela café tempat mereka duduk sekarang.

“Setelah teman Agasshi datang, aku akan pulang,” jawab Jin Young.

Eun Joo mendengus mendengarnya. Ia menyeruput jus stroberinya lagi dengan malas. Jin Young tidak banyak bicara sejak tadi dan membuat Eun Joo cepat bosan. Belum lagi San Deul yang tidak juga menghubunginya. Tiba-tiba Eun Joo merasa waktu berjalan sangat lambat ketika harus berdua dengan orang asing.

Eun Joo melirik Jin Young dan—entah kenapa—memandangi setiap inci wajah lelaki itu. Jin Young memiliki mata sipit namun tajam ketika menatap seseorang. Seperti rubah. Membayangkannya membuat Eun Joo tersenyum geli. Rubah mana yang suka minum kopi seperti dia?

Ya, kau sering tidak tidur?” tanya Eun Joo tiba-tiba.

Jin Young tertegun. ‘Ya’? Bocah ini tidak sadar umur? Ia berdeham lalu meletakkan iced-americanonya di atas meja.

Agasshi, ‘ya’ itu bukankah lebih baik dikatakan pada orang yang seumuran atau lebih muda?” sindir Jin Young.

“Bukankah kau baru lulus sekolah?” Eun Joo balik bertanya.

Pfft!” Jin Young langsung menutup mulutnya sebelum ia terbahak. Astaga! Ia merasa lima tahun lebih muda sekarang.

Eun Joo malah menatap Jin Young bingung. Tiba-tiba ponsel Eun Joo yang diletakkan di atas meja bergetar. Eun Joo meraihnya cepat. 1 New Message From: Lee San Deul.

Eun Joo-ya, aku baru ingat masih ada tugas yang belum selesai dan harus dikumpulkan besok pagi. Kau tau sendiri, Hwang Seonsaenim seperti apa. Maaf hari ini aku tidak bisa menemanimu. Lain kali, ya? ^^

Ya, Lee San Deul!” umpat Eun Joo kesal setelah membaca pesan dari San Deul.

“Kenapa?” Jin Young mengangkat kepalanya, penasaran.

Eun Joo meletakkan ponselnya kembali ke meja sambil meringis kesal. “Seenaknya saja dia membatalkan janji setelah membiarkanku menunggu. Akan kubalas anak ini besok!”

Jin Young berpikir sejenak kemudian berdeham. “Kalau teman Agasshi tidak datang, aku akan menemani Agasshi.”

“Kenapa harus—”

Agasshi tahu kalau aku ini pemanah?” Mendadak Eun Joo terpaku dengan sorot mata Jin Young. Eun Joo hanya menggeleng lalu Jin Young menopang dagunya dengan sebelah tangan yang bertumpu pada meja. “Bagaimana kalau aku memanah Agasshi

dan membuat Agasshi tidak bisa berpaling dariku?”

To Be Continued –

Kenapa endingnya aku malah ngegombal ya? Hahaha.. maaf kelamaan, baru selesai ngambil rapor dan lain-lain(?). Review and NO PLAGIARISM please! ^^~ thank you c:

4 thoughts on “[chaptered/ongoing] As a Man – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s