[2shot] Enchanted – Chapter 2 (END)

Enchanted

Title: Enchanted
Author: Ai Lee
Casts: Jung Jinyoung (B1A4), Han Eunjoo (OC), Yoon Gia (OC),  and the other B1A4 members
Genre: Romance, School
Length: Chapter – 2 of 2
Rating: PG+13
Author’s Note: Annyeonghaseyo~ Ini postingan pertamaku sebagai author tetap disini loooh~~ ^^ Akhirnya Enchanted selesai~~ ㅠ ㅠ  Maaf ya, para Gongchan biased, aku ga bisa masukin Gongchan disini. Bingung jadiin dia apa. Tapi next fanfic tentang B1A4 dia pasti masuk kok ^^ Fanfic ini udah dipost di blog pribadi author
http://foreverispossible.blogspot.com/ Don’t be silent reader or plagiator. I will sue you! Enjoy~ ;]

Chapter 2

“Hana-ya!”

Gadis yang bernama Hana itu menoleh saat namanya dipanggil. Sandeul berlari kecil dengan senyum lebar ke arah Hana. Ia menyamakan langkahnya dengan Hana yang mulai keluar dari gerbang sekolah.

“Menunggu lama?” tanya Sandeul tanpa menghentikan langkahnya.

“Tidak juga,” jawab Hana. Tiba-tiba ia berhenti saat teringat yang ingin ia tanyakan pada Sandeul tadi. “Ah, kemarin. Aku masih tidak mengerti.”

“Tentang apa?” Sandeul menoleh, mulai tertarik kearah pembicaraan gadisnya. Walaupun kadang ia agak geli mendengar aksen Hana tiap ia bicara dengan bahasa Korea.

“Jinyoung seonbae(senior),” Hana menjawab pertanyaan Sandeul sambil mulai berjalan lagi. “Kau belum menceritakan semuanya kemarin. Kenapa dia bisa memarahimu begitu?”

Sandeul mengangkat bahunya cuek. “Molla(tidak tahu). Dia tiba-tiba marah saat pulang sekolah.”

Hana hanya bisa mengangguk-angguk, mengerti. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sosok yang batu saja dibicarakannya dengan Sandeul. Hana langsung menoleh, matanya menyipit, memastikan siapa yang dilihatnya. “Oh, itu Jinyoung seonbae ‘kan?”

Sontak Sandeul mengikuti arah pandangan Hana. Jinyoung memang ada di seberang jalan tempat mereka berada. Tapi ada satu hal yang berbeda saat Sandeul melihat kakak sepupunya itu. Jinyoung berjalan cepat dengan menarik paksa seorang gadis. Sandeul memperhatikan Jinyoung hingga menghilang diujung jalan sambil melongo.

Daebakida(ini hebat)!” puji Sandeul sambil bertepuk tangan sendiri hingga tidak menyadari kalau Hana memperhatikannya dengan tatapan aneh. “Sekarang, aku bukan lagi tempat pelampiasan Jinyoung hyungKajja(ayo), Hana! Kita bermain-main dulu.”

*

Ya, Jung Jinyoung! Ini namanya penculikan! Aku belum bilang pada ibuku kalau akan pulang terlambat!” omel Eunjoo tapi tetap tidak bisa mengubah jalan pikiran Jinyoung yang malah menyeretnya ke rumahnya. “Ya! Aku bicara padamu!”

“Kalau begitu, telepon orangtuamu dan katakan kau harus belajar di rumah temanmu hari ini.” balas Jinyoung tidak mau kalah. “Kau tidak akan kubolehkan pulang sebelum menguasai materi kemarin.”

“Apa?! Tidak adil!”

“Kau bilang akan mengikuti semua perkataanku ‘kan?”

Eunjoo tersontak kaget. Ia nyaris lupa kalau sudah kalah taruhan dengan Jinyoung. Eunjoo mendengus kesal dan memilih mengikuti Jinyoung dari belakang tanpa protes lagi.

*

Jinyoung menyandarkan punggungnya ke dinding. Gadis yang ia perhatikan bahkan tidak menyadari keberadaannya. Jinyoung mendecakkan lidah. Eunjoo masih sibuk dengan rubiksnya. Padahal Jinyoung tidak lama meninggalkan kamar–tempat mereka belajar sekarang–untuk mengambil minum. Tapi Eunjoo malah tertangkap basah sedang sibuk dengan permainan yang mengasah otak itu.

