[chaptered/ongoing] Next To You – Chapter 5: Disappeared

Next To You

Title: Next To You
Author: Ai Lee
Casts: Han Hyesoo (OC), Kim Jonghyun (SHINee), Lee Youngmi (OC), Kim Songdam (Jonghyun’s sister), and the other SHINee members.
Lenght: Chapter 5 of ?
Rated: PG+15
Author’s note: Yeaay~! Konfliknya udah mulai keliatan kan? Mungkin beberapa Chapter lagi Next To You selesai nih kkkk~ Next chapter mungkin side story. Kira-kira siapa yaa? ^^
Unofficial Soundtrack: B1A4 – Only One

Chapter 5: Disappeared

Hyesoo memandangi tas kertas di hadapannya dengan bingung, mau ia apakan benda tersebut. Lamunannya buyar saat pintu kelas terbuka dan Youngmi masuk sebelum bel berbunyi. Syukurlah gadis ini bisa datang tepat waktu. Youngmi melirik Hyesoo yang masih memperhatikan tas kertas dihadapannya. Ia mengintip sekilas, ingin tau apa yang ada di tas itu.

“Bajumu?” tanya Youngmi seraya mengaduk tasnya untuk mengeluarkan buku pelajaran pertama.

“Bukan,” sahut Hyesoo. “Baju pinjaman. Aku harus mengembalikannya segera.”

“Oh ya? Pada siapa?”

Hyesoo memiringkan kepalanya. “Aku tidak tahu namanya.”

Youngmi justru bingung dengan pernyataan Hyesoo. “Dia sekolah disini?” Hyesoo mengangguk. “Ciri-cirinya seperti apa? Mungkin aku tahu.”

Hyesoo terlihat berpikir sejenak, mengingat-ingat ciri-ciri Jonghyun. “Aku rasa dia senior disini. Laki-laki… dan dia aneh.”

Dahi Youngmi berkerut. Orang aneh di sekolah mereka tidak hanya satu, akan sulit mencari orang yang dimaksud Hyesoo.

“Oke, dia aneh. Lalu?” Youngmi bertanya lagi.

“Dia selalu bertiga dengan dua temannya. Yang satu tinggi dan tampan, yang satu manis dan setinggi dengan si aneh.”

Youngmi bisa menangkap nada kesal dari suara Hyesoo saat mengatakan ‘si aneh’. Entah apa yang terjadi diantara mereka, tetapi kelihatannya cukup rumit. Bel tanda masuk berbunyi sementara Hyesoo dan Youngmi masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Saat istirahat, mau kutemani mencari senior itu?” tawar Youngmi.

Hyesoo langsung mengangguk riang.

*

Jonghyun tidak bisa membuat kakinya diam sedikitpun. Ia terus memikirkan Hyesoo sejak kemarin. Gadis itu tidak berkata apa-apa lagi setelah hujan berhenti dan langsung pulang. Jonghyun tidak tega untuk menahannya saat itu. Hyesoo pasti selalu berpikir Jonghyun adalah pengganggu baginya.

Tepat saat bel berbunyi, Jonghyun langsung melesat keluar kelas. Ia tidak tahu kelas Hyesoo, tapi ia akan mencari tahunya. Setidaknya mengetahui keadaan gadis itu, Jonghyun akan merasa sedikit tenang.

Lari Jonghyun terhenti saat ia menangkap sesosok gadis yang sedang mengitari area kelas sebelas, seperti sedang mencari seseorang. Siapa?

“Han Hyesoo!” panggil Jonghyun.

Hyesoo terkesiap. Ia kenal suara ini. Suara orang aneh yang tidak pernah ia tahu namanya. Hyesoo menoleh, begitu juga Youngmi. Jonghyun menghampiri mereka dengan nafas yang masih terengah. Youngmi mendekatkan dirinya pada Hyesoo laku berbisik, “dia yang kau bilang senior aneh?”

O,” gumam Hyesoo singkat, mengiyakan.

Youngmi mengangguk-angguk mengerti.

“Sedang apa?” Jonghyun bertanya sambil nyengir lebar. Perasaannya senang karena bisa bertemu Hyesoo dan malu karena bukan itu yang sebenarnya ingin ia tanyakan. Apa kau baik-baik saja? Tidurmu nyenyak semalam? Entah darimana pemikiran itu datang, yang jelas itulah yang ingin ia tanyakan.

