[2shot] Enchanted – Chapter 1

Enchanted

Title: Enchanted
Author: Ai Lee
Cast: Jung Jinyoung (B1A4), Han Eunjoo (OC), Yoon Gia (OC), the other B1A4 members
Genre: Romance, School
Length: Chapter (1 of 2)
Rating: General – PG+13
Author’s note: Fanfic hasil galau soal ulangan lagi. Mana besok ulangan fisika pula ㅠ ㅠ the second chapter will be update very soon~~ Nah, enjoy readers! ^^

Chapter 1

Eunjoo mengunyah permen karetnya yang baru ia masukkan ke mulut. Ia menatap rubiks yang masih berantakan di tangannya sambil memikirkan langkah apa yang harus di lakukan selanjutnya. Merasa tidak mendapat ilham, Eunjoo menurunkan rubiks itu dari pandangan dan mulai berjalan normal menyusuri koridor pagi itu.

Sesosok siswa laki-laki menarik penglihatannya. Siswa itu berpakaian rapi dengan tas hitam yang menggantung di pundaknya. Eunjoo melihat perubahan saat laki-laki itu lewat. Beberapa siswa yang sedang berisik sambil bercanda di koridor langsung diam saat mereka melewati siswa yang memiliki nametag “JUNG JINYOUNG”.

Eunjoo mengernyit. Ia tahu, siapa itu Jung Jinyoung. Teman sekelasnya yang memiliki IQ tinggi tapi tidak pernah bersikap ramah pada orang yang tidak di kenalnya. Walaupun Jinyoung dikenal dingin, tapi sikap mereka cenderung berlebihan. Untuk apa takut pada orang yang seumuran dengan mereka? Jinyoung ‘kan tidak punya catatan kriminalitas dari kepolisian.

Tanpa mempedulikan Jinyoung yang berjalan berlawanan arah dengannya, Eunjoo menghela nafasnya cuek.

Jinyoung melirik gadis yang baru saja lewat di sampingnya. Walaupun ia hampir tidak pernah bicara dengan gadis itu, ia tetap ingat namanya. Han Eunjoo, gadis biasa yang kelihatannya akan menghabiskan sebagian umurnya untuk memperbaiki rubiks.

Jinyoung tidak habis pikir. Sudah jelas, rubiks tidak ada di daftar pelajaran yang akan diujikan di ujian kelulusan nanti. Jinyoung yakin, gadis itu pasti lupa kalau hari ini ada ulangan fisika. Terlihat sekali ia masih bisa setenang itu berjalan ke kantin. Jinyoung sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Han Eunjoo setelah mengerjakan ulangan nanti. Berteriak pada temannya karena ia tidak bisa mengerjakan soal-soal itu. How childish.

*

“Han Eunjoo.”

Eunjoo yang sedang berjalan dengan earphone yang menggantung di telinga langsung membungkuk dan melepas benda itu.

“Ah, annyeonghaseyo.” sapa Eunjoo pada pria yang baru saja memanggilnya. “Museunil isseoseo, seonsaenim (ada apa, Pak guru)?”

Pria yang dipanggil seonsaenim(guru) oleh Eunjoo menatapnya dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat. Ia menepuk-nepuk bahu Eunjoo, membuat muridnya itu semakin bingung dengan sikap gurunya.

“Kelihatannya kau memang butuh tambahan,” kata Tuan Hwang pada Eunjoo. “Pulang sekolah hari ini, tidak masalah ‘kan?”

Ne(ya)?”

“Nilaimu yang paling bawah lagi, Han Eunjoo,” jelas Tuan Hwang. “Aku akan memberimu pelajaran tambahan sepulang sekolah nanti. Minggu depan aku akan memberimu dan beberapa anak yang nilainya rendah ulangan lagi.”

Bagai dijepit beberapa pesumo, Eunjoo merasa tidak bisa bernafas beberapa saat. Nilai terendah? Ulangan lagi? Ia baru menemukan dirinya ketika Tuan Hwang menepuk pundaknya dan mengatakan untuk belajar lebih sebelum diberi ulangan minggu depan.

Eunjoo menatap dua kotak banana milk di tangannya. Nafsu untuk minum susunya tiba-tiba menghilang mendengar perkataan gurunya barusan. Ia berjalan gontai menuju kelas. Tatapan masih kosong sampai ia duduk di depan meja temannya.

“Eunjoo-ya—”

Ya! Yoon Gia!” Eunjoo langsung menjerit saat Gia bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. “Aku kena lagi!”