Eunjoo meringis. Ia kembali gagal membuat layer terakhir rubiksnya. Eunjoo menggaruk kepalanya, memikirkan dimana kesalahannya saat mengutak-atik permainan tersebut. Ekor mata Eunjoo tidak sengaja menangkap sesosok laki-laki berambut basah karena habis mandi sedang berdiri di ambang pintu.

Gadis itu tersentak lalu duduk seperti sebelum Jinyoung pergi dari kamar dan kembali memperhatikan soal fisika yang diberikan Jinyoung. Sial, mati aku.

“Sudah nomor berapa?” tanya Jinyoung sambil duduk di hadapan meja lipat di depan Eunjoo.

Eunjoo mengangkat kepalanya dan langsung menunduk lagi, gugup. Ia menggigiti bibir bawahnya, memikirkan jawaban apa yang harus diberikannya.

“Ba-baru nomor empat,” ucap Eunjoo terbata.

Jinyoung memperhatikan gerak-gerik Eunjoo. Teman sekelasnya itu terus mengetuk-ngetuk pensilnya diatas kertas soal. Entah sedang memikirkan apa, tapi gerakan itu sama sekali tidak menunjukkan Eunjoo akan menjawab pertanyaan tersebut. Jinyoung menghela nafas berat.

“Masih tidak mengerti?” Jinyoung akhirnya bertanya dan reaksi Eunjoo menunjukkan kalau pertanyaan itu tepat sasaran.

Eunjoo mengangguk lemah. Ia sudah bersiap-siap menerima amukan Jinyoung. Tapi laki-laki itu malah mengambil rubiks Eunjoo yang berada diatas meja.

“Padahal kalau kau perhatikan, soal itu tidak sulit,” Jinyoung mulai mengutak-atik rubiks milik Eunjoo. Eunjoo memperhatikan rubiksnya dan Jinyoung secara bergantian, menunggu apa yang akan dikatakannya lagi. “Kalau kau sudah tahu dasarnya, kau akan mudah memahami rumus-rumus yang lain. Semua rumus itu sama, hanya saja letak dan disaat apa kau gunakan itu yang membuatnya berbeda. Seperti rubiks ini.”

Jinyoung meletakkan rubiks Eunjoo yang sudah selesai diatas meja. Eunjoo menganga melihat ulah Jinyoung. Ia memperhatikan Jinyoung lagi yang hanya tersenyum samar. Kemudian laki-laki itu bertanya, “araseo(mengerti)?”

Eunjoo mengangguk bersemangat sambil nyengir lebar. “Eo!”

Jinyoung hanya membalas senyum girang Eunjoo sekilas lalu mengambil rubiks itu lagi dan mulai mengutak-atiknya kembali. Merasa ada yang memperhatikan, Jinyoung menoleh pada Eunjoo yang masih memandanginya.

Wae(kenapa)?” tanya Jinyoung risih.

Eunjoo menunjuk benda yang dipegang Jinyoung takut-takut. “Rubiksku…”

Jinyoung mendengus. “YA! Kerjakan soalmu dulu!”

Eunjoo bergidik dan akhirnya menatap lembaran soal di hadapannya lagi. Ia kembali mengetuk-ngetuk pensilnya ke kertas tanpa tahu harus menulis apa. Bibir Eunjoo mengerucut, berusaha berpikir lebih keras hingga akhirnya ia memilih untuk membuka catatan Jinyoung yang ada di sebelahnya.

Jinyoung terkekeh pelan melihat tingkah Eunjoo. Ia jarang memperhatikan seorang gadis dari jarak sedekat ini. Ternyata mereka tidak seburuk yang ia kira sebelumnya.

Mata Eunjoo tiba-tiba menangkap Jinyoung yang masih tertawa. Ia tidak pernah menyangka seorang laki-laki dingin seperti Jinyoung ternyata masih bisa tertawa ringan. Eunjoo tiba-tiba merasakan ada yang aneh saat ia melihat senyum yang Jinyoung tunjukkan. Ia tidak tahu kalau Jinyoung akan terlihat lebih manis kalau tertawa.

