[chaptered/completed] Next To You – Chapter 7: 여자친구 (Girlfriend)

Next To You


Title: Next To You

Teacher: Ai Lee

Cast: Han Hyesoo (OC), Kim Jonghyun (SHINee), and the other SHINee’s members

Genre: Romance, School, Family, Friendship

Length: Chapter (7 of 7)

Rating: PG+15

Previous Chapter:

Ch. 1 | Ch. 2 | Ch. 3 | Ch. 4 | Ch. 5 | Ch. 6

Chapter 7:여자친구 (Girlfriend) 

Youngmi tersenyum saat menerima uang kembalian setelah ia membeli dua kotak banana milk. Hyesoo langsung menolak saat Youngmi mengajaknya ke kantin hanya untuk membeli banana milk. Ia bllang tidak ingin keluar kelas hari ini. Youngmi sendiri heran kenapa temannya menjadi seperti itu. Padahal biasanya ia sangat bersemangat setiap mendengar kata banana. Youngmi tidak ambil pusing soal itu. Ia tahu Hyesoo akan bercerita jika ia sudah mau nanti.

Youngmi melewati kumpulan siswi-siswi senior. Awalnya ia tidak peduli dengan senior-senior yang asyik tertawa itu. Tapi ia langsung memperlambat langkahnya saat mendengar nama yang tidak asing dengan telinganya.

Ya, kau lihat tidak tadi Kim Jonghyun bertemu siapa?”

“Siapa? Gadis kelas sepuluh itu lagi?”

“Bukaan! Ini beda lagi! Tadi aku lihat ada gadis yang enemuinya. Dia kelihatan tidak seperti anak SMA!”

Jinjja (benarkah)?! Waah! Jadi julukan player itu memang benar?”

Keureom (benar)! Sekarang aku kasihan dengan anak kelas sepuluh itu.”

“Dia jadi seperti tempat pelampiasan Jonghyun.”

“Benar! Entah bagaimana mereka kalau gadis itu tahu tentang Jonghyun.”

Mendengar semua itu, Youngmi memaksakan diri untuk menggerakkan kakinya agar tidak dikira sedang menguping. Tangannya tiba-tba gatal ingin melempar banana milk yang dibelinya. Ia tahu siapa yang barusan dibicarakan para seniornya. Kim Jonghyun dan Han Hyesoo. Dan satu gadis lagi yang tidak diketahui Youngmi.

Apa Hyesoo sudah mengetahui hal ini, jadi ia tidak mau keluar dari kelas? Karena tidak ingin bertemu Jonghyun?

Kibum mengangkat kepala dari macbooknya saat Jonghyun baru saja kembali ke kelas kosong tempat bermain mereka. Jonghyun langsung merebahkan diri ke sofa yang sudah tidak terpakai di ruang kelas kosong itu setelah meletakkan tas kecil yang berisi kotak bekal di meja.

“Apa ini?” tanya Minho yang baru kembali dari—sepertnya—toilet sambil mengintip ke dalam tas itu.

Noona baru mencoba membuat bekal dan tadi mengatarkannya padaku,” jelas Jonghyun lalu mendengus. “Aku jadi seperti anak kecil.”

Kibum tertawa singkat. “Kupikir bekal dari gadismu.”

Minho langsung menoleh pada Kibum yang tetap terpaku pada macbooknya dan kembali memandangi Jonghyun yang sedang menatap langit-langit dengan tatapan menerawang. Jonghyun kemudian tersenyum tanpa Minho ketahui maksud senyum itu.

“Kenapa harus dia?” tanya Jonghyun yang tidak terlihat seperti bicara pada Kibum, melainkan pada dirinya sendiri.

Mendengar perkataan Jonghyun, Minho tersadar atmosfer diantara mereka. “Ya, kau belum menceritakan pada kami kejadian minggu lalu.”

“Aku sedang tidak ingin membicarakannya,” jawab Jonghyun singkat lalu beranjak dari duduknya. Ia melirik Kibum dan Minho bergantian kemudian menunjuk kotak bekalnya. “Makan saja. Noona juga ingin tahu mendapat kalian.”

Setelah Jonghyun akhirnya memutuskan untuk keluar kelas, Minho langsung menghampiri Kibum yang tidak menampilkan reaksi apa-apa.

