[chaptered/complete] Next To You – Chapter 6: I’m Your Senior (선배잖아)

Next To You

Title: Next To You

Casts: Kim Jonghyun (SHINee), Han Hyesoo (OC), and the other SHINee members

Genre: Romance, School, Friendship, Family

Length: Chapter (6 of 7)

Rating: PG+13

Previous Chapter:  Ch. 1, Ch. 2Ch. 3Ch. 4, Ch. 5

A/n: *keluar dari kantong polaroid(?) Jonghyun* apa masih ada yang nungguin fanficku yang ini? huehe maaf ya, kelamaan. biasalah, anak sekolah kan suka sibuk~ *di dorong ke jurang* nah, next chapter itu last chapter ya! silahkan bagi yang belum baca part sebelumnya, baca dulu aja selagi aku selesaiin chap. 7 xD side story yg lain bakal aku buat abis chap. 7, jadi bersabar dikit ya :]

Chapter 6: I’m Your Senior (선배잖아)

Youngmi sedang menikmati alunan musik dari earphone dan novel baru yang dibelikan oleh oppanya saat seseorang menepuk pundaknya. Youngmi melepas sebelah earphonenya lalu menoleh. Seorang anak laki-laki menunjuk pintu kelas mereka. Youngmi menatapnya aneh tapi tetap berjalan ke arah pintu, penasaran siapa yang menunggunya disana.

Jinki bersenandung kecil dan agak kaget saat Youngmi datang. Youngmi menoleh ke belakang lalu menatap Jinki lagi.

Seonsaenim mencariku?” tanya Youngmi. Ada sedikit rasanya senang mendatanginya. Jinki jarang mengobrol dengannya saat di sekolah. Tentu saja untuk menghindari pembicaraan yang tidak enak tentang mereka berdua jika terus bersama-sama saat di sekolah.

Jinki mengusap tengkuknya. Entah kenapa setiap ia ingin bicara dengan Youngmi di sekolah, terasa canggung. Mungkin karena takut orang lain menganggap mereka ada sesuatu yang di sembunyikan. Ia selalu menganggap orang lain memperhatikan mereka setiap Jinki ingin mengobrol dengan Youngmi berdua saja.

“Kulihat, kau dekat dengan Han Hyesoo belakangan ini,” Jinki mulai berbicara, mencoba agar nada suaranya tidak terdengar aneh.

Youngmi memiringkan kepalanya. Kalau dibilang dekat juga tidak terlalu. Tapi, akhirnya ia memilih mengangguk untuk mengiyakan. Jinki melanjutkan, “ibunya menelepon ke sekolah saat istirahat pertama tadi. Karena tidak ada yang mengangkat, aku yang bicara pada ibunya. Beliau bertanya, apakah Hyesoo ke sekolah hari ini?”

Jinki menatap Youngmi serius. Youngmi justru semakin bingung dengan sikap Jinki. Jelas-jelas saat pelajaran sebelum istirahat adalah pelajaran matematika. Dan mereka berdua sama-sama melihat bangku Hyesoo kosong. Youngmi pikir Jinki tahu kemana Hyesoo, tapi justru sebaliknya.

“Dia tidak menghubungimu seharian ini?” tanya Jinki. Youngmi menggeleng. “Aneh. Bahkan orangtua dan temannya pun tidak tahu.”

“Kenapa… orangtua Hyesoo tidak tahu kemana dia pergi?” Youngmi bertanya hati-hati. Jarang ia melihat raut wajah Jinki seserius ini, ditambah Hyesoo tidak mengatakan apa-apa padanya kemarin. Kalau Hyesoo sakit atau izin, orangtuanya seharusnya tahu hal itu.

“Apa kau tahu orang yang juga dekat dengan Hyesoo? Di kelas lain, mungkin?” tanya Jinki lagi. Ia memilih untuk tidak memberitahu Youngmi tentang surat Hyesoo yang di tinggalkan sebelum gadis itu pergi. Youngmi pasti akan khawatir kalau sampai tahu Hyesoo menulis surat seperti itu untuk orangtuanya.

Youngmi terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk. “Sepertinya aku tahu orangnya.”

*

“Bosaaaan!” Jonghyun mengerang.

Cuaca yang agak mendung membuatnya mengantuk. Belum lagi hari ini penuh dengan pelajaran-pelajaran membosankan, membuatnya semakin ingin pulang. Hari ini Jonghyun, Minho dan Kibum memilih untuk bermalas-malasan di sebuah kelas kosong karena Kibum merengek ingin mendapatkan feel saat menggambar suasana kelas. Jonghyun juga sedang malas berada di atap akhirnya menuruti permintaan Kibum. Tapi, ternyata dia justru mati bosan disini.

“Sana pergi mencari mainanmu,” usir Minho yang matanya masih sibuk dengan iphonenya.

Jonghyun mencibir. ‘Mainan’ yang dimaksud Minho adalah Hyesoo, dan Jonghyun tidak pernah menanggapi perkataan Minho itu. Ia masih bingung menganggap Hyesoo siapa.

“Aku tidak melihatnya seharian ini,” gumam Jonghyun. Sudah mendekati jam pelajaran terakhir tapi sosok Hyesoo sama sekali tidak dilihatnya. “Apa dia tidak masuk?”

Seonbae!”

Tiga siswa tahun terakhir itu menoleh ke arah pintu. Youngmi berdiri disana dengan nafas terengah. Sejak tadi ia mencari-cari Jonghyun hingga mengelilingi setiap ruang kelas duabelas tapi ternyata orang yang ia cari ada di sebuah kelas kosong.

Jonghyun mengernyit, mengingat-ingat siapa anak yang mendatangi mereka. “Oh, temannya Hyesoo!” Youngmi mengangguk dan langsung mendekati Jonghyun. Belum sempat ia menanyakan soal Hyesoo, Jonghyun justru langsung bertanya. “Hyesoo mana?”