Mwohae(apa yang kau lakukan)?”

Eunjoo terkesiap dari lamunannya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dari Jinyoung tanpa menyadari kalau ia duduk disamping tempat tidur laki-laki itu. Alhasil, kepalanya terantuk tepi tempat tidur.

“Aakh!” Eunjoo mengaduh sambil memegangi dahinya. Wajahnya sudah panas karena malu tertangkap basah memperhatikan Jinyoung dan berbuat ceroboh. Aish, bodoh sekali aku!

Tawa Jinyoung semakin keras melihat tingkah Eunjoo. Eunjoo menggigit bibirnya, menahan rasa malu yang sudah overload. Andai saja soal yang diberikan Jinyoung bisa selesai dengan sendirinya, ia pasti sudah berlari dari ruangan ini.

Ya, neo mwohae(kau sedang apa, sih)?” tanya Jinyoung disela-sela tawanya. “Gwenchanha(tidak apa-apa)?”

Jinyoung mengulurkan tangannya untuk mengelus bagian kepala Eunjoo yang terantuk tadi walaupun ia tidak bisa menghentikan tawanya sendiri.

“Kupikir kau hanya bodoh dalam pelajaran saja,” ejek Jinyoung geli. “Ternyata hal seperti ini juga ceroboh.”

Eunjoo tidak membalas kata-kata Jinyoung. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sosok Jinyoung yang hanya beberapa senti dengannya. Eunjoo merasakan perasaan aneh itu lagi. Ia ingin sekali menjauhkan tangan Jinyoung dari kepalanya. Tapi seolah tubuhnya mematung karena senyuman Jinyoung yang berada tepat di depannya.

Jinyoung yang baru menyadari tatapan Eunjoo langsung menarik kembali tangannya. Ia mengelus tengkuknya sambil sesekali melirik Eunjoo yang kembali menyibukkan diri dengan soal-soal dihadapannya. Suasana canggung tiba-tiba menyelimuti mereka. Jinyoung akhirnya beranjak dari duduknya, membuat Eunjoo refleks mengangkat kepalanya.

Gwenchanh ji(tidak apa-apa ‘kan)?” tanya Jinyoung memastikan. Walaupun ia berusaha terdengar biasa, tapi getaran suaranya karena gugup tetap tidak bisa ditutupi.

Eunjoo langsung mengangguk-angguk, menjawab pertanyaan Jinyoung.

“Ah, aku akan mengambilkanmu minuman dulu.” Tanpa menunggu jawaban dari Eunjoo, Jinyoung langsung keluar kamar. Ia pergi ke dapur untuk menuangkan jus jeruk ke dalam gelas. Jinyoung menatap jus jeruk itu sambil memegangi dadanya sendiri. Kenapa harus ada perasaan seperti ini? batinnya. Perasaan yang tidak logis.

*

Ya, sudah kubilang Dongwoo itu—”

“Kalau hambatan berbanding lurus dengan luas, jadi—”

Gia memperhatikan temannya yang masih sibuk bergumam sambil menulis-nulis di udara yang kosong sambil setengah melongo. Jadi, sejak tadi ia mengajak ngobrol Eunjoo, temannya itu malah sibuk menghafal rumus?

YA, HAN EUNJOO!”

Eunjoo terkesiap mendengar namanya di teriaki. Gia sudah menggigiti sedotan susunya dengan geram dan seketika itu juga Eunjoo sadar kesalahannya. Astaga, aku lupa masih bersama Gia! Eunjoo memasang wajah semanis mungkin agar Gia tidak marah lebih dari ini.

Mian(maaf),” ucap Eunjoo singkat lalu menusukkan sedotan ke kotak susunya.

Ya, kau tahu kalau mulutku hampir berbusa, huh?” omel Gia.

“Ah jangan salahkan aku! Ini akibat aku mempunyai mentor seperti Jung Jinyoung!” Eunjoo membalas tidak mau kalah. “Aku hampir gila karena dia terus mengirimkanku pesan berisi rumus-rumus sialan itu.”

“Mengirimkan pesan?” ulang Gia. Senyum jahil tiba-tiba menghiasi wajahnya. “Oh, jadi setiap malam kalian saling mengirim pesan huh?”