“Dia kenapa, sih?” gerutu Minho. “Sudah seminggu dia seperti itu. Kau mengerti, kan, seperti setahun lalu.”

“Saat dia patah hati?” Kibum mengangguk-angguk, menguyakan pernyataannya sendiri. “Tapi bukankah kali ini lebih baik daripada dulu?”

Minho menatap keluar jendela lalu mengangguk. “Benar juga.”

“Eh?”

Youngmi sendiri kaget dengan reaksi Hyesoo yang ternyata tidak tahu sama sekali dengan berita yang dibawanya. Hyesoo menatap kotak susunya dengan bingung. Sejenak ia merasa tidak punya nafsu sama sekali, bahkan untuk minum saja.

“Kupikir kau sudah tahu,” ucap Youngmi menyesal karena sudah membuat Hyesoo kaget walaupun temannya itu tidak memperlihatkannya.

Hyesoo menggeleng, memaksakan diri untuk tersenyum. “Aniya (tidak). Tidak ada salahnya kan, dia punya pacar?” katanya lalu menusukkan sedotan pada kotak susunya. “Lagipula, itu bukan urusanku juga.”

Youngmi memandangi Hyesoo yang menatap keluar jendela sambil menyeruput banana milknya. Ia bingung untuk membaca ekspresi Hyesoo dan akhirnya Youngmi memilih untuk bertanya hati-hati.

“Kau… masih tidak mau cerita?”

Hyesoo terdiam sesaat kemudian menggeleng pelan. “Nanti saja, ya?”

Youngmi hanya mengangguk-angguk lalu membalas senyum Hyesoo. Mendengar jawaban Hyesoo, Youngmi tahu ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Kalau sudah seperti ini artinya ia bisa menghadapi masalahnya sendiri. Kalaupun tidak bisa, Youngmi pasti akan menjadi orang pertama yang menolong Hyesoo.

Hyesoo mendengus pelan saat menyadari ia harus pulang sendiri hari ini. Youngmi sudah dijemput Oppanya karena harus pergi untuk pertemuan keluarga mereka. Hyesoo mengunyah permen karetnya sambil berjalan melewati gerbang sekolah. Ia merasa sudah lama sekali tidak sendirian seperti ini. Setiap Hyesoo pulang sendiri pasti ia selalu bertemu seseorang yang membuatnya tidak sendirian lagi.

Tiba-tiba Hyesoo menghentikan langkahnya saat pikiran itu melintasi kepalanya. Benar juga. Apa itu yang membuatnya merasa sepi? Hyesoo merasa lututnya melemas ketika melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang. Laki-laki yang sedang berdiri di halte bus yang sama dengan Hyesoo. Seragamnya sudah tidak jelas bentuknya. Dengan tas yang bergantung di sebelah bahunya, ia tersenyum pada Hyesoo. Senyuman khas yang sangat Hyesoo rindukan.

“Sendirian?” tanya Jonghyun tanpa menyadari ekspresi kaget Hyesoo. “Temanmu mana?”

Hyesoo berdiri di samping Jonghyun, berusaha memasang ekspresi senormal mungkin. “Sedang ada acara.” Ia melirik Jonghyun dan melihat laki-laki itu mengangguk mengerti.

Rasanya aneh sekarang saat Hyesoo harus berdiri bersampingan dengan Jonghyun tanpa bisa merasakan kebebasan lagi.

Karena dia sudah jadi milik orang lain.

Gagasan itu sontak terlintas di kepala Hyesoo. Hyesoo langsung meruntuki dirinya sendiri karena sudah memikirkan hal itu. Apa lagi yang ia harapkan? Pada kenyataannya ia juga yang salah karena tidak mau bertemu dengan Jonghyun seminggu terakhir ini. Tapi, apa kalau ia menemui Jonghyun itu artinya ia bisa—

“Bagaimana kabarmu?”

Hyesoo tersentak. Pertanyaan Jonghyun membuatnya tersadar dari lamunannya. Hyesoo menoleh, mengerutkan dahi, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Jonghyun.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Jonghyun lagi.

Hyesoo kembali melihat ke depan lalu berdeham. “Kau seperti tidak bertemu dengan teman selama bertahun-tahun.”