Youngmi terkesiap. Jadi, ia juga tidak tahu?

Wae?” tanya Jonghyun saat Youngmi tidak juga bicara.

“Hyesoo… tidak masuk sekolah.” Youngmi memainkan jarinya, gugup. Entah apa yang harus ia lakukan setelah ini. Orang yang ia pikir lebih mengenal Hyesoo darinya saja tidak tahu. Kemana perginya anak itu?

“Dia sakit?” tanya Jonghyun lagi. “Aneh. Padahal aku masih bersamanya semalam.”

“Semalam?” ulang Youngmi. “Apa yang kau lakukan dengannya?”

Bukan hanya Youngmi yang menatapnya tidak biasa, Minho dan Kibum juga menatapnya demikian. Kibum memicingkan matanya lalu mendesis. “Iish… Kau sudah melakukan sesuatu tanpa menceritakannya pada kami?”

Ya! Aish… dia hanya menginap di rumahku karena sedang ada masalah!” jelas Jonghyun kesal hingga tidak menyadari apa yang barusan ia katakan. Jonghyun langsung mengatupkan mulutnya sebelum teman-temannya bertanya maksud dari perkataannya.

“Masalah apa sampai dia harus menginap di rumahmu?” Minho mengajukan pertanyaan yang justru Jonghyun hindari.

Jonghyun menggeleng cepat dan kembali ke Youngmi. “Dia sakit apa? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Dia juga tidak memberitahuku!” tegas Youngmi. Ia berdeham lalu melanjutkan. “Orangtuanya… bahkan tidak tahu dimana dia sekarang.”

Jonghyun membulatkan matanya. “Kau tidak bercanda, bukan?”

Wajah Youngmi menegang kemudian mengangguk pelan, itu setidaknya yang Jinki ceritakan. Gurunya itu menolak untuk menceritakan lebih. Youngmi mencoba membantu dengan menanyakan Jonghyun—yang ia rasa mungkin mengetahui sesuatu. Tapi sepertinya ia justru memperburuk keadaan.

Jamkkanman!” sahut Jonghyun tiba-tiba. Youngmi menoleh cepat. “Kau bilang, orangtuanya juga tidak tahu? Berarti… aiish!”

Youngmi memandang Jonghyun aneh. Seniornya itu mengacak rambutnya sendiri frustasi. Jonghyun teringat dengan cerita Hyesoo tentang masalah dengan orangtuanya. Ia tidak menyangka Hyesoo akan melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini. Apa yang akan dilakukan gadis itu diluar sana? Dimana gadis itu sekarang?

“Aku akan mencarinya.”

Youngmi membelakkan matanya. Jonghyun sedang mengotak-atik ponselnya setelah mengatakan itu kemudian segera memasukkannya kembali ke dalam saku.

Ya! Eodika[1]?!” Kibum berteriak saat Jonghyun tidak sengaja menabrak pintu kelas karena terlalu buru-buru.

“Mencarinya!” sahut Jonghyun sambil mengelus hidungnya yang terbentur. “Han Hyesoo. Aku harus mencarinya.”

Kibum melirik Minho sekilas. Sikap uring-uringan Jonghyun membuat mereka tidak tega meninggalkannya. Minho bangkit dari tempat duduk. Ia merenggangkan otot-ototnya lalu melirik Kibum yang sejak tadi memperhatikannya.

Mwohae? Ayo!” ajak Minho pada Kibum. “Bukankah kita harus membantu si aneh ini mencari gadisnya?”

Jonghyun tercengang melihat kelakuan Minho lalu tersenyum lebar. Meskipun dua temannya ini sering keterlaluan, tapi mereka tetap sadar siapa mereka dan tidak pernah menolak untuk menolong Jonghyun.

Iish, cengeng! Ayo, jalan!”

Jonghyun terkekeh pelan saat Minho dan Kibum menariknya dari belakang. Youngmi berlari keluar kelas sebelum mereka bertiga pergi.

Seonbae! Aku ikut!” teriak Youngmi.

Jonghyun mengibaskan tangannya tanpa berhenti berjalan mundur—karena tangannya masih di tarik oleh Minho dan Kibum. “Kau di sekolah saja. Mungkin Hyesoo akan mendatangimu nanti.”

Youngmi hanya mengangguk pelan dan memandangin sosok tiga seniornya yang sudah menghilang di ujung koridor. Ia menggigiti ujung kukunya karena gugup. Semoga tidak ada yang lebih buruk dari ini.

*

“HAN HYESOO!”

Jonghyun meneriaki nama itu entah yang keberapa kalinya. Ia sudah mengitari daerah sekitar sungai Han dua kali dan sama sekali tidak membawakan hasil. Jonghyun berhenti di sebuah taman saat melihat Minho dan Kibum duduk di bangku. Nafas mereka bertiga sudah terengah-engah. Jonghyun menatap kedua temannya dengan penuh harap, tapi Kibum menggeleng. Mereka sama sekali tidak mendapat hasil.

Hari sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Jonghyun tidak tega melihat Minho dan Kibum yang jelas sudah sangat kelelahan. Ia menghela nafas berat setelah menenggak air mineral yang disodorkan Minho.

“Kalian berdua, pulang saja duluan,” kata Jonghyun. “Aku bisa mencarinya sendiri.”

“Kau mengusir kami?” tuduh Minho. “Ya! Jangan sok jago! Kalau kau menyuruh kami pulang, kau juga harus pulang.”

Jonghyun menggeleng. Setiap ia membayangkan di mana Hyesoo akan tidur malam, ini perasaan ingin mencari gadis itu lagi selalu muncul. Jonghyun merasa ia harus menemukannya hari ini juga. Sampai ia tahu keadaan Hyesoo sekarang, Jonghyun tidak akan merasa tenang.

“Pulanglah,” suruh Jonghyun lagi. “Aku akan menghubungi kalian nanti.”