Eo, seperti—” kata-kata Eunjoo terhenti ketika menyadari perubahan raut wajah Gia. “Bukan seperti yang yang kau pikirkan!”

Gia tergelak disela-sela acara minum susu mereka. “Sudah, jujur saja tentang hubunganmu dengan Jung Jinyoung itu.”

“Hubungan apa? Kami kan hanya belajar bersama.”

“Yakin tidak terjadi sesuatu saat kalian belajar bersama?”

“Tidak—” Belum sempat Eunjoo menyelesaikan kalimatnya, ia teringat saat Jinyoung mengelus kepalanya yang pernah terantuk sisi tempat tidur. Wajah Eunjoo tiba-tiba memanas. Ia langsung meminum susu kotaknya buru-buru.

“Aku melihat wajahmu merah, lho,” sahut Gia tiba-tiba. “Mungkin sebentar lagi akan lahir pasangan baru, ya.”

YA!!!”

*

“Tidak bisa lagi?”

Eunjoo hanya nyengir kaku pada Gia karena baru saja membatalkan janji yang mereka buat dari minggu lalu. “Maaf, mungkin minggu depan. Setelah aku ikut ujian lagi, ya?”

Gia menghela nafas, menyerah. Padahal ia sudah membawa uang lebih untuk mereka berbelanja nanti di daerah Myeongdong.

Keurae(baiklah). Aku pulang duluan ya,” ujar Gia sambil melambaikan tangannya.

Eo! Hati-hati ya!” sahut Eunjoo saat Gia sudah berjalan menjauh.

Melihat Yoon Gia sudah tidak ada lagi di koridor itu, Jinyoung langsung menghampiri Eunjoo. Ia menyodorkan beberapa lembar soal pada Eunjoo. Eunjoo menatap Jinyoung. Walaupun ini termasuk perjanjian mereka—bertemu setiap pulang sekolah—tapi rasanya tetap masih canggung.

“Mengerjakannya sendiri bisa ‘kan?” tanya Jinyoung tanpa melihat Eunjoo.

“Kau tidak akan menemaniku?” Eunjoo malah balik bertanya. Jinyoung hanya menggeleng menjawab pertanyaan itu. Eunjoo menganggukkan kepalanya, mengerti. Tidak mungkin seorang Jung Jinyoung tidak mempunyai kesibukan.

“Aku… duluan ya,” ucap Jinyoung setelah mereka terdiam beberapa saat.

Eunjoo mengangguk lagi. “Hati-hati di jalan.”

Jinyoung tidak membalas kata-kata Eunjoo. Ia hanya melambaikan tangannya tanpa melihat gadis itu. Perasaan ‘aneh’ yang dirasakannya masih ada bahkan saat ia hanya memperhatikan Eunjoo dari kejauhan. Jinyoung menghentikan langkahnya. Ia berbalik, memperhatikan Eunjoo yang berjalan ke arah lain koridor.

Eunjoo memilih mengerjakan tugasnya di perpustakaan karena akan lebih bisa berkonsentrasi disana. Jinyoung memperhatikan punggung mungil Eunjoo sambil menghela nafas. Bagaimana pun juga ia harus melupakan perasaan ‘aneh’ ini. Eunjoo membencinya dan yang gadis itu tahu Jinyoung juga seperti itu.

Sekarang yang bodoh itu siapa?

*

Eunjoo mengetuk-ngetuk pensilnya ke hidung. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menorehkan jawaban di kertas soal itu. Shin Dongwoo yang memperhatikan hal itu akhirnya memutuskan duduk di samping Eunjoo. Gadis itu masih tidak sadar kedatangan Dongwoo, membuat Dongwoo semakin ingin mengerjainya.

“Sibuk, ya?” tanya Dongwoo tiba-tiba.

Sontak Eunjoo terlonjak. Dongwoo terkekeh melihat reaksi Eunjoo. Gadis itu hanya nyengir kaku sambil menggaruk kepalanya karena bingung harus berkata apa. “Ani(tidak).”

“Aku tidak pernah melihatmu belajar di kantin,” kata Dongwoo sambil melirik buku catatan Eunjoo. “Fisika lagi?”

Eunjoo mengangguk. “Besok aku ada ulangan lagi.”