Hyesoo menyodorkan tas kertas yang ia bawa pada Jonghyun. Jonghyun mengernyit, tidak mengerti.

“Baju noona[1]mu. Dia pasti mencarinya.” ujar Hyesoo. “Dan, terimakasih.”

“Jadi, kau mencariku?” seru Jonghyun tanpa menerima tas pemberian Hyesoo.

Hyesoo mendengus. “Mencari seseorang yang tidak kuketahui nama dan kelasnya itu sulit, kau tahu?”

Jonghyun segera memamerkan name tag di dada kanannya dengan senyum bangga. Entah apa yang ia banggakan, Hyesoo tidak mengerti.

“Kim Jonghyun, dua tahun lebih tua darimu,” katanya. Ia nyengir lebar lalu bertanya lagi, “Kenapa mencariku? Rindu padaku?”

Hyesoo bergidik. Ia melirik Youngmi yang sekilas kaget dengan kata-kata Jonghyun. Temannya ini pasti sudah mengira Hyesoo memiliki hubungan khusus dengan Jonghyun. Ia berpikir keras, bagaimana menjelaskan tentang si aneh ini.

“Ini. Aku ingin kembali ke kelas sekarang,” Hyesoo menggoyang-goyangkan tas itu dihadapan Jonghyun karena belum juga diterima olehnya.

“Aku tidak pernah bilang ini gratis ‘kan?” Jonghyun tiba-tiba. Senyum Jonghyun berubah. Bukan nyengir lebar seperti anak yang kegirangan baru mendapatkan lolipop. Berbeda. Membuat Hyesoo merinding sejenak.

Dan perasaan tidak enak itu ternyata membuat Hyesoo menyesal mengembalikan baju milik noona Jonghyun tadi.

*

Jonghyun merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel yang sejenak bergetar. Minho mengirim pesan singkat padanya, menanyai keberadaan Jonghyun. Mereka bertiga—dengan Kibum—berjanji akan pergi ke game center sepulang sekolah. Tapi Minho sama sekali tidak melihat Jonghyun sejak tadi.

Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan senyum saat membalas pesan Minho. Bukan karena pesan itu untuk Minho, tapi karena isi pesan yang ia kirimkan. Ia akan pergi dengan Hyesoo. Atau harus ia tulis ‘berkencan’?

“Kau menulis namaku,” Jonghyun nyaris melempar ponselnya saat sebuat suara mengagetkannya. Hyesoo berjinjit disamping Jonghyun, mengintip apa yang ditulisnya.

“Sudah siap? Kau mau pergi kemana?” Buru-buru Jonghyun memasukkan ponselnya ke saku tanpa mengubris perkataan Hyesoo.

Ya! Apa tadi? Kau membicarakanku dengan teman-temanmu itu, huh?”tuduh Hyesoo.

Jonghyung hanya nyengir kaku lalu sambil menggandeng Hyesoo menuju tempat parkir. Hyesoo dengan sigap langsung melepaskan genggaman Jonghyun cepat.

Mwohae[2]?” omelnya kesal. Jonghyun hanya terkekeh menanggapinya.

Ia memakaikan Hyesoo helm cadangan lalu kembali terkekeh. “Wajahmu terlihat kecil di kepala besarmu.”

Hyesoo hanya mendengus. Ia naik di belakang Jonghyun saat laki-laki itu sudah menyalakan motornya. Jonghyun menoleh kebelakang, Hyesoo balik menatap aneh. Jonghyun menyodorkan tangannya, “tangan.”

“Untuk apa?” Hyesoo justru bertanya.

Tanpa menjawab, Jonghyun malah menarik tangan Hyesoo agar mau memeluk pinggangnya. Hyesoo bersiap untuk meneriaki Jonghyun, tapi motor yang ia naiki sudah melaju kencang. Dibalik helmnya, Jonghyun tersenyum lebar. Senang.

*

“Kau tidak punya pacar, ya?” pertanyaan itu meluncur bebas dari mulut Hyesoo. Bukannya ia terlalu ingin mengetahui urusan pribadi orang lain. Hanya penasaran kenapa seniornya ini terlihat seperti tidak ada kerjaan bersama dua orang temannya.

Jonghyun yang tengah sibuk dengan sodanya langsung berhenti minum. Ia meletakkan minumannya itu diatas meja lalu balik menatap Hyesoo dengan alis terangkat.