Minho akhirnya menyerah. Ia tidak bisa berbohong kalau ia memang sudah sangat lelah berkeliling seharian, begitu juga Kibum. Minho bangkit dari duduknya. Ia menepuk bahu Jonghyun untuk memberi temannya itu sedikit semangat.

Begitu Minho dan Kibum sudah pergi, Jonghyun menarik nafas dalam kemudian kembali mencari Hyesoo dengan penerangan lampu jalan.

*

Taemin baru saja keluar dari minimarket saat dirinya terkesiap melihat sosok gadis yang berdiri di seberang jalan. Taemin mengenal gadis itu. Ia mengenakan seragam sekolahnya dengan tas yang masih dipunggung. Rambut pendeknya yang dibiarkan tergerai membuat Taemin tidak asing dengan sosoknya.

Taemin menepuk pundak gadis itu saat ia sudah menyebrang jalan. Gadis itu mengalihkan pandangan dari kopi hangatnya ke wajah ceria Taemin.

“Oh, Lee Taemin,” sapa Hyesoo cuek. Pikirannya masih sibuk saat Taemin menyadarkan dirinya dari lamunan.

“Sendirian lagi?” tanya Taemin basa-basi.

Hyesoo mengangkat bahu. “Memang seharusnya aku bersama siapa?”

“Jonghyun seonbae, mungkin?” Taemin terkekeh sementara Hyesoo mendengus malas.

Ia memandang jalanan yang masih ramai dengan tatapan kosong. Sudah hampir pukul sembilan malam dan Hyesoo masih belum memikirkan dimana ia akan tidur. Ia menoleh, mematap Taemin yang masih berada disampingnya. “Taemin-a,”

Taemin menoleh. “Hmm?”

“Kau tahu penginapan yang hanya di pakai satu malam di dekat sini?”

“Huh?” Taemin mengernyit mendengar pertanyaan Hyesoo. Penginapan seperti itu hanya berlaku untuk love hotel. Dan pasti akan sangat berbahaya jika membiarkan gadis menginap disana sendirian walaupun hanya semalam. “Kau mau menginap? Kenapa tidak pulang ke rumah saja?”

Hyesoo hanya menggeleng menanggapi Taemin. Ia memilih untuk tidak bertanya hal itu lagi. Mungkin sebaiknya ia memang harus mencari sendiri. Hyesoo memandangi jalanan lagi. Pikirannya kembali melayang. Terlalu banyak yang dipikirkannya membuat Hyesoo justru tidak ingat apa yang ingin ia lakukan.

“Kadang, aku merasa aku ini aneh sekali,” ucap Hyesoo mengatakan isi hatinya. “Kadang aku berpikir, seperti apa rasanya mati. Bodoh, ya?”

“Mm, kau bodoh.” sahut Taemin cepat. “Kalau orang tahu seperti apa rasanya mati, mungkin kasus bunuh diri di dunia akan berkurang.”

Hyesoo tertawa kecil, menertawai dirinya yang bodoh. “Kau benar,” Ia melirik jam tangannya dan langsung tersontak kaget. “Astaga, aku harus pergi sekarang! Bye, Lee Taemin!”

Taemin memandangi punggung Hyesoo yang berlari menjauh. Ia melirik jam tangannya. Eommanya pasti sudah menunggu dirumah. Taemin beranjak dari tempatnya dan berniat pulang. Tapi, belum sempat ia melangkahkan kakinya, sosok senior yang sangat ia kenali berada di seberang jalan.

Jonghyun tidak bisa mengontrol nafasnya saat melihat siapa yang barusan mengobrol dengan Taemin. Ia tidak sedang bermimpi karena terlalu lelah. Itu benar-benar Hyesoo, gadis yang seharian di carinya. Dan dengan mudahnya Taemin membiarkan gadis itu pergi.

Ia berlari saat lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Jonghyun langsung mencengkram kaos Taemin tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.

“Kenapa kau membiarkannya pergi?!” bentak Jonghyun.

Taemin berusaha melepaskan diri dari Jonghyun, tapi seniornya ini menahannya terlalu kuat. “Bicara pelan-pelan! Siapa yang seonbae maksud?!”

“HAN HYESOO!” teriak Jonghyun lagi.

Mungkin karena sebagian tubuhnya yang sudah lelah membuatnya lengah saat Taemin berhasil mendorongnya. Jonghyun terhuyung, tapi untungnya ia masih bisa menahan tubuhnya sendiri. Taemin mengacak rambutnya sendiri kesal.

Seonbae-ya!” seru Taemin. Ia ikut-ikutan tidak memperhatikan sekeliling karena Jonghyun. Ia sadar orang-orang yang lewat pasti memperhatikan mereka, tapi Taemin membiarkannya. “Kau tidak malu, menubruk orang lain di depan umum dan langsung marah-marah?! Ya! Kalau Hyesoo yang kau cari, pergi dan kejar dia! Kau laki-laki, bukan?!”

Jonghyun tersentak. Ini pertama kalinya ia melihat Taemin marah, terlebih lagi marah padanya. Ia tidak pernah menyangka kalau adik kelas yang sering di mainkannya sekarang malah menceramahinya.

Gerimis kecil mulai membasahi Seoul, Jonghyun menengadah. Hujan. Ia kembali teringat dengan Hyesoo. Kalau ada petir, bagaimana? Pandangan Jonghyun kembali pada Taemin. Anak itu sudah terlalu kesal dengan sikap Jonghyun yang gegabah dan akhirnya memilih segera pulang. Udara sudah semakin dingin dan Jonghyun harus kembali menyelesaikan tugasnya: menemukan Hyesoo.

*

Hyesoo memeluk tubuhnya sendiri untuk menahan dingin. Sudah lewat jam sepuluh malam dan ia masih berada di halte bus. Bukan karena sedang menunggu bus atau apa, tapi ia harus menunggu hujan sedikit reda sampai Hyesoo bisa mencari penginapan untuk malam ini. Hyesoo menunduk. Hujan semakin deras dan ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan sekarang. Pulang? Tidak mungkin!