Dongwoo hanya bergumam mengiyakan. Eunjoo kembali berkonsentrasi dengan catatannya. Dongwoo mengalihkan pandangannya ke wajah serius Eunjoo. Ia mengulum senyum, sementara Eunjoo masih tidak merasa kalau diperhatikan.

“Aku lihat akhir-akhir ini kau dekat dengan teman sekelasmu itu, ya,” Dongwoo yang mulai bicara lagi membuat Eunjoo langsung menoleh. Dahinya berkerut, bingung dengan ucapan Dongwoo. “Siapa namanya? Uhm… Jung Jinyoung?”

“Dekat?” Eunjoo membeo. “Dengan Jung Jinyoung? Jangnanhajima(jangan bercanda).”

“Beberapa anak perempuan di kelasku membicarakan kalian, lho,” sahut Dongwoo lagi. “Kalau ingin pacaran diam-diam, kalian sepertinya belum berpengalaman ya.”

Eunjoo melotot. “Mwo—museun—ah! Gila! Aku? Pacaran dengan Jung Jinyoung?” Eunjoo mendesah kesal. Tiba-tiba terbayang ia berjalan dengan Jinyoung di taman saat musim gugur. Eunjoo langsung menggelengkan kepalanya agar bayangan itu hilang. Bagaimana bisa aku terbayang hal sepert itu?!

“Bilang pada teman-temanmu, mereka salah paham. Lucu sekali kalau aku benar-benar pacaran dengannya.”

“Ya, jangan marah begitu,” ujar Dongwoo sambil menarik-narik lengan kemeja Eunjoo. Ia tidak menyangka reaksi Eunjoo akan seperti ini. “Yang tadi itu bohong.”

M-mwoYAAA!!!”

Dongwoo tergelak. Eunjoo buru-buru mengambil potongan roti yang belum sempat dimakannya untuk menyumpal mulut Dongwoo. Dengan mulut penuh, Dongwoo tetap terkekeh geli karena reaksi Eunjoo. Eunjoo akhirnya ikut tertawa melihat ekspresi tawa Dongwoo yang sedang mengunyah roti.

Tanpa mereka sadari, Jinyoung melihat mereka berdua dari kejauhan. Jinyoung awalnya berniat menghampiri Eunjoo untuk memberinya semangat karena besok ia harus menghadapi ulangan lagi. Tapi ia langsung membuang jauh-jauh niatannya itu.

Seharusnya aku tidak usah ke kantin saja tadi.

*

Eunjoo menatap kosong langit-langit kamarnya. Besok ia harus ikut ulangan lagi. Meskipun sudah menghafal rumus dan mengerjakan soal-soal, masih ada yang membuatnya belum yakin. Eunjoo meraih ponselnya dan langsung mengetik pesan disana.

To: Jung Jinyoung

Apa menurutmu besok Dewi Fortuna berpihak padaku?

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Eunjoo menekan ‘send’ di layar ponselnya. Tiba-tiba Eunjoo berubah pikiran, tapi keinginannya membatalkan pesan tadi sudah terlambat. Pesan itu sudah terkirim.

Selang beberapa waktu, Eunjoo merasakan ponselnya bergetar. Ia terlonjak dari tidurnya. Eunjoo buru-buru membuka pesan itu hingga ponselnya hampir terjatuh dari tangannya. Nafasnya seakan terhenti sejenak saat membaca nama pengirimnya.

From: Jung Jinyoung

Ya. Semoga beruntung.

Datar. Eunjoo kembali melemparkan ponselnya ke tempat tidur. Padahal biasanya Jinyoung pasti menceramahinya jika ia tidak yakin dengan dirinya sendiri. Tapi kata-kata di pesannya sama sekali tidak memberi semangat. Kenapa, sih, dia?

*

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Eunjoo menghela nafasnya dengan berat. Semua teman-temannya sudah keluar kelas dan berjalan menuju rumah mereka masing-masing. Sedangkan Eunjoo sendiri yang harus tinggal di kelas, menunggu Hwang seonsaenim(guru) datang dan memberikan soal untuknya.