Wae(kenapa)? Museunsoriya(ada apa)?” tanya Gia saat temannya langsung membanting banana milk di mejanya. Eunjoo menatapnya dengan wajah ditekuk.

“Tambahan lagi. Hari ini, pulang sekolah,” rengek Eunjoo. Ia menusukkan sedotan di banana milknya tanpa ada niat untuk minum.

“Tambahan?” Gia terbelak saat Eunjoo mengiyakan pertanyaannya dengan anggukan.

“Aku tidak bisa ikut denganmu ke toko buku nanti, jadi—”

Maldo andwae(tidak mungkin)!” Belum selesai Eunjoo bicara, Gia sudah memotong kalimatnya.

Eunjoo bergidik. “Mwoya(apaan sih)? Kalau kau yang dapat tambahan, baru tidak bisa dipercaya.”

“Tidak, bukan itu. Barusan aku mendengar siapa yang akan mengajarimu,” Eunjoo langsung mengangkat kepalanya, tertarik dengan perkataan Gia,

“Bukan Hwang seonsaenim?” tanya Eunjoo sambil berbisik dan mendekatkan dirinya pada Gia. Gadis itu mengangguk yakin. Senyum sumringah langsung menghiasi wajah Eunjoo. Ia terpekik, senang. “Astaga! Aku selamat!”

“Ya! Justru kau akan mendapat yang lebih buruk lagi,” sahut Gia yang ikut berbisik.

Eunjoo mengerjapkan matanya. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menghampirinya. “Nugu(siapa)?”

Gia melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka sebelum akhirnya ia mengatakan siapa orang yang akan mengajari pelajaran tambahan pada Eunjoo. “Jung Jinyoung.”

MALDO ANDWE!”

*

Jinyoung hanya memasang senyum manis saat teman-temannya pulang lebih dulu darinya. Ralat, ialah yang akan pulang lebih lama dari mereka. Guru fisikanya meminta Jinyoung untuk mengajari Han Eunjoo materi-materi yang tidak dimengerti gadis itu sebelum ia diberikan ulangan perbaikan minggu depan.

Siswa bertubuh kurus-jangkung itu menggendong tas di sebelah pundaknya lalu menghampiri tempat duduk Eunjoo. Gadis itu masih merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Tatapan dingin Jinyoung dari balik kacamata framelessnya mengarah tajam pada Eunjoo. Gadis itu hanya bisa menahan nafas. Ia tidak pernah suka sosok dingin siswa yang pintar dalam fisika itu. Tidak akan pernah suka.

“Ikut aku,” kata Jinyoung. “Kita belajar di perpustakaan.”

“Tidak mau.”

Baru saja Jinyoung ingin keluar kelas, suara Eunjoo tiba-tiba menolak perintahnya. Ia berbalik dan sekarang Eunjoo menatap Jinyoung tanpa ada rasa takut lagi. Jinyoung menghela nafas, menunggu Eunjoo mengatakan permintaan maaf atau semacamnya.

“Kau pikir, aku mau semudah itu menuruti kata-katamu karena kau suruhan Hwang songsaenim?” sahut Eunjoo lagi. “Jangnanhajima(jangan bercanda).”

Ia melangkah melewati Jinyoung dan sengaja menabrak lengan laki-laki itu. Eunjoo merasa geli sendiri karena ia sempat takut pada seorang Jung Jinyoung. Sudah jelas, Jinyoung hanya siswa biasa yang dilebihkan kepintarannya. Apa yang perlu ia takutkan?

“Siapa yang membolehkanmu pergi?”

Jinyoung tiba-tiba mencengkram pergelangan tangan Eunjoo, membuat siswi itu sontak berbalik. Jinyoung membenturkan tubuh mungil Eunjoo ke dinding terdekat tanpa mempedulikan suara ringisan Eunjoo.

Eunjoo mendelik ke arah pergelangan tangannya, lalu melotot pada Jinyoung. “Mwoya?!”

“Jangan berpikir karena kau seorang gadis, aku tidak berani padamu,” desis Jinyoung. Cengrakamannya pada pergelangan tangan Eunjoo semakin ketat, membuat gadis itu tidak bisa membalas perkataan Jinyoung. “Besok aku akan memberimu lima puluh soal fisika tentang materi kemarin.”

“Limapuluh?!” pekik Eunjoo. “Kau gila!”