Sepasang sepatu hitam yang basah kini berada di depan Hyesoo. Hyesoo mengangkat kepalanya, melihat siapa yang berdiri dihadapannnya. Ia tersontak kaget. Tiba-tiba ketakutan melanda dirinya. Sorot mata Jonghyun yang menatapnya tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata. Laki-laki ini marah. Hanya itu yang terlintas di kepala Hyesoo.

“… Kim Jonghyun—”

“Anak bodoh,” ucap Jonghyun serak. Akibat ia hanya memakai kemeja berlapis blazer sekolah saat mencari Hyesoo, dingin dari air hujan yang mengguyurnya, membuat Jonghyun tidak bisa berlagak sok kuat lagi sekarang. Ia kedinginan. Tapi rasanya jauh lebih baik melihat Hyesoo berada di depannya. Dan, gadis itu masih baik-baik saja.

Jonghyun menarik pergelangan tangan Hyesoo, menyuruhnya berdiri dan langsung memeluk tubuhnya. Ia sadar, ia tidak bisa membagi kehangatan—justru sebaliknya. Tapi tidak ada yang Jonghyun inginkan sekarang selain merasakan keberadaan Hyesoo. Ia merindukan gadis ini walaupun baru sehari tidak bertemu dengannya.

“Jangan pergi,” bisik Jonghyun lirih. Tanpa ia sadari, air mata mengalir melewati pipinya. Perasaannya campur aduk membuat emosinya tidak bisa ditahan lagi. Ia memeluk Hyesoo semakin erat. “Aku akan melakukan apapun. Asal kau jangan pergi lagi…”

Hyesoo memejamkan matanya. Ia membalas pelukan Jonghyun sambil menenggelamkan kepalanya di pelukan mereka.

Mianhae.”

*

Songdam sedang mengunyah keripiknya saat pintu rumah terbuka. Ia menoleh ke bekalang untuk melihat siapa yang baru saja masuk. Jonghyun melepaskan sepatunya sambil terus menggenggam tangan Hyesoo. Ia masih takut kalau melepaskan Hyesoo sedetik saja, gadis itu akan menghilang lagi.

“Jonghyun-a! Kau kehujanan?” seru Songdam kaget saat melihat adiknya yang pulang basah kuyup. Pandangan Songdam beralih ke Hyesoo yang keadaannya juga sama dengan Jonghyun. “Aigoo… apa kalian lupa membawa payung? Cepat mandi sebelum kalian kena flu!”

Jonghyun melirik Hyesoo. Ia masih tidak mau melepaskan tangan gadis itu. Perasaannya masih takut kalau Hyesoo akan pergi lagi. Jonghyun menggenggam tangan Hyesoo lebih erat, membuat Songdam sadar situasi diantara mereka.

“Pacarmu akan mandi di kamarku,” kata Songdam cepat. “Iya, kan? Aku akan meminjamkanmu bajuku nanti.”

Hyesoo memandang Jonghyun yang masih tidak melepaskan pandangannya. “Aku akan ikut eonni. Kau mandilah dulu.”

Jonghyun menyerah dan akhirnya mengangguk. Ia langsung menuju kamarnya, sementara Songdam mengajak Hyesoo ke kamarnya.

*

Hyesoo mendapati Songdam yang sedang asyik membaca novel di tempat tidurnya. Ia baru saja mandi dan memilih untuk mengenakan bajunya sendiri. Rasanya aneh memakai baju orang lain, walaupun Songdam tidak mempermasalahkannya.

“Sudah selesai?” tanya Songdam yang mengangkat kepala dari novelnya. “Mau minuman hangat? Kau lebih suka teh atau kopi?”

“Ah, tidak usah eonni.” tolak Hyesoo halus.

Ia duduk di samping Songdam dan gadis itu langsung mendekati Hyesoo. “Ya, ayo ceritakan hubunganmu dengan adikku.”

Hyesoo terkesiap. “Ani… kami tidak ada hubungan apa-apa.”

Iiishgeotjimal.” desis Songdam. “Tidak mungkin dia seperti itu kalau kau bukan siapa-siapa.”

Jinjjayo. Aku hanya adik kelasnya,” seketika itu Hyesoo mengatup mulutnya. Ia memikirkan kata-katanya sendiri. Ah, benar, hanya adik kelasnya.

“Ck, anak itu lama sekali bertidak,” Songdam bergumam lalu balik antusias lagi. “Kalau Jonghyun memintamu jadi pacarnya, kau akan jawab apa?”

Belum sempat Hyesoo membalas kata-kata Songdam, pintu kamar diketuk. Jonghyun membuka pintu dengan rambut yang masih basah. Hyesoo menggigit bibirnya, berharap Jonghyun tidak mendengar pembicaraannya dengan Songdam tadi.

Jonghyun memandangi wajah Hyesoo dan Songdam bergantian. “Han Hyesoo.” Ia memanggil Hyesoo sambil mengibaskan tangannya, menyuruh gadis itu ikut dengannya. Tapi Songdam malah langsung memeluknya dari samping.

“Hyesoo sekarang punyaku!” rengeknya.

Tapi Jonghyun sama sekali tidak terhasut oleh aegyo Songdam. Raut wajahnya masih sama, datar. Hyesoo memilih untuk mengikuti Jonghyun sebelum seniornya itu kembali emosi. Mereka pergi ke kamar tamu dengan tas Hyesoo yang dibawa oleh Jonghyun. Jonghyun duduk di tepi ranjang lalu meletakkan tas Hyesoo di lantai.

“Daripada kau menginap di tempat lain, tidurlah disini,” kata Jonghyun, datar.

Hyesoo mengangguk. Ia bingung apa yang harus dikatakannya. Kalau salah sedikit, Jonghyun pasti akan menumpahkan emosinya. Setelah menarik nafas sebentar, Hyesoo memilih duduk di sebelah Jonghyun.