“Seminggu tidak bertemu denganmu rasanya seperti bertahun-tahun,” jawab Jonghyun cepat lalu tertawa sendiri. “Bodoh, ya?”

Eo, kau bodoh.” sahut Hyesoo. Ia menggigit bibir, benci dengan gurauan Jonghyun barusan. Ia hampir saja percaya. Hyesoo hampir percaya kalau Jonghyun merindukannya. “Katakan saja itu pada pacarmu.”

Huh? Siapa?”

“Pacarmu!”

Jonghyun menatap Hyesoo bingung. Walaupun ia mendengar dengan jelas, bahkan Hyesoo memberikan penegasan, tapi ia masih tidak mengerti. Pacarku? Siapa?

“Dilihat dari wajahmu, sepertinya gosip itu benar, ya?” sahut Hyesoo lagi tanpa ekspresi.

“Aku tidak punya pacar.” balas Jonghyun.

“Tidak ada gunanya mengatakan padaku. Bilang pada teman-temanmu!”

Ya, kenapa kau marah-marah? Apa salahku?”

“Gara-gara kau, senior juga menggosipkanku!”

Hyesoo tidak bisa menahan emosinya lagi hingga kembali berteriak pada Jonghyun. Jonghyun sendiri malah kebingungan dengan perkataan Hyesoo. Siapa yang digosipkan sudah punya pacar? Kalau ia, dengan siapa? Yang Jonghyun tahu seminggu terakhir wanita yang bersamanya hanya ibunya dan Noonanya. Noonanya. Apa Hyesoo melihat Noonanya datang ke sekolah tadi?

Jonghyun menoleh pada Hyesoo yang sekarang duduk di bangku panjang dengan earphone yang menempel di telinganya. Tanpa aba-aba, Jonghyun langsung menarik earphone Hyesoo dan disambut dengan pelototan dari pemiliknya

Ya, apa maksud ‘pacar’ itu orang yang menemuiku tadi?” tanya Jonghyun.

Hyesoo mengangkat bahu tak acuh. “Mana aku tahu. Aku tidak melihatnya.”

Jonghyun terdiam. Ia memperhatikan setiap inci ekspresi yang Hyesoo perlihatkan kemudian tersenyum tipis. Walaupun tidak mengakuinya, Jonghyun tahu kalau Hyesoo cemburu. Cemburu pada Jonghyun dan Noonanya sendiri. Sudah jelas yang bodoh itu siapa.

“Kalau aku bilang yang tadi itu bukan pacarku, kau akan percaya?” Senyum Jonghyun mengembang seiring kalimat itu keluar.

Mwo?” Hyesoo melirik Jonghyun dengan tatapan heran. Apa-apaan orang ini? Bukannya langsung mengakui saja kalau ia tidak menganggap Hyesoo siapa-siapa malah kembali bermain-bermain.

“Kalau dia bukan pacarku, berarti kau mau jadi pacarku?”

Hyesoo melotot sedangkan Jonghyun masih memasang senyum lebarnya. Dia gila!

“Apa maksud—”

“Besok kita kencan, ya?”

Hyesoo langsung beranjak dari duduknya tapi Jonghyun sudah berlari sebelum Hyesoo sempat meneriakinya. Jonghyun terkekeh karena masih bisa melihat ekspresi kaget Hyesoo.

“Besok, jam sepuluh aku akan menjemputmu. Jangan kemana-mana!”

Hyesoo tercengang melihat punggung Jonghyun yang berlari menjauh. Ia masih tidak bisa menemukan dirinya sendiri karena kata-kata Jonghyun barusan. Bagaimana bisa ia mengajak gadis lain kencan sementara dirinya sendiri sudah punya pacar?

“DIA GILA YA?!!”

Hyesoo menjauhkan ponselnya sejenak kemudian menempelkannya lagi. Ia mengangguk-angguk, mengiyakan pernyataan Youngmi ketika tahu apa yang baru Jonghyun katakan di halte tadi.

“Aku tahu kau akan berpikiran seperti itu,” sahut Hyesoo saat ia sadar Youngmi tidak bisa melihat anggukannya. “Benar-benar gila, ya?”