Tiba-tiba seseorang menepuk-nepuk bahu Eunjoo. Eunjoo menoleh cepat, tapi sosok itu sudah keluar dari kelas. Tapi Eunjoo masih bisa menangkap punggung laki-laki tadi. Beberapa saat kemudian, Eunjoo merasa ponselnya bergetar. Ia buru-buru merogoh benda itu dan mendapatkan sebuah pesan baru disana.

From: Jung Jinyoung.

Selesaikan soal-soal itu. Aku menunggumu di taman depan sekolah.

Eunjoo mengulum senyum. Dari Jinyoung. Belum sempat ia membalas pesan Jinyoung, pria bertubuh besar dengan kacamatanya masuk ke kelas. Hwang seonsaenim membawa file holdernya dan meletakkannya diatas meja.

“Sudah siap, Han Eunjoo?” tanya Hwang seonsaenim.

Eunjoo mengangguk bersemangat. “Ne, saem (ya, pak)!”

*

Jinyoung berjalan malas ke ruang tengah. Noonanya masih belum pulang, jadi hanya ada Sandeul yang menemaninya di rumah. Laki-laki yang lebih muda satu tahun dengan Jinyoung itu masih asik dengan nintendo wii-nya. Entah ia sadar kalau Jinyoung sudah duduk di dekatnya atau tidak.

Perasaan ragu tiba-tiba melanda Jinyoung. Perasaan anehnya pada Han Eunjoo masih tidak bisa hilang. Belum lagi saat ia melihat nama gadis itu di layar ponselnya karena ada pesan masuk. Perasaan ini semakin menjadi-jadi hingga Jinyoung merasa ingin melimpahkan perasaan ini ke siapapun.

Setelah beberapa saat dilema sambil memerhatikan Sandeul bermain tenis dengan nintendo wii-nya, Jinyoung memilih untuk membuka suara. “Sandeul-a,”

Tanpa melihat Jinyoung, Sandeul tetap melanjutkan permainannya. “Eo?”

“Uhm… kau—” walaupun masih ragu, akhirnya ia memilih untuk cerita. “—apa selama bersama pacarmu itu… kau merasakan hal aneh?”

“Hal aneh?” ulang Sandeul. “Seperti apa?”

“Seperti… yah, perasaan aneh,” Jinyoung menggaruk kepalanya, bingung. “Rasanya aneh, sulit dijelaskan.”

“Perasaan apa, sih?” tanya Sandeul lagi yang masih tidak mengerti. Ia mem-pause permainannya lalu menoleh pada Jinyoung. “Perasaan seperti ‘aku suka dia’?”

Pertanyaan Sandeul seakan langsung mengenai tulang punggung Jinyoung. Ia berusaha tidak terlihat kaget. Tapi wajah Jinyoung yang tiba-tiba memerah membuat Sandeul langsung mengerti kalau tebakannya benar.

“Jadi begitu?” tanya Sandeul dan berikutnya ia tergelak. “Jadi, hyung sedang jatuh cinta sekarang?”

“Ah, seharusnya aku tidak bertanya padamu tadi,” sesal Jinyoung karena malu habis ditertawakan.

“Ya, Hyung jangan marah,” bujuk Sandeul yang masih terkekeh. “Kalau hyung suka gadis yang kau bawa ke rumah waktu itu, ya katakan saja padanya.”

“Katakan apa?” tanya Jinyoung yang masih belum mengerti.

“Ya katakan kalau hyung menyukainya,” jawab Sandeul enteng sambil merebahkan diri di samping Jinyoung. “Apa susahnya sih?”

Jinyoung mendelik. “Kau pikir itu mudah?”

“Itu akan mudah kalau hyung menyatakannya dengan cara hyung sendiri.” Sandeul memgambil keripik terakhirnya lalu melanjutkan permainannya lagi.

Jinyoung hanya mengangguk-angguk tanpa melihat Sandeul yang mulai heboh dengan nintendo-nya. Haruskah aku mengatakannya?

Tapi mengatakan apa? Pada awalnya Jinyoung tidak dekat dengan Eunjoo. Mereka hanya mulai dekat karena Eunjoo butuh seorang mentor. Hanya seminggu, bahkan kurang. Bukankah perasaan seperti ini hanya seperti angin lalu saja?