“Terimakasih untuk semuanya,” ucap Hyesoo. “Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih padamu.”

“Kalau begitu berhentilah membuatku khawatir!” seru Jonghyun. Sejak tadi ia berusaha menahan emosi agar tidak marah-marah pada siapapun. Tapi sekarang tidak bisa lagi. Nafasnya memburu dan Jonghyun berusaha keras untuk meredakan amarahnya. “Kau pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku. Kau tahu, seberapa khawatirnya aku mencarimu seharian?”

Hyesoo menunduk saat Jonghyun menceramahinya. Ia tahu ia salah. Tapi Jonghyun seharusnya mengerti situasinya, bukan memarahinya seperti ini.

Jonghyun bangkit dari duduknya sambil mendesah kesal. Ia berjalan ke sisi lain kamar tanpa ada niat apapun lalu berdiri di hadapan Hyesoo, menatap gadis itu datar. Hyesoo menengadah, menunggu apa yang akan dikatakan Jonghyun. Tapi laki-laki itu justru diam tanpa melakukan apapun.

“Tidurlah,” ucap Jonghyun akhirnya. “Jalja[2].”

Hyesoo memandangi pintu yang baru saja ditutup. Ia menghela nafas lemah. Sekarang, tidak ada lagi orang yang berpihak padanya.

*

Entah sudah keberapa kalinya Hyesoo menguap pagi ini. Matanya ingin sekali menutup untuk beberapa menit. Andai ini adalah rumahnya, ia pasti sudah tidur lagi sampai siang.

Semalaman, Hyesoo tidak bisa tidur nyenyak. Ia terus memikirkan Jonghyun. Bagaimana ia akan menyapa Jonghyun pagi ini? Apa akan secanggung semalam? Atau justru sebaliknya, Jonghyun sudah seperti biasa sebelum ia pergi dari rumah?

Hyesoo berjalan lunglai ke arah pintu kamar. Kalau Jonghyun tidak bisa bersikap seperti biasa, maka ia yang harus memulainya nanti! Hyesoo mengedarkan pandangan, mencari para pemilik rumah. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat. Langkahnya sontak terhenti saat ingin memasuki ruang makan. Jonghyun ada disana. Rambutnya masih berantakan saat ia sedang membuka pintu kulkas, mencari apa yang bisa ia makan untuk sarapan. Menyerah, Jonghyun menutup kembali kulkas lalu beranjak untuk menelepon Songdam yang sudah pergi pagi-pagi sekali. Ia terkesiap, kaget melihat sosok Hyesoo yang sudah ada di belakangnya sejak tadi.

“Ah, annyeong!” sapa Hyesoo kaku. Tapi Jonghyun tidak membalas sama sekali. Ia berjalan melewati Hyesoo untuk mengambil air mineral. Tidak menyerah, Hyesoo akhirnya mengikuti langkah Jonghyun. “Jonghyun-a, Songdam eonni—”

“Sudah pergi tadi pagi,” Jonghyun memotong perkataan Hyesoo sebelum ia sempat meminum airnya. “Ia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk kita. Jadi, mungkin kita harus membuatnya sendiri.”

Hyesoo mengangguk-angguk, mengerti. Ralat, belum sepenuhnya ia mengerti. Ia masih tidak paham dengan sikap Jonghyun sekarang. Masih kaku, sama seperti semalam. Separah itukah apa yang ia perbuat hingga Jonghyun masih bersikap dingin padanya?

Jonghyun meletakkan gelas kosongnya ke atas meja. Ia memejamkan mata lalu menghela nafas berat. Rasanya aneh mendiami Hyesoo seperti ini. Ia seperti bersama orang asing, bukan dengan adik kelas yang suka marah-marah yang dikenalnya. Jonghyun melirik Hyesoo. Gadis itu terlihat tengah berpikir sambil menggigiti ujung kukunya. Jonghyun memanjangkan tangannya, mencoba mengambil botol selai di dalam lemari.

“Tentang yang semalam,” Jonghyun membuka mulutnya, memulai pembicaraan. “Maaf, aku terlalu terbawa emosi.”

Hyesoo tersentak, agak kaget saat Jonghyun tiba-tiba mengajaknya bicara. Ia memperhatikan Jonghyun yang sedang mengamati label selai yang diambilnya. Jonghyun melirik Hyesoo tepat saat ia masih memperhatikan seniornya itu. Hyesoo buru-buru mengangguk, mengiyakan pernyataan Jonghyun.

Jonghyun membuka tutup selai itu, mencicipinya sedikit. “Kau… marah padaku?”

Huh?”

Ani… kupikir karena aku memarahimu kemarin, hari ini kau marah padaku,” jelas Jonghyun tanpa mengalihkan pandangan dari botol selai cokelatnya.

Hyesoo langsung menggeleng cepat. “Aniya! Kemarin… aku juga salah. Aku mengerti kenapa kau marah. Jadi—”

Perkataan Hyesoo terhenti dan Jonghyun malah tertawa geli. Hidungnya baru saja dinodai oleh selai cokelat dari Jonghyun. Perlu beberapa detik bagi Hyesoo hingga akhirnya sadar apa yang baru saja dilakukan seniornya itu.

Ya! Mwohaneungoya[3]?!” Hyesoo meringis sambil membersihkan hidungnya sendiri dengan air. Ia mendelik ke arah Jonghyun yang masih belum berhenti tertawa. “Seonbae-ya!”

“Kau harusnya melihat wajahmu tadi!” Jonghyun tergelak. “Serius sekali! Astaga, wajahmu nyaris pucat!”

Iishsikeuro[4]!” seru Hyesoo kesal. Ia nyaris menangis karena Jonghyun masih bersikap dingin padanya beberapa saat lalu. Dan tiba-tiba orang ini malah menjahilinya dengan selai?! Hyesoo bersumpah tidak akan percaya kata-katanya lagi.