“Kenapa, kau ingin jadi pacarku?” Jonghyun malah balik bertanya sambil menyeringai jahil.

Hyesoo langsung berlagak ingin muntah di depan Jonghyun. Ia tidak habis pikir dengan seniornya ini. Kenapa tidak bisa sehari saja seniornya bersikap biasa? Kalau menemani Jonghyun jalan-jalan bukan sebuah syarat untuk membayar kebaikannya, Hyesoo pasti sudah pergi dari warung camilan ini.

“Tidak usah berwajah seperti itu, mambuatku takut saja,” Jonghyun melahap ddukbokkinya lagi sambil sesekali melirik Hyesoo.

Hyesoo menghabiskan jjangmyeonnya lalu menyeka sekitar bibirnya yang sudah belepotan bumbu mie hitam tersebut. “Kalaupun ada, aku bertanya-tanya gadis seperti apa yang mau denganmu.”

“Dia orang yang selalu merasa aku terlalu protektif,” kata Jonghyun. Ia menghentikan makannya sejenak, memikirkan apa ia harus menceritakan masa lalunya pada Hyesoo atau tidak. Lalu melanjutkan makannya lagi. “Itu alasan yang ia pakai untuk memutuskanku saat hubungan kami masih baik.”

“Kau merasa terlalu protektif?” tanya Hyesoo. Rasa penasarannya kembali muncul karena cerita Jonghyun yang mulai memancingnya.

Jonghyun mengangguk. “Bukankah tidak salah kalau aku mengkhawatirkannya?”

Hyesoo hanya terdiam. Ia bukan pro dalam masalah cinta. Kalau ia memberi saran yang salah pada Jonghyun, ia yang akan merasa terbebani nantinya. Diam memang cara yang lebih baik.

Jonghyun menopang dagunya, menatap Hyesoo lekat-lekat. “Kau pikir, aku tidak tegas padanya, ya? Karena itu dia bisa meninggalkanku.”

Hyesoo menggeleng cepat sekaligus bingung dengan apa yang harus ia katakan pada Jonghyun.

“Kupikir… kupikir kau melakukan hal yang benar.”

Jonghyun berdiri. Ia melirik Hyesoo sekilas lalu tersenyum. Hyesoo tidak mengerti maksud senyum Jonghyun, ditambah kali-laki itu yang tiba-tiba saja mengelus lembut kepalanya. Sejenak ia merasa ia kehilangan dirinya sendiri sementara Jonghyun mengeluarkan beberapa lembar ribuan won dan memberikannya ke ahjumma[3] pemilik warung. Hyesoo memegangi kepalanya sendiri dan merasa wajahnya menghangat. Kenapa aku ini?

“Sudah mulai sore, padahal hanya makan sebentar,” Jonghyun bergumam sambil memasukkan dompetnya ke saku. Ia menoleh pada Hyesoo yang sudah berdiri di sampingnya. “Mau kuantar pulang?”

*

“Hyesoo-a, Hyesoo-a!”

Youngmi melambaikan tangannya pada Hyesoo yang baru saja sampai di tempat menyendirinya seperti biasa: taman belakang sekolah. Tidak seperti biasanya, hari itu Hyesoo membawa sebuah kotak plastik berwarna biru. Youngmi sendiri jarang melihat ini karena yang ia tahu, Hyesoo tidak pernah membawa bekal ke sekolah.

“Ini langka, ya,” gumam Youngmi memperhatikan Hyesoo membuka kotak bekalnya.

Hyesoo melirik Youngmi sekilas. “Biasa saja.” Tapi sejujurnya, ia memang tidak biasa menyiapkan bekal di pagi hari. Hanya karena ia bangun cepat—atau terlalu cepat—dan tidak bisa tidur kembali, Hyesoo pun mencoba untuk membuat bekal sendiri. Ia sendiri lupa kapan terakhir kali membawa bekal ke sekolah.

Setahun yang lalu? Entahlah.

Taemin sedang menyeruput banana milknya tiba-tiba langsung berlari. Ia tertawa dalam hati dan menepuk pundak Hyesoo. “HAAA!”

Hyesoo nyaris menelan kimbabnya bulat-bulat akibat teriakan Taemin. Ia langsung menoleh saat laki-laki itu duduk disampingnya sambil terkekeh geli.