*

Eunjoo berjalan sambil memandangi hasil ulangannya setengah jam lalu. Nilainya tidak sempurna, tapi masih diatas rata-rata. Ia membayangkan, apa yang akan dikatakan Jinyoung nanti jika melihat nilainya.

Jinyoung? Mengingat nama itu, Eunjoo tiba-tiba terpikir apa dia masih menunggunya? Waktu setengah jam itu tidak singkat apalagi untuk menunggu seseorang. Tapi langkah Eunjoo terhenti saat ia melihat orang yang dipikirkannya ternyata masih ada di taman depan sekolah. Menunggunya bahkan hingga matahari hampir terbenam.

“Jung Jinyoung?” tanya Eunjoo memastikan.

Jinyoung yang sejak tadi mencoba menghangatkan dirinya sendiri, menoleh pada Eunjoo yang berada tidak jauh darinya. Eunjoo menghampiri Jinyoung dengan perasaan yang masih agak bingung. Ia pikir Jinyoung akan meninggalkannya pada sepuluh menit pertama. Eunjoo tidak menyangka laki-laki itu mau menunggunya selama setengah jam.

Eunjoo duduk di samping Jinyoung dengat hati-hati. “Kenapa masih disini?”

Jinyoung tidak menjawab. Ia hanya berdeham, malah balik bertanya. “Bagaimana ulanganmu?”

Seakan baru disadarkan, Eunjoo langsung memberikan kertas ulangannya ke hadapan Jinyoung dengan riang. “Delapan puluh lima! Aku hebat, ‘kan?”

Jinyoung langsung mengambil kertas milik Eunjoo lalu memperhatikannya dengan seksama. Tiba-tiba suasana canggung pun menyelimuti mereka. Jinyoung sibuk memerhatikan soal Eunjoo hingga gadis itu bingung harus berbuat apa. Baru saja Eunjoo ingin bicara, tapi Jinyoung sudah mengambil alih lebih dulu.

“Seharusnya kau bisa mendapat nilai lebih dari ini,” komentar Jinyoung. “Kalau kau diajari oleh mentor Jung Jinyoung, seharusnya kau dapat sembilan puluh lima atau lebih. Ini? Masih kurang!”

Eunjoo melongo memperhatikan Jinyoung yang tidak berhenti bicara. Ia tersenyum geli lalu mengambil kertas ulangannya lagi.

Ne,” balas Eunjoo menurut.

Jinyoung mengusap tengkuknya yang dingin. Tanpa ia sadari, Eunjoo ternyata memerhatikan gerak-geriknya. Padahal baru beberapa hari, tapi Eunjoo merasa ia sangat merindukan sosok Jinyoung yang seperti ini. Jinyoung yang cerewet karena kesalahan yang dibuatnya. Jinyoung yang selalu membuat Eunjoo penasaran dengan apapun yang dilakukannya.

“Tapi, untuk ukuranmu ini sudah lumayan,” kata Jinyoung setengah bergumam. Ia menatap ujung sepatunya sendiri tanpa melihat Eunjoo yang diajaknya bicara. “Sepertinya kau tidak butuh mentor lagi.”

Eunjoo terdiam sejenak. Ia tidak pernah memikirkan kalau ia sudah mendapat nilai bagus, Jinyoung akan berhenti menjadi mentornya. Hanya begini saja? Eunjoo bertanya dalam hati. Ia pikir ia tidak akan mendapatkan nilai diatas rata-rata. Ia pikir Jinyoung akan menjadi mentornya dalam waktu yang lama. Apa benar hanya akan sampai disini?

“Kemarin aku sengaja tidak mengajarimu. Kupikir kau akan lupa semua rumus yang kuberitahu, tapi ternyata sebaliknya,” Jinyoung menoleh pada Eunjoo yang masih sibuk dengan pikirannya. Ia tersenyum pada Eunjoo sambil mengelus pelan rambut gadis itu. “Han Eunjoo, kau lulus.”

Tidak mau.

“Kalau aku—” Eunjoo menghentikan kalimatnya. Ia berdeham, berusaha agar tidak terlihat gugup, lalu melanjutkan. “—kalau aku ingin tetap belajar denganmu, boleh?”

Jinyoung tidak menjawab. Ia terdiam sambil memerhatikan Eunjoo lekat-lekat, membuat gadis itu semakin gugup. Apa ada yang salah dengan perkataannya? Begitu pikirnya.