Ya, ya, geumanhae[5]!” Jonghyun yang masih tertawa geli karena teringat wajah serius Hyesoo sekarang berusaha menghindari gadis yang sedang membalas dendam padanya itu. Hyesoo terus berjinjit untuk mengotori wajah Jonghyun dengan selai, tapi laki-laki ini terus saja menghindar.

Ya! Tidak adil!” rengek Hyesoo saat Jonghyun sudah menutup selainya kembali.

Jonghyun hanya nyengir lebar lalu mengambil sebungkus roti tawar dari lemari makanan. Ia menoleh pada Hyesoo. “Mau? Aku sedang malas membuat makanan yang merepotkan.”

Hyesoo mengangguk mantap sebelum Jonghyun mengambil beberapa lembar roti yang kemudian di letakkannya di toaster. Jonghyun menyandarkan diri di depan konter, berdiri di sebelah Hyesoo sambil menunggu roti mereka matang. Gadis di sampingnya hanya bersenandung kecil sembari menunggu, sedangkan Jonghyun terlibat dilema dengan dirinya sendiri. Sebuah pikiran yang mungkin akan dianggap Hyesoo gila tiba-tiba terlintas saat ia bangun tadi. Apa ia harus mengatakan pikirannya ini pada Hyesoo? Jonghyun membatin. Resiko sudah pasti akan diterimanya nanti, tapi mungkin akan lebih berat jika tidak dikatakan.

Jonghyun menghela nafas berat. Ia menoleh pada Hyesoo yang tengah sbuk dengan pikirannya sendiri, entah apa, kemudian Jonghyun berdeham.

Hyesoo menoleh, menunggu apa yang ingin dikatakan Jonghyun. Laki-laki itu mengelus tengkuknya, masih ragu dengan apa yang ingin dikatakannya.

“Hyesoo-ya,” panggil Jonghyun akhirnya. Ia akhirnya memantapkan diri dengan keputusannya. “Ada yang ingin aku tanyakan.”

Hyesoo mengangkat alisnya. “Apa?”

“Tentang orangtuamu…” Jonghyun mulai pembicaraannya. Ia menatap Hyesoo dan jelas sekali terlihat perubahan ekspresi wajahnya. Jonghyun tetap menatap Hyesoo dengan serius, agar gadis itu tidak menganggap ini candaan lagi. “Sampai kapan kau akan seperti ini?”

Hyesoo memainkan kukunya sambil menunduk, menghindari tatapan langsung dari Jonghyun. “Aku… aku tidak tahu.” Setelah mendapat keberanian lagi, Hyesoo kembali menatap Jonghyun. “Apa kau dan Songdam eonni keberatan kalau aku disini?”

“Tidak, bukan itu,” jawab Jonghyun cepat. “Aku hanya tiba-tiba memikirkan ini.”

“Memikirkan apa?”

Jonghyun menghela nafas lagi. Ia pernah berjanji untuk melindungi Hyesoo, bagaimana pun caranya. Dan kini, ia harus menepati janjinya tersebut. “Aku berpikir untuk menemui orangtuamu besok.”

“A-apa?” tanya Hyesoo, kaget. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Apa ia tidak salah dengar? Jonghyun ingin menemui orangtuanya? Ia buru-buru berdeham agar suaranya tidak terdengar aneh lagi. “Untuk apa?”

“Menjadi penengah untuk kalian”—Jonghyun berhenti sebentar lalu melanjutkan—”untuk meluruskan masalah kalian. Aku tahu kau tidak akan bicara sebelum orangtuamu yang memulai. Tapi kalau mereka tidak tahu dimana anaknya, bagaimana bisa?”

Hyesoo bisa merasakan tatapan Jonghyun yang menuju ke arahnya, tapi ia memilih untuk menunduk. Ia tidak bisa mengingkari kalau kata-kata Jonghyun benar. Walaupun Hyesoo ingin sekali kembali ke rumahnya, kembali menjadi anak keluarga Han yang dulu, tapi keegoisan menahannya untuk tetap merajuk.

Sampai kapan?

Terdengar dehaman Jonghyun yang membuat Hyesoo kembali tersadar dari lamunanya. Jonghyun melanjutkan penjelasannya. “Kalau kau ingin membenciku karena aku terlalu egois, tidak masalah. Aku akan tetap menemui mereka besok.”

“Tidak, jangan!” sela Hyesoo cepat sebelum Jonghyun kembali memotong perkataannya. Refleks ia menahan lengan Jonghyun, membuat laki-laki itu sedikit tersentak. “Kau tidak punya hak mencampuri urusanku!”

“Memang tidak,” sahut Jonghyun. Ia menghindari tatapan langsung dengan Hyesoo. Ada sedikit perasaan sesak saat Hyesoo mengatakan itu. Tidak punya hak. Seharusnya ia sadar hal yang satu itu. Bagaimana pun juga perkataan Hyesoo ada benarnya. “Karena itu, aku tidak masalah kalau kau membenciku setelah ini. Aku ‘kan hanya seniormu, aku tidak akan ambil pusing kalau kau menjauhiku.”

Hyesoo terkesiap. Perlahan tangannya melepaskan lengan Jonghyun.Dia hanya seniorku. Hyesoo berkata dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Aku memang harus mengingat, aku hanya adik kelasnya.

Suara toaster yang berbunyi nyaring menyadarkan mereka berdua dari pikiran masing-masing. Setelah itu, mereka menikmati sarapan tanpa ada yang mengajak bicara sama sekali.

*

Songdam mengerutkan kening sementara adiknya terus saja bicara di seberang telepon. Ia menghela nafas, tidak mengira Jonghyun bisa merencanakan hal seperti ini. ia melirik jam dinding yang berada di ruang tengah. Sepertinya satu jam cukup, pikir Songdam.

Ne, ne,” jawab Songdam saat Jonghyun bertanya apa ia bisa melakukan yang dikatakannya. “Jam sembilan, bukan? Arasseo.”

