[chaptered/ongoing] Next To You – Chapter 4: Fork

Next To You

Character Chart

(click for enlarge)

Title: Next To You
Author: Ai Lee
Casts: Han Hyesoo (OC), Kim Jonghyun (SHINee), Lee Youngmi (OC), Choi Yoora (OC), and the other SHINee members.
Length: Chapter (4 of ?)
Rated: PG+15
Author’s note: Setelah selesai bikin side story JinMi, aku kembali ke HyunSoo lagi nih. Ah iya, Next To You character chart has been release! Aku berencana buat bikin side story yang lain. Masih ada tempat tuh buat Lockets, Flames, sama Taemints. Yang berminat jadi cast, langsung komen aja disini nama korea+kriteria masing-masing. No silent reader, please and enjoy! ^^

Chapter 4: Fork

Hyesoo mengerjapkan matanya. Badannya masih terasa pegal, tapi cahaya matahari yang menerobos jendela memaksanya untuk bangun. Pandangannya mulai bisa terbiasa dengan dengan dinding kamar yang berdominan baby pink. Hyesoo mengerutkan dahi. Bukankah dinding kamarnya berwarna putih?

Ia segera bangkit dari posisi tidur, memperhatikan sekeliling yang semakin aneh. Meja belajar, lemari pakaian, foto-foto gadis yang ditempelkan di pinggiran cermin.

Ini jelas bukan bukan kamarnya.

Hyesoo berlari keluar ruangan itu. Selain bukan kamarnya, ini juga bukan rumahnya. Gaya minimalis yang modern membuat Hyesoo semakin merasa asing. Ia menumpu tangannya ke dinding terdekat, mencoba memikirkan apa yang terjadi terakhir semalam. Ia pergi ke klub malam di daerah Hongdae karena penasaran, mencoba beberapa minuman yang ditawarkan bartender, ikut menari dengan para remaja yang—kelihatannya—juga mabuk, bertemu dengan senior yang mengajaknya bicara di halte. Dan semuanya gelap.

Tidak mungkin ini

“Oh, kau sudah bangun?” suara berat laki-laki mengagetkan Hyesoo. Ia melongo melihat orang sama, orang yang ia temui di halte bus dan Hongdae, hanya memakai kaus putih dengan celana panjang hitam. Rambutnya masih basah, terlihat sekali ia baru mandi.

Ini rumahnya. Itulah yang terlintas dipikiran Hyesoo saat melihat Jonghyun dengan pakaian santai.

“Cepat sarapan lalu segera pulang ke rumahmu,” suruh Jonghyun tanpa mempedulikan Hyesoo yang masih kebingungan. “Ya! Wae[1]?

“Kau yang membawaku kesini?” tanya Hyesoo memastikan.

Jonghyun mengangguk-angguk dengan wajah yang malas untuk ditanyai. “Aku baik ‘kan?”

Mendengar perkataan Jonghyun, Hyesoo justru melotot. Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada pakaian yang dikenakannya. Bukan seragam sekolah yang terakhir ia pakai. Kemeja wanita berwarna putih dengan celana pendek mocca kini yang melekat di tubuhnya.

“Siapa yang menggantikan pakaianku?!” Sekarang nada bicara Hyesoo meninggi. Ia tidak mengingat banyak hal tentang semalam. Yang jelas, ia sama sekali tidak ingat sudah berganti pakaian.

“Kau lihat, tidak ada seorangpun di rumah ini selain kita. Kurasa kau tahu jawabannya,” sahut Jonghyun. Wajah Hyesoo benar-benar memanas kali ini. Tenggorokannya tercekat. Perasaan antara malu dan marah menjadi satu. Bagaimana bisa pakaiannya digantikan oleh laki-laki? Bahkan orang yang tidak dikenalnya.

“Tenang saja, aku tidak tertarik pada tubuh anak-anak sepertimu.”

YAAA!!

*

Kibum menyeret langkahnya menuju pintu. Ia menggaruk-garuk kepalanya tanda ia sedang malas sekali untuk membuka pintu. Minho yang kini berada di depan Kibum nyengir lebar dan disambut dengusan kesal dari si pemilik rumah.