“Ya, maksudku, dia gila! Sungguh, tidak diragukan lagi!” Suara Youngmi masih terdengar heboh di seberang telepon. Ia berdeham sebentar, kemudian melanjutkan ocehannya. “Dia, kan, sudah punya pacar. Bagaimana bisa mengajakmu pergi kencan.”

“Entahlah,” jawab Hyesoo setengah bergumam. “Menurutmu apa aku harus pergi besok?”

“Apa kau mau ikut dengannya besok?”

Apa aku mau? Hyesoo bertanya pada dirinya sendiri. Tapi tidak bisa menjawabnya secara langsung. Apa ia menginginkannya? Hyesoo mendesah. Kenapa aku tidak bisa menemukan jawabannya?

Molla(tidak tahu),” ucap Hyesoo akhirnya. “Dia bilang akan menjemputku besok. Tapi aku tidak tahu akan pergi atau tidak.”

“Kalau begitu, pergi saja.

Hyesoo terdiam, tidak tahu harus menjawab Youngmi apa.

“Bukankah dia bilang dia tidak punya pacar? Kau lebih mempercayainya atau gosip tadi?”

Pertanyaan Youngmi semakin tidak bisa dijawab oleh Hyesoo. Pikirannya melayang, mencoba mencari jawaban. Tapi ia merasa pikirannya tiba-tiba menjadi gelap, jawabannya tidak bisa ia temukan.

Hyesoo menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Sudah jam empat pagi tapi ia sama sekali tidak tidur. Mungkin memang efek kafein yang dikonsumsinya beberapa jam lalu. Tapi sebagian otaknya menolak untuk tidur. Bagi Hyesoo, tidur hanya mempercepat waktu menuju hari ini.

Ia merenggangkan tangannya ke atas lalu mendesah kesal. Waktu tetap saja tidak bisa kuhentikan.

Aish, kenapa kau tidak bisa melupakan si bodoh itu?!” gerutu Hyesoo sambil menampar pipinya sendiri. Ia mengusap wajahnya lalu memfokuskan diri pada laptopnya kembali. “Keurae (baiklah), apa gunanya seperti ini? Naskah lebih penting. Aja aja, fighting!”

Setelah diperbolehkan Nyonya Han untuk mengajak Hyesoo pergi, Jonghyun langsung berlari ke kamar gadis itu. Ia membuka pintunya perlahan lalu mengintip ke dalam. Awalnya ia pikir Hyesoo masih tidur, tapi ternyata gadis itu sudah berada di depan laptopnya dengan rambut basah tanda baru selesai mandi.

Hyesoo tersentak ketika mendengar suara langkah di kamarnya tanpa ada ketukan pintu. Ia menoleh cepat dan semakin kaget melihat Jonghyun yang sudah berada tepat di belakangnya dengan senyum khas laki-laki itu.

“Aku gagal mengagetkanmu,” gerutu Jonghyun kesal.

“Siapa yang memperbolehkanmu masuk tanpa mengetuk pintu? Keluar!” seru Hyesoo tanpa basa-basi.

Ya, kenapa kau marah? Aku ‘kan, sudah bilang akan kencan denganmu hari ini,” bela Jonghyun.

“Kapan aku bilang aku mau ikut denganmu?” balas Hyesoo tidak mau kalah.

Jonghyun menghela nafas panjang, menyerah. “Kita lihat saja nanti.”

Hyesoo hanya mengangkat bahu tak acuh sambil bergumam sendiri mengomentari Jonghyun. Ia berbalik dan kembali menyibukkan diri dengan naskahnya. Jonghyun yang masih berada di belakang Hyesoo membungkuk, ikut memperhatikan apa yang ditulis gadis itu.

“Aku baru tahu kau suka menulis,” kata Jonghyun setengah bergumam.

“Kyaaaaah!” Hyesoo menjerit ketika merasakan nafas Jonghyun tepat di telinganya. Refleks, ia menutup laptopnya sebelum Jonghyun membaca tulisannya lebih banyak. “Ya, karago(aku bilang, pergi)!”

Shirheo(tidak mau)! Sebelum kau bilang kau akan ikut denganku!” kukuh Jonghyun.