“Iish! Mwohae?!” seru Hyesoo kesal.

Taemin tidak menghiraukan umpatan Hyesoo tentangnya. Pandangannya berlaih pada Youngmi yang sejak tadi memperhatikan mereka. Taemin hanya nyengir lebar, tidak sadar sejak tadi diperhatikan.

Annyeong[4]!” sapa Taemin akhirnya. Ini kedua kalinya ia melihat Youngmi bersama Hyesoo, tapi gadis itu seakan tidak ingin terlihat akrab dengannya. Taemin memang penasaran, tapi sepertinya ia tidak bertanya. “Lee Taemin imnida[5].”

Youngmi mengangguk dan ikut memberitahu namanya. “Kupikir kau salah mengagetkan orang tadi.”

Taemin tertawa geli. “Tidak, aku memang iseng. Kau teman si sinis ini?”

Hyesoo mendelik dengan mulut penuh. Taemin segera menjaga jarak duduknya dengan Hyesoo dan pura-pura tidak menyadari death glare tersebut.

Sementara Hyesoo juga sedang tidak ingin meladeni Taemin, ia membiarkan siswa berambut cokelat itu. Pikirannya tidak menentu sejak kemarin. Bukan karena ia tinggal sendiri di rumah akhir-akhir ini. Tapi karena ia menjadi sering teringat Jonghyun tiba-tiba setiap ia sedang tidak memikirkan apapun. Bodoh. Hanya itu yang dipikirkan Hyesoo setiap ia teringat senior anehnya.

“Aku tidak pernah tahu kau bisa membuat bekal.”

Hyesoo nyaris terjatuh ke belakang saking kagetnya. Kali ini bukan suara Taemin atau Youngmi yang mengagetkannya. Hyesoo menoleh cepat. Tatapannya disambut oleh lambaian tangan Jonghyun yang berjalan menghampiri meja mereka.

Taemin langsung bergidik ngeri melihat sosok Jonghyun yang tiba-tiba datang. Jonghyun melirik Taemin sekilas. Ia mendecakkan lidah. Kenapa harus bersama Taemin? Duduk bersebelahan pula!Tapi pandangannya langsung teralih pada Hyesoo yang tersedak dan buru-buru menenggak minumannya.

“Kukira kau tidak bisa memasak,” ejek Jonghyun lalu terkekeh sendiri. Ia mengambil sepotong kimbab dari kotak bekal Hyesoo tanpa meminta izin dan memasukkannya ke mulut. “Hmm… tidak buruk.”

“Siapa yang memperbolehkanmu mengambil makananku?” desis Hyesoo sini. “Sudah, sana pergi!”

Mwoya? Padahal aku sengaja meninggalkan dua orang itu untuk mencarimu,” Jonghyun mengambil sepotong kimbab lagi dan Hyesoo langsung memukul tangannya.

“Aku ‘kan sudah tidak berhutang apapun padamu! Sana, sana!” usir Hyesoo.

Ne, ne[6]” Jonghyun akhirnya menyerah walaupun mulutnya masih penuh dengan makanan. Ia mengelus kepala Hyesoo singkat sambil nyengir lebar. “Tapi, jangan rindu padaku nanti, ya.”

Taemin dan Youngmi yang melihat ‘kemesraan’ Jonghyun dan Hyesoo hanya bisa tercengang. Taemin mengira Jonghyun datang untuk memanggilnya atau apa, tapi kenyataannya? Ia justru melihat seorang gadis sinis dengan senior dulu sering mengganggunya malah terlihat akrab.

“Hyesoo-a,” panggil Taemin setelah Jonghyun pergi. “Tadi… kau dan Jonghyun seonbae[7]…”

“Kalian pacaran?” Youngmi bertanya cepat, memotong perkataan Taemin.

Mata Hyesoo membulat. “Tidak!”

*

Sudah hampir jam lima saat Hyesoo membuka pintu rumahnya. Ia kembali berjalan-jalan di sekitar sungai Han dan untungnya ia tidak bertemu lagi dengan Jonghyun disana. Kalau ia bertemu dengan Jonghyun lagi, mungkin Hyesoo memilih untuk tidak sekolah saja besok.