“Sekalian saja kau bangunkan aku jam lima pagi,” gerutu Kibum. “Tumben kau datang sepagi ini.”

“Mau ke rumah Jonghyun?” tawar Minho tanpa basa-basi.

“Sekarang?” tanya Kibum sambil mengambil segelas air dan langsung menenggaknya. “Untuk apa?”

“Hanya menghawatirkan gadis yang kemarin,” jawab Minho. Ia merebahkan tubuhnya di sofa putih Kibum. “Memangnya kau bisa mempercayainya yang hanya berdua saja dengan seorang gadis?”

Ya! Ide siapa menampungnya di rumah Jonghyun, huh?” sindir Kibum.

“Itu juga karena orangtua dan noona[2]nya sedang tidak ada di rumah!” tegas Minho. Sekarang Kibum sudah mengganti pakaiannya dan sedang merapikan rambutnya. Laki-laki itu hanya mengangkat bahu, merespon ucapan Minho.

“Ayo, pergi.”

*

YA! Apa yang akan kau lakukan dengan garpu itu?!!”

Hyesoo melotot melihat Jonghyun yang berada tepat dibawahnya. Ia mencengkram pergelangan tangan Jonghyun sambil mengacungkan garpu yang ia pakai untuk sarapan kearah Jonghyun. Nafasnya memburu dan wajahnya memanas. Ia tidak percaya apa yang baru saja didengar. Seluruh emosinya keluar hanya karena ulah satu orang. Kim Jonghyun.

“Kenapa tidak sejak awal kau bilang kau lihat semuanya agar aku bisa membunuhmu lebih cepat?!” pekik Hyesoo tidak sabar. Membunuh memang bukan hobinya. Tapi Jonghyun membuatnya ingin menumpahkan semua masalahnya dengan cara membunuh orang ini.

Ya! Aku kan hanya melihat, tidak melakukan apa-apa!” sanggah Jonghyun dengan tangan yang menahan pergelangan Hyesoo untuk berjaga-jaga jika gadis ini berbuat tiba-tiba. “Bagaimana mungkin aku menggantikan bajumu dengan mata tertutup!”

Hyesoo mengerang. Ia kesal. Kesal karena usahanya menjadi bad girl semalam bukan membuahkan hasil—melupakan pikiran penat di kepalanya sejenak—malah mempertemukannya dengan senior yang sudah tidak bisa ia hormati lagi.

Suara benda logam yang dilempar menyambut Kibum dan Minho yang langsung masuk ke rumah Jonghyun. Mulut mereka menganga melihat Jonghyun yang duduk di lantai sedangkan Hyesoo berada di hadapannya sedang mengusap-usap wajah. Garpu di samping Hyesoo membuat mereka menyadari atmosfer di ruang makan Jonghyun.

“Kau berbuat yang aneh-aneh lagi?” tuduh Minho tanpa mengucapkan ‘hai’ atau semacamnya.

“Apa salahku?!” balas Jonghyun. Minho masih menatap Jonghyun tidak percaya.

Sementara Hyesoo berdiri, merapikan dirinya sendiri. Ia meletakkan garpu yang digunakannya untuk—hampir—membunuh Jonghyun keatas meja kembali.

“Aku mau pulang,” gumam Hyesoo hanya sebagai pemberitahuan tanpa harus berkata langsung. “Terimakasih untuk semuanya.”

Walaupun enggan, Hyesoo masih tahu bagaimana caranya berterimakasih pada orang yang sudah meminjamkan kamar kakaknya untuk ia pakai semalam. Kibum menahan Hyesoo sebelum gadis itu kembali ke kamar untuk mengambil tasnya. Hyesoo menatap Kibum dengan tatapan mau-apa-lagi-orang-ini.

“Sepertinya semalam kau memakai seragam,” kata Kibum memperhatikan pakaian yang dikenakan Hyesoo. “Tidak mungkin kau mengganti—”

Kibum menggantungkan kata-katanya dan langsung menoleh pada Jonghyun. Begitu juga Minho. Hyesoo tiba-tiba teringat apa yang membuatnya marah sekali pada Jonghyun. Wajahnya kembali memanas dan bayangan Jonghyun menggantikan pakaiannya terlintas begitu saja.