Hyesoo meringis. Kalau ia tetap bilang tidak, entah apa yang akan Jonghyun lakukan pada laptopnya. “Kalau begitu, keluar. Aku mau ganti baju.”

“Aku bisa membantumu,” tawar Jonghyun sambil tersenyum jahil.

Karanikka(sudah kubilang, pergi)!”

Untuk yang penasaran Lotte World itu kayak gimana, silahkan cek ini ^^

“Kau mau naik Gyro Drop atau Gyro Swing?” tanya Jonghyun sambil memperhatikan brosur Lotte World di tangannya. “Sama-sama permainan yang menegangkan, loh. Pasti seru!”

Hyesoo yang sejak awal tidak ingin mengikuti—atau lebih tepatnya, menghindari—Jonghyun sama sekali tidak tertarik dengan permainan yang diusulkannya. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali pergi bermain untuk melepaskan penat dengan sekolah. Tapi kalau harus bersama Jonghyun, beban pikirannya justru bertambah.

Astaga, laki-laki ini sudah punya pacar tapi masih ingin bermain dengan gadis lain!

“Terserah saja. Kau, kan, yang mengajakku kesini,” jawab Hyesoo tak acuh.

“Cih, mwoya…” Jonghyun mengumpat kesal. “Kalau tidak berani, bilang saja. Aku akan memaklumi kok.”

Mwo? Tidak berani?” ulang Hyesoo, tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “Ya, akan kubuat kau menarik perkataanmu lagi!”

Keurae!” sambut Jonghyun bersemangat lalu menggandeng tangan Hyesoo, membawanya ke antrean wahana Gyro Drop.

Hyesoo melirik jam tangannya. Hampir dua jam ia bersama Jonghyun di area Lotte World. Hyesoo menarik nafas dalam-dalam lalu menengadah, menatap langit yang masih cerah. Sangat mendukung untuk bermain lagi, tapi hal itu justru tidak berlaku bagi Hyesoo.

Jonghyun setengah berlari menghampiri Hyesoo yang sedang duduk di salah satu bangku dekat wahana The Conquistador. Wajah gadis itu masih pucat, walaupun tidak separah saat mereka baru turun dari wahana perahu raksasa itu.

“Bagaimana?” tanya Jonghyun sambil menyodorkan segelas teh hijau hangat pada Hyesoo. Gadis itu menerimanya lalu menyeruput pelan-pelan. “Kau tahu, mungkin kalau kau berjalan selangkah lagi setelah naik The Conquistador, kau mungkin sudah pingsan.”

Hyesoo mendengus mendengar ocehan Jonghyun. Ia tahu, ini salahnya karena memaksakan diri untuk naik tiga wahana sekaligus—Gyro Drop, Gyro Swing, dan The Conquistador—tanpa istirahat. Hyesoo hanya ingin menunjukkan kalau ia sama sekali tidak takut dengan wahana yang menguji adrenalin seperti itu. Tapi tetap saja tubuhnya tidak mendukung keinginan Hyesoo.

“Sudah bisa jalan? Atau masih mau duduk disini dulu?” tawar Jonghyun tiba-tiba.

Hyesoo mengernyit. “Tidak perlu. Aku ingin pulang sekarang.” Ia beranjak dari duduknya dan mulai berjalan meninggalkan Jonghyun.

Ya, ya, kau marah?” Jonghyun buru-buru menahan tangan Hyesoo sebelum gadis itu pergi lebih jauh.

“Aku hanya lelah. Lepas! Aku ingin pulang!” tegas Hyesoo berusaha menarik kembali tangannya.

“Tadi kau tidak seperti ini. Kau kenapa?” Jonghyun meninggikan suaranya tanpa melepaskan tangan Hyesoo.

“Aku yang seharusnya bertanya, kau kenapa? Kau seharusnya tidak seperti ini!” balas Hyesoo tidak mau kalah. “Kau seharusnya tidak mengajakku. Kau seharusnya lebih memikirkan pacarmu, bukan aku!”

Jonghyun yang hendak membuka suara lagi terdiam mendengar kalimat terakhir Hyesoo. Hyesoo kembali menyebut soal ‘pacar’ Jonghyun, padahal ia sudah bilang kalau yang dimaksud Hyesoo bukan pacarnya. Dan Jonghyun sudah merasa cukup gila tentang masalah ‘pacar’ ini.