Wajah Hyesoo menegang saat mencium bau yang menyeruak dari dalam rumahnya. Alkohol. Ia segera berlari ke ruang tengah, mencari sumber bau tersebut. Botol-botol soju berserakan di lantai. Ia tahu ini tidak wajar. Perasaan Hyesoo semakin tidak enak saat ia mendengar langkah kaki. Hyesoo berbalik. Seorang pria paruh baya dengan wajah memerah sedang bersandar di dinding dapur rumahnya.

Ia menenggak soju dari botolnya lagi sambil melirik Hyesoo yang masih menegang di ambang pintu. “Darimana saja, huh?!”

Hyesoo tidak tahu apa yang harus ia katakan. Malah ia sebenarnya tidak mau bicara pada orang ini. Kalau Hyesoo pergi dari rumahnya sekarang untuk menghindari pertanyaan, mungkin rumahnya yang akan menjadi sasaran amarah pria ini nanti.

“Bukankah—hiks—sekolahmu selesai jam tiga?” tanyanya lagi. Hyesoo tetap mengatupkan mulutnya rapat-rapat. “YA! JAWAB!”

PRAANG!

Hyesoo menutup telinganya rapat-rapat, meskipun suara pecahan botol soju terdengar nyaring di telinganya. Bibirnya bergetar. Ia takut. Hyesoo berharap siapapun bisa menariknya dari tempat mengerikan ini.

“KENAPA DIAM?!!”

Kali ini Hyesoo mulai kehilangan keseimbangannya. Matanya berkunang-kunang. Pipinya semakin terasa perih saat airmata mulai membasahi. Ujung bibirnya terasa anyir. Tamparan itu terasa sangat sakit jika mengetahui siapa yang baru saja melakukannya. Ayahnya sendiri.

“Untuk apa kau sekolah?! Kau tahu, yang seharusnya mendapatkan pendidikan lebih itu Yoojoon! HAN YOOJOON!”

Han Dongjoon—ayah Hyesoo—akhirnya jatuh terduduk sambil menangis. Ia ingat saat kecelakaan itu. Saat anak laki-lakinya ingin melanjutkan pendidikannya ke Jerman. Tapi hari itu, ia tidak menyangka akan menjadi hari terakhir melihat Yoojoon.

Hyesoo tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Airmatanya terus mengalir, membuat pipinya semakin perih. Tangan Hyesoo mencoba menggapai dinding. Ia berusaha berdiri dan segera lari keluar rumah. Ia tidak ingin berada satu ruangan dengan ayahnya. Pria itu mabuk dan emosinya pasti akan dilimpahkan pada Hyesoo. Hyesoo tidak mau. Ia sudah cukup lelah disalahkan oleh semuanya.

*

Jonghyun menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menghangatkan diri dengan menghembuskan nafasnya. Padahal ia tahu, malam ini akan dingin. Tapi daripada ia dimarahi noonanya kalau ia menginap di rumah Kibum—dan noonanya tidak suka tinggal dirumah sendirian—Jonghyun terpaksa pulang dengan udara yang nyaris membekukan dirinya.

Jonghyun mengedarkan pandangannya. Seoul masih saja ramai meskipun sudah mulai larut. Ia pernah mencoba berkeliling kota ini saat dini hari, saat insomnianya mulai datang. Mungkin ia harus mengajak Hyesoo untuk merasakannya lain kali, pikir Jonghyun. Laki-laki itu lalu tersenyum sendiri, geli terhadapan dirinya yang masih sempat memikirkan Hyesoo.

Langkah Jonghyun terhenti di sebuah halte bus. Sepertinya ia terlalu sering memikirkan Hyesoo hingga melihat sosok gadis itu sedang duduk di halte bus dengan seragam sekolahnya.

Tapi detik berikutnya, tangan Hyesoo bergerak untuk mengusap wajahnya. Kali ini Jonghyun baru menyadari, apa yang ia lihat bukan halusinasi.

“Han Hyesoo,” panggilnya. Tapi gadis itu tidak menoleh.

Jonghyun akhirnya memilih untuk mendekati Hyesoo. Hyesoo yang menyadari kedatangan Jonghyun, justru semakin menunduk. Ia tidak ingin siapapun melihat wajahnya yang sekarang. Apalagi kalau orang itu Kim Jonghyun.

Y-ya, waegeurae[8]?” Jonghyun menunduk. Ia sempat melihat memar di pipi kiri Hyesoo, tapi gadis itu tetap berusaha menutupi wajahnya. “Siapa yang membuatmu seperti ini?”