“Apa lagi? Aku hanya menggantikannya!”

*

Hyesoo menopang dagunya sambil memainkan pensilnya. Di depan kelasnya sekarang berdiri seorang guru baru—guru pengganti—yang sedang memperkenalkan diri. Ia sama sekali tidak ada minat dengan yang namanya guru baru. Itu hanya membuatnya untuk harus menyesuaikan diri lagi, walaupun guru itu hanya seorang diri. Tapi, semua yang berkaitan dengan kata baru pasti butuh penyesuaian diri.

Sementara para siswa merasa senang karena kedatangan seorang guru tampan di jam pelajaran matematika mungkin bisa membuat mereka bersemangat belajar. Teman sebangku Hyesoo—atau lebih tepatnya, hanya duduk di sebelah Hyesoo—malah menganga memperhatikan guru bernama Lee Jinki itu. Entah apa yang dipikirkannya, Hyesoo tidak peduli.

Ia ingin bel cepat-cepat berbunyi. Ia butuh tempat menyendiri. Setidaknya tempat yang tidak banyak orang disekitarnya.

*

Taemin sibuk menghisap lolipopnya sambil menikmati sinar matahari di taman belakang sekolah. Hari ini ia berhasil kabur dari Jonghyun dan teman-temannya, membuat Taemin merasa sedikit lega. Walaupun ia tahu Jonghyun mungkin saja akan menemukannya disini, tapi cuaca yang bersahabat meminta Taemin menikmatinya sejenak.

Ekor matanya tiba-tiba menangkap sosok gadis yang sedang duduk di bangku kayu. Gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas kedua tangan yang ia tumpuk diatas meja kayu. Mood Taemin yang sedang baik membuatnya ingin mencari teman bicara. Ia berjalan menghampiri gadis itu. Entah apa yang membuatnya menyadari kedatangan Taemin, gadis itu mengangkat wajahnya dan langsung menoleh pada Taemin.

Taemin terkesiap karena bukannya mengagetkan ia justru dikagetkan. Ia tersenyum lebar sambil melambai. Ia kenal gadis itu, walaupun sepertinya ia tidak mengharapkan kedatangan Taemin.

Annyeong[3]!” sapa Taemin lalu duduk di depan Hyesoo.

Hyesoo hanya melirik Taemin sekilas dan kembali meletakkan kepalanya diatas meja. Ia lelah untuk menanggapi orang-orang di sekitarnya. Kalaupun Taemin memiliki niat baik, ia tetap tidak punya keinginan untuk membuka mulutnya.

“Kau sendirian?” tanya Taemin basa-basi.

Hyesoo mendengus. “Memangnya aku membawa pengawal kesini?”

Taemin terkekeh. Hyesoo tidak punya niat untuk melucu, tapi justru itu yang membuat Taemin merasa geli. Nada bicara Hyesooyang datar dengan perkataannya sungguh tidak cocok.

“Aku pernah melihatmu ke kantin bersama teman,” kata Taemin membuka pembicaraan lagi. “Sekarang tidak bersamanya lagi?”

“Teman yang mana?” Seingat Hyesoo, selama ia berada di sekolah ini ia tidak merasa memiliki teman.

“Yang berambut hitam panjang, waktu itu kalian ke kanti bersama,” ujar Taemin emncoba mengingatkan Hyesoo.

Dahi Hyesoo mengernyit, mengingat siapa yang dimaksud Taemin. “Oh, Lee Youngmi?”

“Memangnya dia bukan temanmu?”

“Menurutmu?”

Taemin mendecakkan lidah. Hyesoo memang susah untuk diajak bicara. Entah apa yang membuatnya tidak pernah punya mood yang bagus setiap bertemu Taemin. Apa memang mereka tidak bisa menjadi teman? Padahal Taemin bermaksud baik untuk berteman dengan Hyesoo yang sepertinya sangat menjauhi dunia sosialisasi.