Hyesoo menggigit bibirnya, menyadari apa yang baru saja dikatakannya. Inilah sebab utama ia tidak ingin ikut dengan Jonghyun. Ia tidak punya hak ikut dengannya. Semakin keras Hyesoo menggigit bibirnya, semakin ingin pula air matanya keluar. Padahal ia sudah berusaha melupakan masalah ini dengan melanjutkan naskahnya. Tapi ternyata hal itu tidak bisa hilang dari kepalanya.

Jonghyun sontak panik melihat air mata yang mulai membasahi pipi Hyesoo. Ia buru-buru membungkuk untuk melihat gadis itu.

Y-ya, waeirae(ada apa)?” tanyanya sambil menyeka air mata Hyesoo. “Eo-eodi apha(mana yang sakit)?

“Aku… seharusnya tidak ikut denganmu,” Hyesoo bergumam. Ia langsung mengangkat kepalanya lalu menendang tulang kering Jonghyun keras. “KIM JONGHYUN BODOH! AKU BENCI!!!”

“ARRGH! Yaaa!!!”

Jonghyun meneriaki nama Hyesoo tapi gadis itu sudah terlanjur berlari dan menghilang dikerumunan orang-orang. Jonghyun mengacak rambutnya frustasi. Ada apa dengan Hyesoo? Kenapa ia bisa semarah ini?

Hyesoo mengusap matanya yang masih basah dengan tisu. Entah sudah berapa lama ia duduk dan menangis sendirian di halte bis yang berada tidak jauh dari Lotte World. Melihat langit yang mulai menggelap membuat Hyesoo yakin pasti sudah lama sekali ia berada disini.

Dan Jonghyun sama sekali tidak mencarinya.

Hyesoo langsung memukul kepalanya sendiri ketika gagasan itu terlintas di kepalanya. Dasar bodoh, umpatnya dalam hati. Ia benar-benar merasa bodoh hari ini. Bodoh karena mau mengikuti Jonghyun. Dan bodoh karena mau berharap lebih pada Jonghyun.

Rintik hujan mulai membasahi kota Seoul. Hyesoo meringis. Ia sama sekali tidak memperkirakan kalau hari ini akan hujan. Jelas saja, tadi pagi cuaca sangat cerah dan sekarang tiba-tiba hujan. Cuaca benar-benar mempermainkannya hari ini. Sama seperti Jonghyun yang selalu mempermainkan perasaannya.

Hyesoo mengelus bangku halte yang dingin. Entah kenapa, halte selalu mengingatkan Hyesoo pada seniornya itu. Saat Jonghyun pertama kali menggenggam tangannya, saat Jonghyun menemukannya ketika ia kabur dari rumah. Dan kini, saat ia menangisi Jonghyun. semuanya selalu di halte.

Bulir air mata Hyesoo kembali jatuh. Astaga, kenapa aku cengeng sekali?!

“HAN HYESOO!!!”

Hyesoo tersentak. Belum sempat ia menoleh, Kim Jonghyun sudah berdiri di depannya. Hyesoo mengerjap beberapa kali. Rambut dan baju Jonghyun basah karena menerobos hujan tadi membuat Hyesoo percaya ini bukan mimpi. Orang yang sejak tadi dipikirkannya sekarang benar-benar berada di depannya.

“Apa-apaan kau, tiba-tiba pergi setelah mengataiku bodoh!” omel Jonghyun dengan nada tinggi. “Ya, Han Hyesoo! Apa kau sadar, siapa sebenarnya yang bodoh? Kau marah padaku karena ada gadis yang mengantarkan bekal untukku kemarin? Kau benar-benar mengira itu pacarku, huh?!”

“T-tapi memang benar—”

“Bagaimana mungkin aku memacari Noonaku sendiri?!”

Hening, hanya rintik hujan yang terdengar setelah Jonghyun mengatakan kata ‘noona’. Jonghyun tidak percaya—bahkan setelah menanyai Youngmi penyebab sikap aneh Hyesoo—gadis itu cemburu pada Kim Songdam, noonanya sendiri.

