[chaptered/ongoing] As a Man – Chapter 1

As a Man
© Ai Lee’s Storyline, 2012
Casts:
Jung Jin Young (B1A4), Han Eun Joo (OC), and other B1A4’s members
Genre:
AU, Romance, Drama
Length:
chaptered (1 of  ?)
Rating: G – PG15
Dipost dengan poster seadanya T^T sengaja post hari ini buat ngerayain our fox-leader’s birthday! Happy birthday, Jinyoung oppa~ Banas love you♥♥♥ happy reading and please leave your reviews ^^~

Hari itu matahari bersinar terik. Tapi Jin Young malah merelakan kulit putih susunya bermandikan cahaya matahari. Ia suka hari yang cerah. Hari cerah memberikan Jin Young inspirasi menulis beberapa bait lagu.

Sepasang sepatu mengalihkan perhatian Jin Young yang sedang menulis lirik yang terlintas di kepalanya. Jin Young mengangkat kepala. Dong Woo ada di depannya, tersenyum lebar. “Annyeong[1]!”

Jin Young mengangkat sebelah alisnya. Dong Woo jarang menemuinya kalau tidak Jin Young panggil atau ia sedang libur. Dong Woo hanya mendapat libur setiap hari minggu. Selebihnya ia harus terus berada di rumah majikannya sebagai buttler pribadi.

“Kau libur?” tanya Jin Young yang kembali memusatkan perhatian ada tulisannya.

Ani[2], aku hanya ingin mengunjungimu.” Dong Woo nyengir.

“Kalau kau ingin membicarakan soal pekerjaan, aku akan melanjutkan ini nanti.”

“Baru saja aku ingin mengatakan itu!” sahut Dong Woo bersemangat. Mata Jin Young langsung berbinar. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya sambil menunggu perkataan Dong Woo selanjutnya. “Aku punya pekerjaan untukmu. Mau menemaniku beli kopi dulu?”

Tidak sampai lima belas menit mereka sampai di sebuah café kesukaan Dong Woo. Kedua lelaki itu keluar dengan membawa masing-masing segelas americano di tangan mereka. Dong Woo sedang memperhatikan asap yang mengepul dari minumannya ketika Jin Young bertanya dengan tidak sabar.

“Jadi, kapan aku mulai bekerja?” tanya Jin Young.

“Kau bersemangat sekali.” Dong Woo tertawa. “Besok. Tapi kau akan kubawa ke tempatmu akan bekerja hari ini.”

“Dimana?” Jin Young semakin antusias. “SM entertaiment? JYP entertaiment? Oh, atau YG entertaiment?

Raut wajah Dong Woo seketika berubah menjadi bingung. Dong Woo mengurungkan kembali niatnya untuk menyeruput americano. “Entertaiment?”

“Memangnya dimana lagi?” Jin Young menggaruk kepalanya, bingung. “WM entertaiment?”

“Aku tidak menawarkanmu pekerjaan di dunia hiburan,” sanggah Dong Woo.

“Lalu, apa lagi?”

“Kau akan menjadi seorang bodyguard.”

Shirheo[3]!” Jin Young menolak dengan keras lalu segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Dong Woo.

Dong Woo tidak merelakan Jin Young menolak tawarannya begitu saja. Ia segera mengejar Jin Young sebelum temannya itu pergi jauh.

Ya, waegeurae[4]?” Dong Woo menyamakan langkahnya dengan langkah Jin Young yang cepat-cepat. “Kau yang memintaku untuk mencarikanmu pekerjaan. Aku sudah memberikannya, kenapa menolak?”

“Karena aku tidak mau jadi seperti-yang-kau-bilang-tadi.” Jin Young menegaskan. “Aishh, jinjja[5]! Hyeong[6], apa kau tidak punya pekerjaan lain untukku? Aku akan rela menunggu—”

“Tidak, karena aku rasa pekerjaan ini sangat cocok untukmu.”

Hyeong!” seru Jin Young. Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.

Beberapa menit yang lalu Jin Young sudah berharap Dong Woo akan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan hobinya: bernyanyi dan menulis lagu. Tapi harapan itu sirna ketika Dong Woo mengatakan pekerjaan apa yang ditawarkannya. Bodyguard. Seseorang yang wajib melindungi orang lain. Ia tidak mau.

Hyeong benar-benar tidak punya tawaran yang lain?” Jin Young kembali memastikan. “Selain bodyguard? Aku mau menjadi barista atau chef!”