Siswa berambut cokelat kayu itu mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja sambil memandang ke arah lain. “Hari ini kau ada pelajaran matematika? Aku dengar, ada guru baru yang menggantikan Kim songsaenim selama beliau cuti hamil.”

Taemin menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya. “Padahal aku lebih nyaman diajari Kim songsaenim. Sekarang, harus menyesuaikan diri dengan orang asing lagi.”

Hyesoo menegakkan posisi duduknya. Ia melipat tangan di depan dada. Matanya menatap Taemin datar.

“Kau mengharapkan apa dengan menceritakan itu padaku?” desis Hyesoo sinis.

Ani[4] Aku hanya ingin berbagi cerita,” sahut Taemin. “Kau terlihat tertutup sekali. Jadi, kupikir lebih baik aku yang terbuka lebih dulu.”

Hyesoo menyipitkan mata, menatap Taemin seakan ingin bilang jangan-berbelit-belit-bicara-padaku. Dan tanpa disuruh, Taemin melanjutkan. “Bukankah teman itu harus saling terbuka?”

Kata-kata Taemin seakan mendorong Hyesoo hingga tidak bisa bernafas untuk beberapa saat. Bukankah teman itu harus saling terbuka? Hyesoo mengerjap dan menemukan dirinya kembali. Ia melirik Taemin yang masih tidak tahu harus bicara apa lagi. Samar-sama Hyesoo tersenyum.

“…gomawo[5].”

*

Kibum berusaha berkonsentrasi dengan sketsa bangunan yang ia torehkan diatas kertas, tapi suara Jonghyun membuyarkan konsentrasinya. Ia meringis, kesal. Entah sudah berapa kali temannya ini merusak suasana hatinya untuk membuat sketsa.

“Kalian sudah membiarkanku satu atap dengan gadis gila!”

Kibum mengangkat sebelah alisnya, menatap Jonghyun dengan tatapan aneh. Ia kembali melanjutkan goresan pensilnya diatas buku sketsa. “Ini kedelapan kalinya kau berkata seperti itu.”

“Tapi dia benar-benar gila!” pekik Jonghyun lagi. “Dia nyaris membunuhku dengan garpu!”

“Pffft!”

Minho tergelak. “Yang sepertinya sudah gila itu kau, Kim Jonghyun!”

“Dari segi fisik, jelas kau lebih unggul darinya. Dan garpu?! Cih, please, Kim Jonghyun.” Kibum mulai mengomel tanpa mengalihkan padangan dari buku sketsanya.

“Aku—” Jonghyun ingin membalas perkataan dari dua temannya, tapi ia urungkan niatnya. Kalau dipikir-pikir, Kibum benar. Seharusnya ia bisa menahan Hyesoo sebelum gadis itu mengacungkan garpu padanya. Tapi Jonghyun merasa ada yang menahan tangannya. Sosok Hyesoo yang sekilas terlihat rapuh membuatnya tidak bisa berkutik. Atau mungkin hal lain? Entahlah.

“Yang jelas, dia itu gila!”

*

“Kau yakin, tidak mau keluar kelas sama sekali?” tanya Youngmi sekali lagi.

Dan sekali lagi pula Hyesoo mengangguk yakin. Novel yang dibawa Youngmi menyita perhatian Hyesoo. Hampir sepertiga buku yang mempunyai lebih dari duaratus halaman itu dilahap Hyesoo. Sudah lama ia tidak berjalan-jalan ke toko buku. Ia tidak menyangka ternyata novel dari salah satu penulis favoritnya sudah terbit.

“Baiklah, kalau begitu aku ke toilet dulu ya.” kata Youngmi.

Hyesoo mengangguk lagi. Ia terlalu asik dengan novel yang dibacanya hingga melupakan sekelilingnya. Tiba-tiba Hyesoo teringat sesuatu. Setelah pelajaran matematika, ada pelajaran bahasa Inggris dan Jang songsaenim memberikan mereka tugas kemarin. Ia mengingat-ingat, apa tugas itu sudah ia kerjakan?