Gomawo, noona-ya! Aku janji akan membalas kebaikanmu nanti!”

Songdam hanya meringis saat Jonghyun menutup teleponnya. Ia segera masuk ke kamar tamu yang digunakan Hyesoo untuk tidur. Anak itu masih terlelap tapi Jonghyun sudah memintanya untuk membangunkan Hyesoo. Songdam menggoyangkan tubuh Hyesoo pelan, sambil memanggil namanya.

“Hyesoo-ya,” panggil Songdam. Hyesoo mulai terbangun. Ia mengerang kecil saat merasakan seseorang terus menggoyangkan tubuhnya. “Hyesoo-ya, bangun… Sudah pagi.”

Hyesoo mengerjap. Ia menyipitkan mata sambil memperhatikan sekeliling dan berusaha terbiasa dengan cahaya matahari yang menerobos tirai tipis di kamar itu. Hyesoo langsung tersentak saat menyadari Songdam yang membangunkannya. Ia buru-buru merapikan sambutnya sendiri lalu duduk di tepi tempat tidur.

M-mianhae,” kata Hyesoo malu. “Mianhae, aku tidak sadar sudah jam segini.”

Gwenchanha. Sekarang, mandi dan ganti pakaianmu. Aku harus membawamu ke suatu tempat.”

Hyesoo mengernyit, menatap Songdam tidak mengerti. “Kemana?”

*

Jonghyun terus berjalan berputar-putar dan akhirnya berhenti. Ia berbalik, menghadap rumah dengan pagar hitam dan cat dinding dominan putih. Ia memantapkan dirinya sendiri sebelum menekan bel rumah tersebut. Ini keputusannya. Apapun yang akan terjadi ia harus menghadapinya.

Nuguseyo?”

Jonghyun tiba-tiba menjadi semakin gugup. Ia menarik nafas dan akhirnya membalas suara seseorang dibalik intercom. “Kim Jonghyun imnida.” kata Jonghyun akhirnya. “Saya senior Han Hyesoo di sekolah.”

Untuk beberapa saat, suara wanita yang tadinya menyambut Jonghyun terdiam. Tak lama kemudian, suara itu terdengar lagi.

Jamkkanmanyo.”

Jonghyun akhirnya melangkahkan kaki masuk ke rumah keluarga Han. Kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya. Wajah wanita itu terlihat lesu dan lingkaran hitam di bawah matanya mengatakan ia memang kurang istirahat dan sering menangis. Jonghyun mencoba agar senyumnya tidak terlihat kaku saat wanita itu mempersilahkannya duduk.

Jeogi[6]… Hyesoo sedang tidak ada di rumah,” kata Nyonya Han. “Kalau boleh tahu, ada perlu apa kau datang kesini?”

Ani, saya memang tidak ingin bertemu Hyesoo,” elak Jonghyun halus. “Saya justru ingin bicara dengan Anda dan Tuan Han.”

Nyonya Han mengernyit. “Bicara tentang apa?”

“Tentang Hyesoo,” jawab Jonghyun singkat. Ia berdeham, memikirkan darimana ia akan memulai hingga Nyonya Han bertanya lebih dulu.

“Kau sudah tahu, bukan, kenapa Hyesoo tidak ada di rumah?” tanya Nyonya Han hati-hati. kalau Jonghyun tidak kesini untuk mencari Hyesoo, berarti ia tahu alasan Hyesoo pergi. “Maksudku, alasannya yang lebih detail.”

Ne, arayo,” jawab Jonghyun yakin. Ia menegakkan tubuhnya untuk bicara serius. “Aku juga tahu dimana dia sekarang.”

Jeongmalyo?” Nyonya Han langsung menatap mata Jonghyun lurus. Ia mendekati laki-laki yang kelihatannya seumuran dengan Hyesoo dengan tatapan penuh harap. “Eodiya?”

Belum sempat Jonghyun menjawab, pintu rumah tiba-tiba terbuka. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu masuk ke dalam. Ia agak kaget saat menyadari ternyata rumahnya kedatangan tamu. Jonghyun buru-buru berdiri dan membungkuk pada pria berkacamata itu.

Annyeonghaseyo, Kim Jonghyun imnida,” sapanya. Jonghyun menjadi semakin gugup karena merasa kalau pria ini adalah ayah Hyesoo. Pria ini yang pernah menampar Hyesoo, batin Jonghyun. Tapi pikiran buruk segera ia buang jauh-jauh mengingat alasannya datang kesini.

Nyonya Han segera menjelaskan siapa Jonghyun dan kenapa ia tiba-tiba datang kemari pada Tuan Han. Pria itu mengangguk-angguk lalu memilih ikut mendengarkan apa yang ingin Jonghyun sampaikan tadi.

“Hyesoo akan datang ke sini nanti, kalian tidak perlu khawatir,” kata Jonghyun. Tapi perkataannya belum bisa memperbaiki raut cemas dari wajah Nyonya Han. Wanita itu masih menunggu Jonghyun bicara lebih banyak tentang putrinya, jadi ia memilih untuk diam sementara. “Saya hanya ingin kalian lebih mengerti tentang Hyesoo ke depannya, agar ia tidak melarikan diri seperti ini lagi.”

Neo mwoya[7]? Jangan sok tahu tentang keluarga kami!” bentak Tuan Han tiba-tiba. Ia tidak terima kalau ada orang luar yang ikut campur masalah mereka. Walaupun Jonghyun termasuk dekat karena ia adalah senior Hyesoo, tapi orang lain tetap saja orang lain. “Kenapa kau bicara seperti itu? Hyesoo yang menyuruhmu?”

Anieyo,” jawab Jonghyun yang berusaha untuk tenang. “justru dia awalnya menahan saya untuk tidak kemari.”

“Jadi, selama beberapa hari ini kau bersamanya?” Suara Tuan Han semakin meninggi saat Jonghyun membantah perkataannya. “Atau malah kau yang menghasutnya untuk pergi?!”