Hyesoo memilih untuk bungkam. Pipinya masih perih ditambah tubuhnya yang amat lelah. Ia tidak ingin bicara sekarang. Tapi keinginan Hyesoo ditolak oleh tubuhnya. Bagaimanapun juga, ia butuh istirahat.

Jonghyun membantu Hyesoo untuk berdiri. Terasa sekali kalau Hyesoo sudah sangat lelah, tapi ia tetap diam. Jonghyun berusaha melihat wajah Hyesoo lalu bertanya, “Mau kugendong?”

Hyesoo menggeleng dan memilih untuk mengikuti Jonghyun ke rumahnya.

*

Jonghyun menyapukan kapas yang sudah dibasahi alkohol ke sudut bibir Hyesoo, membuatnya meringis. Hyesoo baru saja mandi dan Jonghyun menyuruhnya memakai baju noonanya lagi. Kali ini Hyesoo hanya dapat menurut. Bahkan saat Jonghyun menawarkan diri untuk mengobati lukanya, Hyesoo hanya mengangguk.

“Masih perih?” tanya Jonghyun.

Hyesoo bergumam mengiyakan. Jonghyun akhirnya memilih untuk berhenti mengusapkan alkohol itu dan langsung membereskan kotak obatnya.

Setelah membuang kapas-kapas tadi, Jonghyun kembali duduk di sebelah Hyesoo. Gadis itu sedang menatap langit-langit rumah Jonghyun dengan tatapan menerawang. Jonghyun memperhatikan pipi kiri Hyesoo. Sudah tidak semerah tadi, tapi pasti rasanya masih perih.

“Mau cerita sekarang?” Jonghyun bertanya hati-hati. Hyesoo menoleh, menatapnya datar. Lalu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Jonghyun mendesah pelan. Seharusnya ia tidak bertanya hal itu tadi.

Hanya suara detika jam di ruangan tempat Jonghyun dan Hyesoo berada. Noona Jonghyun sudah tidur—sepertinya—saat Jonghyun pulang. Sekarang jadi terasa sepi. Jonghyun tiba-tiba menginginkan Hyesoo marah-marah padanya seperti biasa.

“Ini… kalau kau ingin tahu kenapa, appaku yang melakukannya,” Hyesoo akhirnya bicara. Jonghyun mencoba menahan diri untuk tidak berkomentar sebelum gadis itu selesai. “Setahun yang lalu, oppa[9]… Yoojoon oppa berencana melanjutkan studinya ke Jerman. Hari itu, kami semua—aku, eomma[10], dan appa[11]—mengantar Yoojoon oppa ke bandara.”

Hyesoo menarik nafas dalam-dalam, lalu melanjutkan. “Kami tidak pernah mengira pesawat yang ditumpangi oppa mengalami gangguan teknis. Jatuh… Kecelakaan itu”—Hyesoo buru-buru mengusap bulir airmatanya yang mengalir—“Oppa dan penumpang yang lain, pilot, serta awak pesawat tidak ada yang selamat. Sejak saat itu, suasana rumah menjadi asing. Semua selalu menyalahkanku untuk kecelakaan itu. Padahal aku—”

Kali ini Hyesoo benar-benar menghentikan ceritanya. Ia menutup wajah dengan tangannya. Bayangan saat Appa menyalahkannya, saat Eommanya jarang pulang karena alasan pekerjaan meninggalkan luka tersendiri bagi Hyesoo. Ia lelah disalahkan. Ia lelah ditinggalkan.

Jonghyun menyentuh jemari Hyesoo yang tidak ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Ia menggenggam tangan Hyesoo erat. Ia tahu, gadis ini butuh seseorang untuk mendengarkannya. Dulu, ia tidak mempunyai orang itu. Tapi sekarang ada. Jonghyun ingin membantu Hyesoo menyelesaikan masalahnya, walaupun gadis itu menolak.

“Jangan menangis…” bisik Jonghyun sambil menyentuh pipi basah Hyesoo. Hyesoo menggigit bibirnya, berusaha berhenti terisak. Tapi tetap tidak bisa. Sudah lama ia tidak seperti ini dan kini ia tidak bisa menghentikannya.