Hyesoo mengaduk tasnya, mencari buku catatan bahasa Inggris saat seseorang tiba-tiba berada di hadapannya. Youngmi bergetar saat tangannya bertumpu meja Hyesoo. Kemeja putihnya menjadi semi transparan karena air yang membasahi tubuhnya. Ia menggigil kedinginan. Giginya bergemeletuk dan matanya sembab karena menangis.

“Hyesoo-a…” Youngmi memanggil namanya.

Hyesoo menatap Youngmi kasihan. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Youngmi hingga bisa seperti itu. Tapi ia tahu yang dibutuhkan Youngmi sekarang. Jelas, bukan sikap dingin yang biasa Hyesoo perlihatkan pada semua orang.

“Pulanglah,” ucap Hyesoo.

Youngmi masih terlihat bingung. Ia masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apa yang baru Yoora lakukan masih menyimpan sedikit trauma yang membuat Youngmi linglung. Melihat Youngmi yang tidak memberikan respon, Hyesoo segera menyodorkan tas putih Youngmi kepada pemiliknya.

“Pulanglah,” ulang Hyesoo. “Aku bisa memberikan alasan pada Lee songsaenim nanti.”

Walaupun masih tidak mempercayai sikap Hyesoo yang tiba-tiba menjadi aneh, Youngmi tetap menyambar tasnya dan langsung berlari keluar kelasnya. Berlari secepat mungkin sebelum ada seorangpun yang menyadari keberadaannya.

Tak lama setelah Youngmi pergi, bel tanda masuk berbunyi. Lee Jinki masuk dengan setelan jas hitamnya. Ia membuka buku kehadiran siswa dan mulai memanggil mereka satu persatu.

“Lee Youngmi?”

Hyesoo berinisiatif mengangat tangan ketika nama Youngmi dipanggil. Jinki menoleh padanya. “Youngmi bilang, dia izin pulang lebih cepat karena tidak enak badan.”

“Ah… keuraeyo[6]?”

Jinki mengangguk-angguk mendengar alasan Hyesoo. Diam-diam  Hyesoo menghela nafas lega. Setidaknya ia bisa membantu Youngmi. Walaupun hanya sedikit.

*

Hyesoo terus menjilati strawberry-cheese ice creamnya sambil memandangi warna jingga yang dipancarkan matahari di ujung sungai Han. Walaupun hari mulai gelap, ditambah lagi langit yang mulai mendung tidak dapat merusak mood Hyesoo yang sedang baik. Bahkan Hyesoo sengaja menyempatkan diri duduk-duduk di dekat sungai Han sambil memakan es krim favoritnya. Selain untuk menghabiskan waktu, ia juga ingin merasakan betapa nyamannya cuaca sore itu.

“Oh, si gadis garpu!”

Sebuah suara membuat mood Hyesoo tiba-tiba berubah. Ia mendapat senior yang pernah menampungnya—atau menculiknya—di rumahnya beberapa hari yang lalu. Hyesoo masih belum tahu siapa nama si senior. Dan ia tidak ingin tahu. Melihat laki-laki berambut cokelat gelap itu nyengir lebar membuat Hyesoo ingin segera pulang.

“Kau tidak menawariku es krim?” tanya Jonghyun yang menempatkan dirinya duduk di sebelah Hyesoo.

“Mau apa kesini? Mengikutiku?” tuduh Hyesoo sinis tanpa mempedulikan gurauan Jonghyun.

“Memangnya aku tidak boleh jalan-jalan?” balas Jonghyun tidak mau kalah. “Ya, di kantongmu tidak ada garpu ‘kan?”

“Cih, mwoya[7]” Hyesoo mendengus. Seniornya yang satu ini benar-benar merusak mood. Rasa stroberi dan keju di es krimnya menjadi tidak seenak biasa. Pasti karena orang ini, gerutu Hyesoo dalam hati.

Ekor mata Hyesoo tiba-tiba menangkap sosok pasangan yang sedang berpelukan tidak jauh dari tempat Hyesoo berada. Hyesoo mengenali tas yang gadis itu pakai. Rambut hitam panjangnya juga mengingatkan Hyesoo pada seseorang. Mungkin Youngmi akan menceritakan sesuatu padanya besok pagi.