“M-maksudku, mungkin nilaiku akan turun lagi. Jadi, kupikir, mungkin sebaiknya—”

“Kalau aku bilang tidak boleh, bagaimana?” Tanya Jinyoung yang tiba-tiba memotong perkataan Eunjoo.

Kali ini Eunjoo yang terdiam, bingung. “Eh?”

“Kalau aku tidak mau menjadi mentormu lagi, bagaimana?” ulang Jinyoung lagi. Ia mendekati Eunjoo.

Refleks, Eunjoo menggeser tubuhnya. Ia melihat senyum tipis di wajah Jinyoung, walaupun ia sendiri masih bingung apa maksud senyum laki-laki ini. “Kalau aku menginginkan yang lebih dari itu, bagaimana?”

Lima detik. Akhirnya Eunjoo mendapatkan dirinya kembali setelah beberapa saat mengerjapkan matanya. Antara bingung juga tidak percaya. Jadi Jung Jinyoung sedang menggodanya sekarang?

“Eh?”

Jinyoung meringis. Ia mengacak rambutnya sendiri, frustasi. Susah untuk menyatakan perasaannya pada Eunjoo yang sulit mencerna perumpamaan. Harus dengan cara apa lagi?

“Sudah semakin dingin. Mungkin sebaiknya kita pulang sekarang,” tanpa menunggu jawaban Jinyoung, Eunjoo langsung beranjak dari duduknya. Sebagian otaknya tidak dapat berpikir dengan normal. Apa yang barusan Jinyoung katakan sempat membuat Eunjoo berpikir itu adalah sebuah pernyataan. Tapi pernyataan apa? Kenapa harus menyatakan sesuatu padanya?

Belum beberapa langkah, tangan Eunjoo sudah ditahan oleh Jinyoung. Eunjoo refleks berbalik, menatap wajah serius Jinyoung. Jinyoung ingat kata-kata yang selalu dia jadikan motivasi untuk dirinya sendiri. Kalau ada kesempatan, kenapa harus membuangnya begitu saja? Ia menarik nafas sambil meyakinkan dirinya sendiri.

“Siapa bilang aku sudah selesai bicara?”

Eunjoo menjauh, gugup dengan perkataan Jinyoung. Ada apa dengan orang ini? Tapi sebelum Eunjoo sempat melarikan diri, Jinyoung sudah menarik tubuhnya lalu memberikan kecupan singkat pada bibir Eunjoo. Untuk beberapa saat Eunjoo masih tidak bereaksi. Tangannya masih digenggam Jinyoung, entah ia sadar atau tidak. Dan akhirnya Eunjoo mengangkat kepala, menatap Jinyoung yang tersenyum lebar dengan wajah yang agak memerah.

“Itu maksudku,” ucap Jinyoung yang sontak membuat wajah Eunjoo semakin panas.

Eunjoo langsung menarik tangannya dan langsung berbalik, berjalan cepat menjauhi Jinyoung. Jinyoung segera mengejar Eunjoo dan menahannya lagi.

Ya! Kau pikir aku bercanda?!” tegas Jinyoung.

“Jadi…” Eunjoo ragu untuk melanjutkan. Tapi ucapannya sudah dijawab dengan anggukan dari Jinyoung.

Jinyoung menggenggam sebelah tangan Eunjoo sambil terus menatap gadis itu. “Boleh?”

Eunjoo menggigit bibirnya tapi perlahan akhirnya ikut menggenggam tangan Jinyoung yang lain. Ia mengangguk pelan tanpa berani menatap Jinyoung langsung.

Senyum Jinyoung semakin lebar dan genggamannya pada tangan Eunjoo semakin erat. Rasa senang yang tidak dapat ia gambarkan hanya bisa terlihat dari genggaman tangan mereka. Eunjoo melirik Jinyoung yang masih tersenyum dan akhirnya ia ikut tersenyum tipis.

“Semakin dingin, ya?” gumam Jinyoung. Eunjoo meliriknya lagi, Jinyoung hanya mengulum senyum “Ayo, kuantar pulang.”

Fin

Advertisements

3 thoughts on “[2shot] Enchanted – Chapter 2 (END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s