“Kalau kau bisa menyelesaikan semuanya, dan setidaknya setengah dari soal itu benar, aku akan minta maaf dan menuruti apapun yang kau inginkan,” kata Jinyoun lagi seakan tidak mendengar teriakan Eunjoo. “Tapi kalau kau gagal, kau yang harus menuruti semua permintaanku.”

Jinyoung melepaskan tangan Eunjoo dan akhirnya keluar dari kelas tanpa mengatakan apa-apa lagi. Nafas Eunjoo memburu seiring kepergian Jinyoung. Sekarang ia mengerti kenapa tidak ada seorang gadis pun yang berani mendekatinya.

Tapi, besok, limapuluh soal fisika?! Jung Jinyoung sudah gila!

*

Jinyoung menghempaskan tubuhnya diatas sofa sesampainya ia ke rumah. Orangtuanya ada dinas di luar kota dan hari ini ia hanya bertiga di rumah bersama kakak perempuan dan adik sepupunya, Lee Sandeul.

Ya! Geotjimal aniya(aku tidak berbohong)!” Jinyoung kini merasa kepalanya berkedut. Ia habis marah-marah pada Han Eunjoo sekarang malah mendengar suara sok imut dari laki-laki. “Aku sudah mengerjakan tugasku tadi.”

Jinyoung membuka matanya yang sempat terpejam karena ingin beristirahat sejenak sebelum mandi. Tapi suara itu masih saja berbicara.

Yaaaaa! Kau harus memberiku cokelat yang tadi, eo?”

YA! LEE SANDEUL!”

Sandeul yang sejak tadi sedang menggoda gadisnya di telepon langsung mengatup mulutnya rapat-rapat. Ia melirik pintu kamarnya yang tertutup rapat. Padahal Sandeul yakin, suaranya tidak akan terdengar keluar. Tapi kenapa Jinyoung bisa meneriaki namanya?

Sontak pintu kamar dibuka paksa oleh Jinyoung. Sandeul semakin kaget dan langsung mematikan teleponnya. Ia memandang Jinyoung ngeri. Apapun yang terjadi pada Jinyoung di sekolah, Sandeul yakin ialah yang membuat mood hyungnya ini semakin buruk.

“Aku tahu yang kau telepon itu seorang gadis,” kata Jinyoung. Ia menghampiri Sandeul yang duduk diatas kasurnya lalu mengambil ponsel laki-laki yang lebih muda satu tahun darinya itu. “Tapi, bisa tidak kau berhenti bicara dengan aegyo(gaya imut)? Itu juga kalau kau masih ingin melihat ponsel barumu.”

Sandeul langsung merebut ponselnya dari tangan Jinyoung sebelum ‘bad Jinyoung’ merusak benda kesayangannya itu.

“A-aku akan menelepon diluar!” seru Sandeul agak terbata. Ia segera berlari keluar rumah sebelum Jinyoung meneriakinya lagi.

*

Igeo mwoyaaaa(apa iniiiii)?!” Eunjoo menggerutu sendiri saat membaca catatan fisika milik Gia. “Iiish, kenapa banyak sekali lambang aneh? Gia salah menulis atau apa?!”

BUGH!

Buku yang dipegang Eunjoo langsung terjatuh saat ia menabrak seseorang yang tiba-tiba berhenti di depannya. Eunjoo meringis. Ia mengelus hidungnya sendiri karena terbentur cukup keras. Eunjoo menengadah, melihat siapa orang pemilik tubuh sekeras ini.

Gwenchanhayo(tidak apa-apa)?” tanya orang yang ditabrak Eunjoo.

Niat Eunjoo untuk meneriaki orang itu tiba-tiba hilang saat melihat sosoknya. Eunjoo buru-buru merapikan rambutnya dan sedikit menunduk karena malu dengan sikapnya barusan.

Ne,” jawab Eunjoo singkat. “Maaf sudah menabrakmu.”

Aniyo(tidak),” sahut Shin Dong Woo, siswa kelas A yang seangkatan dengan Eunjoo. “Aku yang seharusnya meminta maaf karena mengganggumu belajar.”

Eunjoo mengangkat kepalanya, menatap Dong Woo yang tersenyum manis padanya.

“Sedang belajar apa?” tanya Dong Woo sambil membalik-balikkan catatan Gia yang sempat terjatuh tadi. “Fisika? Waah!”

Eunjoo hanya bergumam mengiyakan. Ia menerima catatan Gia dari Dong Woo sambil membalas senyumnya.