Jonghyun melirik Hyesoo sekilas lalu mengikuti arah mata Hyesoo. Kenapa anak ini terus menatap pasangan yang sedang berpelukan? Jonghyun mengulum senyum. Tiba-tiba pikiran iseng mendatanginya.

“Kau mau seperti itu?” tanyanya pada Hyesoo. Hyesoo tersentak, tidak sadar kalau ia masih memperhatikan orang-yang-kelihatannya mirip Youngmi. Ia melirik Jonghyun yang sedang merentangkan tangannya dengan sinis. “Ja! Sini ke pelukan Jonghyun oppa[8]!”

Detik selanjutnya, Hyesoo langsung berdiri. Ia melangkah cepat menjauhi Jonghyun dan laki-laki itu justru mengikutinya dengan tertawa.

“Goda saja gadis lain! Aku tidak tertarik padamu!” seru Hyesoo menahan malu. Seniornya ini memang gila. Seharusnya ia membunuh orang ini sejak pertama bertemu.

“Kau tidak bisa diajak bercanda, ya!” Jonghyun mengomel tanpa bisa menghentikan tawanya. Melihat ekspresi Hyesoo yang malu-malu sekaligus kesal menjadi kesenangan tersendiri baginya. Entah sejak kapan.

Tiba-tiba hujan deras turun tanpa pemberitahuan. Semua penunjung sungai Han langsung berlari untuk berteduh. Hyesoo merasa tangannya ditarik. Ia berusaha melepaskan tangan Jonghyun yang mencengkram pergelangan tangannya, tapi laki-laki itu justru kembali mengomel.

“Memangnya kau mau kehujanan, huh?!” omelan Jonghyun membuat Hyesoo menyerah dan memilih untuk mengikutinya.

Mereka berteduh di depan sebuah café yang tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi. Hujan turun semakin deras. Beruntungnya Jonghyun dan Hyesoo yang masih bisa mendapat tempat berteduh. Jonghyun dapat mendengar suara petir yang mulai berkecamuk. Cuaca akhir-akhir ini tidak menentu, tapi ia tidak pernah berpikir akan disambut hujan dan petir seperti sekarang.

Aish… kenapa bisa tiba-tiba hujan?” Jonghyun bergumam sambil menggosok kedua tangannya untuk menahan dingin. Gerakannya terhenti sejenak ketika mendengar suara pekikan kecil. Ia menoleh pada Hyesoo. Gadis itu sekarang menutup kedua telinga dengan tangannya. Matanya tertutup rapat-rapat, seakan sedang mendapat musibah besar.

Jonghyun menatap Hyesoo kashan. Ia membungkuk untuk melihat gadis itu. Tepat saat petir menyambar—entah-dimana—lagi, Hyesoo kembali menjerit. Ia takut petir. Ia benci petir.

“Han Hyesoo…” Jonghyun menyentuh jemari Hyesoo yang masih menutup telinganya. Name tag yang dipakai gadis itu akhirnya memberitahu Jonghyun siapa namanya. Ia memandangi setiap sudut raut wajah Hyesoo yang tidak bisa menutupi ketakutannya. Ada semacam trauma yang terpancar dari sana. Penasaran dan iba mendatangi Jonghyun. Sisi rapuh Hyesoo membuatnya mengerti kenapa ia tidak bisa melawan gadis ini.

“Han Hyesoo,” panggil Jonghyun lagi. Hyesoo tidak menjawab. Ia masih tidak punya keberanian hanya untuk membuka matanya saja. “Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah.”

To Be Continued

Monday, 23 January 2012

12.21 PM

Footnote:
[1] Wae? : Kenapa?
[2] Noona: sebutan perempuan yang lebih tua oleh laki-laki
[3] Annyeong: Hai
[4] Ani: Tidak
[5] Gomawo: Makasih
[6] Keuraeyo? : Begitu?
[7] Mwoya: Apaan sih
[8] Oppa: sebutan laki-laki yang lebih tua oleh perempuan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s