Yeobo, tenanglah…” cegah Nyonya Han sambil menahan tangan suaminya yang sudah bangkit dari sofa. Tapi Tuan Han tidak mengubrisnya. Ia tetap menatap Jonghyun, kesal.

Jonghyun mulai tidak bisa duduk tenang lagi. Ia menengadah, balas menatap Tuan Han. “Anda tidak percaya kalau itu keputusannya sendiri?”

“Aku mengenal Hyesoo lebih dari enam belas tahun!” tegas Tuan Han. “Dia anak baik yang penurut, tidak mungkin ia pergi seperti ini!”

“Maaf kalau saya lancang. Tapi, jika Anda mengenalnya lebih dari enam belas tahun, seharusnya Anda lebih tahu kebutuhannya,” balas Jonghyun semakin geram. Ia tidak suka kalau ada yang membentaknya padahal ia sendiri bicara baik-baik. Tuan Han hendak membalas kata-kata Jonghyun lagi, tapi anak ini melanjutkan perkataannya lebih dulu. “Alasan kenapa dia pergi, apa yang ia inginkan dari kalian agar ia kembali, apa yang ia rindukan selama ini, seharusnya Anda lebih tahu daripada saya tentang itu.”

Tuan Han memilih untuk bungkam. Baru kali ini ada seorang siswa sekolah menengah yang menasihatinya. Ia melirik Nyonya Han yang masih duduk di sampingnya. Nyonya Han tertunduk, memikirkan kata-kata Jonghyun barusan. Sebagai ibu, ia merasa malu pada dirinya sendiri. karena terlalu sibuk bekerja dan terus bertengkar dengan suami, membuatnya melupakan kalau masih ada anak yang harus di perhatikannya. Putri yang tetap harus di berinya kasih sayang. Tapi Nyonya Han justru melupakan semua itu.

Bel rumah tiba-tiba berbunyi. Orang-orang yang sedang berada di ruang tengah langsung menoleh kearah pintu karena refleks, kecuali Nyonya Han yang sibuk mengusap air matanya. Tuan Han beranjak dan segera membukakan pintu tanpa bertanya siapa yang datang lewat interkom.

Sesosok gadis berambut pendek dengan wajah memerah yang menahan tangis berada di depan pintu. Tuan Han tersontak. Ia tidak percaya kalau gadis yang menekan bel itu adalah putrinya sendiri.

“Hyesoo-ya!” seru Nyonya Han saat menyadari siapa yang datang. “Uri Hyesoo[8]!”

Eomma!” isak Hyesoo. Gadis itu tidak bisa membendung air matanya lagi. Tapi ia tetap tidak ingin menangis karena masih ada Jonghyun di rumahnya. Hyesoo buru-buru mengusap air matanya walaupun tetap akan keluar lagi. “Jibe kagoshipeo[9].”

Nyonya Han langsung memeluk putrinya yang sudah beberapa hari menghilang. Pelukan yang hangat yang sudah lama tidak Hyesoo rasakan dari ibunya. Ia semakin terisak dalam pelukan Nyonya Han tapi tetap berusaha untuk bicara lagi.

“Aku ingin pulang…” kata Hyesoo tanpa melepaskan pelukannya. “Aku ingin seperti dulu lagi, saat oppa… saat oppa masih ada. Aku rindu kita yang dulu.”

Nyonya Han mengelus lembut rambut putrinya lalu mengangguk. “Ne… Eomma akan berusaha membuat kita seperti itu lagi. Eomma janji.”

Jonghyun hanya bisa memperhatikan pemandangan itu dengan mulut tertutup. Ia membuat janji dengan dirinya sendiri, setelah pulang nanti akan langsung melepon orangtuanya yang bekerja di luar negeri. Walaupun Tuan Han tidak ikut memeluk Hyesoo, Jonghyun juga bisa melihat ekspresi pria itu yang terlihat bahagia—tapi berusaha disembunyikannya—melihat kepulangan putrinya. Jonghyun berdeham, meminta perhatian dari keluarga itu.

“Karena Hyesoo sudah pulang, saya permisi dulu,” katanya.

“Ah, ne. terimakasih, Jonghyun-ssi,” ucap Nyonya Han agak malu karena hampir melupakan kalau Jonghyun masih ada di rumahnya. Begitu juga Hyesoo. Ia hanya bisa mengangguk saat Jonghyun meminta izin pulang dengan wajah memerah.

Jonghyun langsung beranjak keluar rumah dan menghampiri Songdam yang sedang bersandar di samping mobilnya.

“Sudah selesai?” tanya Songdam begitu mereka berdua masuk ke dalam mobil. Jonghyun hanya bergumam mengiyakan.

Sementara Songdam menyetir—karena Jonghyun bilang ia terlalu lelah untuk membawa mobil sekarang—adik laki-lakinya justru sibuk memperhatikan jalanan dari balik jendela.

Waeyo?” tanya Songdam yang menyadari sikap aneh Jonghyun karena ia tidak bercerita apa-apa setelah keluar dari rumah Hyesoo.

Jonghyun hanya menggeleng walaupun ia tahu noonanya tidak akan percaya kalau ia tidak apa-apa. Untuk ke sekian kalinya, Jonghyun menghela nafas. Ia masih memikirkan apa yang baru saja dilakukannya.

“Hyesoo sudah pulang ke rumah… mungkin setelah ini akan sepi, ya?”

To Be Continued

Footnote:

[1] Eodika?: Mau kemana?
[2] Jalja: Selamat tidur
[3] Mwohaneungoya?: Apa yang kau lakukan?
[4] Sikeuro: Berisik
[5] Geumanhae: Berhenti
[6] Jeogi: maaf/permisi
[7] Neo Mwoya?: Apa-apaan kau?
[8] Uri Hyesoo: Hyesoo-ku
[9] Jibe Kagoshipeo: Aku ingin pulang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s