Ya, memangnya kenapa kalau kau jadi… oke, maaf.” Dong Woo tidak melanjutkan kalimatnya saat mendapatkan death glare dari Jin Young. “Tapi, kau masih menyimpan peralatan panahmu, kan? Seingatku kau salah satu atlet hebat saat sekolah.”

“Seorang atlet hebat bukan berarti mau menjadi bodyguard,” ralat Jin Young.

Keurae[7]! Besok datang ke Cheongdam, ya!”

“Sudah kubilang, aku tidak akan—mworago[8]? Cheongdam?” Jin Young langsung berhenti dan mengganti kalimatnya. Jin Young menoleh pada Dong Woo dengan cepat dan hanya disambut senyum lebar Dong Woo. “Heoksi…”

Maja[9]! Kau akan bekerja denganku.” Dong Woo mengiyakan kebingungan Jin Young dengan bangga. “Aku pernah mengajakmu ke kediaman Han, kan? Berarti aku tidak perlu memberikan alamatnya lagi.”

Jin Young mulai dilanda dilema. Setahun terakhir ini Dong Woo mengabdikan dirinya sebagai butler di kediaman Han. Dan Dong Woo sama sekali tidak punya keluhan selama bekerja dengan sepasang suami istri pengusaha itu. Mereka hanya memiliki seorang anak perempuan, jadi tidak heran kalau Dong Woo juga mereka perlakukan seperti anak sendiri. Bahkan Dong Woo juga diberikan kamar di rumah mereka. Tidak hanya Dong Woo sebenarnya, mereka menyediakan kamar untuk semua pelayan.

Kalau Jin Young menerima pekerjaan ini, ia tidak perlu membayar uang sewa rumah. Makan pun pasti terjamin.

Asal Jin Young mau menjadi seorang bodyguard.

Buru-buru Jin Young menggelengkan kepalanya, menghilangkan semua godaan yang mempengaruhi pendiriannya.

Wae? Kau tidak mau mencoba bekerja sehari dulu?” Dong Woo memperhatikan kelakuan Jin Young: mengalihkan pembicaraan mereka dengan sibuk menyeruput americano-nya. “Jin Young-ah, aku tahu kau belum mendapatkan pekerjaan juga ‘kan? Karena itu, bekerjalah sebentar sambil menunggu pekerjaan yang kauinginkan datang padamu.”

“Apa aku harus jadi bodyguard Tuan Han?”

Jin Young tersentak, tidak sadar kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Ia tidak berani melihat Dong Woo yang sudah pasti sedang tersenyum geli karena berhasil meluluhkan hati Jin Young.

“Bukan.” Dong Woo menjawab cepat. “Tapi putrinya.”

“Hah?” Jin Young menoleh, bingung. “Memangnya dia berapa tahun, sampai perlu bodyguard?”

“Kau tahu kan, Tuan dan Nyonya Han sering tidak ada di rumah karena pekerjaan mereka. Dia anak satu-satunya, apalagi perempuan.”

“Lalu?” Jin Young menaikkan alisnya.

Dong Woo mendengus kesal. Belum sempat ia kembali berceloteh, ponselnya berbunyi. Dong Woo buru-buru merogoh ponselnya sambil memberi tatapan jangan-pergi-sebelum-ini-selesai pada Jin Young. Jin Young hanya mengangkat bahu, menunggu Dong Woo menerima teleponnya.

Ya, aku harus pergi sekarang. Kau jemput Agasshi[10] sendiri, bisa kan?”

“Kemana—apa?!” Jin Young terbelak, tidak sadar apa yang baru dikatakan Dong Woo. Dong Woo membuang gelas kopinya yang sudah kosong sambil mengangguk-angguk. “Ya, siapa bilang aku sudah setuju? Ya, hyeong! Eodi ka[11]?!”

“Ini mendadak! Aku harus segera pergi. Sepuluh menit lagi kelasnya selesai, jadi cepat jemput dia, eo? Aku akan meneleponmu nanti. Annyeong!”

Seoul University of Art. Jin Young sendiri melongo melihat apa yang sudah ada di depannya. Kakinya benar-benar melangkah ke tempat ini, universitas tempat majikannya kuliah.

Majikan? Jin Young mengacak rambutnya sendiri. Aku belum resmi bekerja untuk mereka, jadi dia bukan majikanku, kan?