Y-ya!” Jonghyun memusatkan perhatiannya kembali pada Hyesoo yang akhirnya membuka suara. “Kalau itu benar-benar Songdam Eonni… kenapa teman-temanmu tidak mengenalnya?”

Jonghyun menghela nafas berat. Ia berlutut dihadapan Hyesoo sambil menggenggam tangannya. Hyesoo tersentak dengan perlakuan Jonghyun yang tiba-tiba. Ia balas menatap Jonghyun walaupun sudah berusaha setengah mati menahan diri untuk tidak melakukannya. Tapi suara berat Jonghyun yang mendadak halus membuat Hyesoo luluh.

“Karena”—Jonghyun menarik nafas, lalu menatap Hyesoo lurus-lurus—“kau gadis pertama yang kukenalkan pada Noona.”

Sontak wajah Hyesoo semakin memanas. Ia semakin tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Hyesoo hendak meneriaki Jonghyun lagi sebelum ia merasakan tangan dingin Jonghyun yang justru menghangat. Bibir tipis Jonghyun menyunggingkan senyum khasnya, membuat Hyesoo semakin tidak bisa menahan air matanya lagi. Kali ini bukan karena kecewa, tapi bahagia.

Hyesoo mencondongkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Jonghyun. Ia menenggelamkan wajahnya di bahu lebar Jonghyun. Hujan membantu Hyesoo meredam suara tangisnya. Tapi bagaimanapun juga, Jonghyun masih bisa mendengar isakan gadis itu.

Tangan Jonghyun melingkari tubuh Hyesoo. Senang, hanya itu yang bisa dirasakannya. Senang karena ia yakin kesalahpahaman ini sudah selesai.

“Jadi, kencan kita bagaimana?” tanya Jonghyun tiba-tiba saat mereka berdua sibuk terdiam. “Sudah selesai?”

Hyesoo tidak menjawab. Atau lebih tepatnya, tidak ingin membuka suara.

“Kalau begitu, aku bisa minta jawabanmu ‘kan?”

“Ja-jawaban?”

“Jadi pacarku.” Jonghyun melepaskan pelukannya lalu kembali tersenyum pada wajah merah Hyesoo. “Na neo johahae(aku menyukaimu).

Hyesoo menggigit  bibirnya. Perasaan senang dan malu bercampur sekarang. Tanpa pikir panjang, ia kembali memeluk Jonghyun. Bahkan lebih erat dari sebelumnya.

“Tidak usah kujawab juga sudah tahu ‘kan?”

Jonghyun tersenyum mendengar bisikan dari Hyesoo. Tiba-tiba dadanya terasa hangat walaupun udara dingin sebenarnya sudah menusuk kulitnya. Tapi perasaan bahagia Jonghyun sontak sirna karena kakinya yang tidak sanggup menahan beratnya dan Hyesoo. Ia terjatuh, disusul dengan Hyesoo yang ikut jatuh menimpanya.

Aishh…” ringis Jonghyun seiring rasa perih menyelimuti sikunya yang terbentur lantai halte.

Alih-alih khawatir, Hyesoo justru menertawakan ekspresi kesakitan Jonghyun.

YA!!!” teriak Jonghyun kesal.

Hyesoo tidak berhenti, malah tertawa semakin keras. Jonghyun mendengus. Spontan ia menarik lengan Hyesoo dan langsung mengecup bibir gadis itu lembut. Hyesoo melotot dan hendak melepaskan diri dari Jonghyun. Tapi sentuhan laki-laki itu membuat Hyesoo menyerah.

Dinginnya udara sehabis hujan lambat laun menghilang. Digantikan kehangatan diantara mereka.

– End –

Annyeong~~ Huaaa akhirnya selesai juga fanfic ini! Fanfic yang dipost sejak aku freelance loh, sedih juga rasanya ㅜㅜ Maaf ya, kalau kelamaan ngepostnya. Dan waktu aku lihat fanfic ini pertama aku buat tanggal 2 January. Aaaah teacher macam apa aku ㅠㅠ Makasih buat para admin yang udah bantu ngeedit dan ngepost fanfic ini. Makasih juga buat reader yang udah setia nunggu aku ngepost ;D Aku bakal balik lagi dengan fanfic Jinyoung~ No lazy student and thanks for reading~ :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s