“Semangat ya, belajarnya. Jangan sampai menabrak orang lagi,” ujar siswa itu menyemangati. Eunjoo mengangguk bersemangat pada Dong Woo.

Ia memperhatikan bahu lebar Dong Woo seiring berjalannya siswa itu pergi menjauh. Saking kagumnya pada sosok hangan Dong Woo, Eunjoo kembali menabrak seseorang. Tapi kini, bukan tubuh yang ia tabrak, melainkan tangan lebar yang malah menahan kepalanya sebelum Eunjoo benar-benar menabrak.

Yaa!” seru Eunjoo pada orang di hadapannya.

Jinyoung hanya meliriknya cuek lalu memperhatikan apa yang membuat Eunjoo tidak memperhatikan jalan.

“Cih, apa menariknya, sih?” komentar Jinyoung saat tahu Shin Dong Woo orang yang Eunjoo perhatikan. “Kau itu harus fokus dengan belajarmu sebelum bertemu dengan soal-soal yang kubuat!”

“Aku tahu! Berhentilah berteriak!” balas Eunjoo tidak mau kalah. “Setidaknya Dong Woo itu tahu caranya bersikap ramah, tidak sepertimu.”

“Jangan banding-bandingkan aku,” desis Jinyoung. Ia menaikan sudut bibirnya, membayangkan bagaimana Eunjoo jika sudah melihat soal yang akan diberikannya nanti. “Kau akan menyesal, tahu?”

“Berisik! Kaulah yang akan menyesal!”

Tanpa mempedulikan Jinyoung lagi, Eunjoo langsung pergi ke kelasnya dengan niat akan benar-benar menghapal semua rumus dari materi sebelumnya.

Eunjoo mengedarkan pandangan di sekitar kelas, mencari sosok Gia disana. Tapi pandangannya justru tertuju keluar jendela kelas. Gia sedang duduk di dekat lapangan basket bersama siswa laki-laki yang memakai cap di sampingnya.

Eunjoo mendengus. Saat ia harus mati-matian dengan fisika, temannya malah asyik pacaran dengan entah-siapa-itu. Eunjoo melirik catatan milik Gia lagi. Ia harus membuktikan pada Jung Jinyoung kalau ia akan menyesal.

*

Jinyoung tersenyum lebar saat melihat siapa yang menghampirinya. Ia melirik pintu perpustakaan yang berada di sampingnya, menyuruh Eunjoo mengikutinya masuk ke dalam. Jinyoung menolak untuk belajar di kelas karena ia tahu Eunjoo tidak akan bisa berkonsentrasi kalau melihat teman-temannya yang pulang lebih dulu.

Jinyoung meletakkan beberapa lembar kertas yang berisi limapuluh soal fisika di hadapan Eunjoo. Eunjoo melotot lalu beralih menatap Jinyoung yang masih tersenyum-senyum sendiri, merasa sudah memenangkan semuanya.

“Satu jam, cukup ‘kan?” tanya Jinyoung.

Eunjoo menghela nafas, lalu mengangguk untuk meyakinkan Jinyoung juga dirinya sendiri. Ia mengeluarkan tempat pensilnya dan mulai mengerjakan.

*

Goresan tinta merah dari pulpen Jinyoung membuat Eunjoo tidak bisa diam. Ia terus menggigiti ujung kukunya dengan kaki yang terus saja mengetuk-ngetuk lantai.

Jinyoung meletakkan kacamata framelessnya ke atas meja. Ia menatap Eunjoo lurus dan serius. “Benar limabelas dari dari limapuluh soal. Menurutmu itu sudah setengah?”

“Be-belum,” Eunjoo tergagap menjawab pertanyaan Jinyoung.

Siswa laki-laki itu mengacungkan kertas soal yang tadi dikerjakannya. Senyum puas Jinyoung terangkat lagi dan Eunjoo mengerti maksud dari senyum itu.

“Ingat perjanjian kita ‘kan?” tanya Jinyoung lagi. Eunjoo meringis dan akhirnya mengangguk lemah. Jinyoung mencondongkan tubuhnya mendekati Eunjoo tanpa menghilangkan senyumnya dan gadis itu refleks mundur ke belakang. Menarik.

Keurae(baiklah). Mulai sekarang, kau harus menuruti semua perkataanku sampai batas yang kutentukan.”

To Be Continued


Advertisements

4 thoughts on “[2shot] Enchanted – Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s