Jin Young hanya merasa kasihan pada Dong Woo yang mendadak harus mengurus keberangkatan Nyonya Han untuk menyusul suaminya di Hongkong. Awalnya Dong Woo berencana menjemput sendiri majikannya itu. Tapi karena permintaan Nyonya Han yang mendadak, Dong Woo terpaksa—atau sengaja—menyuruh Jin Young menjemput gadis bernama Han Eun Joo.

Bagaimana aku tahu orangnya? Dong Woo hanya memberitahu pakaian gadis itu hari ini.

Ting!

Jin Young merogoh saku celana, mencari ponselnya. Dong Woo baru saja mengirimkannya pesan. Foto seorang gadis dengan rambut hitam melewati bahu. Gadis itu tersenyum, membuat matanya menyipit. Smile-eyed. Jin Young tersenyum kaku. Dong Woo seakan bisa membaca pikirannya.

Baru saja Jin Young berniat melanjutkan langkahnya ketika ia melihat gadis yang mirip dengan foto dari Dong Woo berada beberapa meter dari tempatnya berdiri. Jin Young yakin ia tidak salah orang. Tapi sepertinya ia berada disituasi yang salah.

Ada seorang lelaki jangkung berambut hitam berjalan ke arah gadis itu. Tapi belum sempat ia menyentuh Han Eun Joo, gadis itu justru menamparnya.

Jin Young terbelak melihat kejadian itu. Ada apa ini?

Merasa tidak terima, lelaki itu langsung mencengkram pergelangan tangan Han Eun Joo. Eun Joo meronta. Dan saat itu juga Jin Young merasa kakinya kembali bergerak tanpa kemauannya. Ia menahan tangan lelaki jangkung yang sedang mengcengkram tangan Eun Joo.

“Maaf, gadis ini ada urusan denganku.”

Mwo?” Lelaki itu terkejut dengan kedatangan Jin Young. “Ya, kau tidak pernah diajari sopan santun? Aku sedang ada urusan dengannya!”

“Apapun itu, kau harus melepaskan tanganmu dulu,” desis Jin Young sinis.

Si rambut hitam mendengus. Ia melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Eun Joo dan memaksa Jin Young untuk melepaskan tangannya juga. Tapi Jin Young justru menariknya pergi.

“Apa-apaan kau?!” Eun Joo memberontak ketika Jin Young menariknya keluar kampus.

Seakan tersadar akan sesuatu, Jin Young mengerjap saat diteriaki Eun Joo.

“Jangan sok pahlawan, mencampuri urusan orang seperti ini!”

“Bukan itu—”

“Aku juga tidak akan berterima kasih padamu!”

Jin Young terdiam. Eun Joo jelas-jelas marah besar padanya. Jin Young melepaskan tangan Eun Jop perlahan dan gadis itu langsung mengelus pergelangan tangannya.

“Sakit?” tanya Jin Young hati-hati.

“Bukan urusanmu.” Eun Joo menjawab singkat lalu berjalan melewati Jin Young.

Jin Young menatap punggung Eun Joo yang semakin menjauh. Padahal Dong Woo sidah meminta bantuannya, tapi Jin Young justru membuat semuanya berantakan.

Kalau dia pergi, Dong Woo yang akan dimarahi. Tsk, merepotkan.

Eun Joo memperbesar volume ipodnya sambil terus berjalan melewati pertokoan siang itu. Pikirannya masih tidak tertata rapi. Mulai dari Gong Chan yang tiba-tiba mengajak untuk kembali padanya hingga muncul lelaki aneh berambut merah yang memotong pembicaraan mereka.

Tiba-tiba Eun Joo merasa sedikit senang. Karena ia tidak bisa langsung menolak Gong Chan begitu saja, entah mengapa. Ada perasaan aneh ketika Gong Chan memohon padanya seperti tadi.

Eun Joo semakin tenggelam dalam pikirannya. Apa jangan-jangan ia masih—

“BAHAYA!”

Samar-samar Eun Joo mendengar teriakan seseorang ketika ia hendak menyeberang jalan. Tangannya tertarik dan sekejap Eun Joo sudah berada dipelukan seseorang.

Si rambut merah.

To Be Continued

[1] Hai
[2] Tidak
[3] Tidak mau
[4] Kau kenapa?
[5] Benar-benar!
[6] Kakak laki-laki (oleh laki-laki)
[7] Baiklah
[8] Apa katamu?
[9] Benar
[10] Nona
[11] Mau kemana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s