“Ini bukan salahmu,” bisik Jonghyun lagi. “Semua akan baik-baik saja…”

Hyesoo menarik nafasnya dalam lalu menatap Jonghyun. Wajah seniornya memperlihatkan kekhawatiran, benar-benar khawatir. Ia lupa kapan terakhir kali ia melihat raut wajah seperti itu. Saat oppanya masih adakah? Entahlah.

“Semuanya akan baik-baik saja.” Jonghyun berbisik lagi. Hyesoo mengangguk. Ia tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini, tapi tubuhnya seakan ingin mempercayai kata-kata Jonghyun.

Jonghyun mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya menyentuh bibir Hyesoo. Sebuah kecupan singkat yang ingin ia berikan pada Hyesoo untuk mempertegas kalau Hyesoo tidak sendirian. Ia ingin terus berada disamping Hyesoo, mendukungnya agar tidak menyerah karena masalah yang dihadapinya. Jonghyun menautkan jemarinya dengan milik Hyesoo. Perasaan tidak ingin melepaskan gadis ini tiba-tiba menyelimuti Jonghyun, entah sejak kapan.

“Jonghyun-a wasseo[12]eh, kau sedang apa?”

Refleks Jonghyun melepaskan diri dari Hyesoo. Ia mengacak rambutnya sendiri, salah tingkah saat noonanya tiba-tiba keluar dari kamar. Jonghyun harusnya sadar kalau ia tidak hanya berdua dengan Hyesoo dirumah.

Kim Songdam mencondongkan tubuhnya sedikit, mengintip apa yang dilakukan adiknya. Jonghyun duduk bersebelahan dengan Hyesoo dengan kaki tidak bisa diam. Songdam terkekeh kecil.

“Aku mengganggu, ya?” tanay Songdam. Tapi mereka berdua tidak ada yang menjawab. Masih terlalu kaget dengan kedatangan Songdam yang tiba-tiba. “Baiklah, aku akan di kamar saja kalau begitu.”

Jonghyun melirik Hyesoo saat pintu kamar songdam tertutup, begitu juga Hyesoo. Mereka tertawa kecil mengingat wajah tegang mereka masing-masing tadi.

“Mash ada kamar kosong untuk tamu,” kata Jonghyun. Ia terlihat berpikir sejenak kemudian berkata lagi. “Apa kau mau tidur denganku saja?”

Detik berikutnya, Hyesoo langsung meninju lengan Jonghyun.

*

Jam menunjukkan pukul tiga pagi saat Hyesoo sampai di rumahnya. Ia sudah berganti pakaian dengan kaus panjang dan celana jins. Tas putih yang sekarang berada di punggungnya sudah terisi dengan beberapa pakaian, dompet, dan ponsel. Awalnya ia ingin mengatakan hal ini pada Jonghyun dan berterimakasih karena sudah membiarkan tinggal dirumahnya semalam. Tapi Jonghyun pasti tidak memperbolehkannya melakukan ini.

Hyesoo menarik nafas dalam lalu memantapkan dirinya sendiri. Ia menatap amplop putih yang sengaja di letakkan di meja belajarnya sebentar kemudian ia mengambil cap hitamnya dan segera keluar dari rumah.

Ia tahu apa yang dilakukannya. Ia juga sudah menyiapkan diri dengan apa yang akan terjadi.

*

Eomma, Appa, aku akan pergi sementara agar kalian bisa berpikir lebih jernih. Tidak selamanya kita harus seperti ini. Hidup harus terus berjalan, karena itu kita tidak bisa terus menoleh ke belakang. Tapi kalau kalian tidak bisa kembali seperti dulu, saat kita masih berempat, aku memilih akan pergi selamanya. Menyusul oppa.

Hyesoo.

To Be Continued

Footnote:

[1] Noona: panggilan perempuan yang lebih tua oleh laki-laki
[2] Mwohae: Apa yang kau lakukan?
[3] Ahjumma: panggilan untuk wanita yang lebih tua
[4] Annyeong: Hai
[5] Imnida: dipakai saat memperkenalkan diri
[6] Ne, ne…: Iya, iya…
[7] Seonbae: sebutan untuk senior/kakak kelas
[8] Waegeurae: Kau kenapa?
[9] Oppa: panggilan laki-laki yang lebih tua oleh perempuan
[10] Eomma: Ibu
[11] Appa: Ayah
[12] Wasseo?: Kau sudah datang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s