[chaptered/ongoing] Next To You – Chapter 3: Because I Love You

Because I Love You

Title: Because I Love You (Side Story of Next To You)
Author: Ai Lee
Casts: Lee Youngmi (OC), Lee Jinki, Han Hyesoo (OC), Choi Yoora (OC), and the others.
Genre: Romance, School
Length: Chapter (3 of ?)
Rating: PG+13
Author’s Note: Annyeong! Halo! Ai lagi bosen sama HyunSoo couple, jadi bikin side story aja deh. Tentang JinMi (Jinki-Youngmi) yang mungkin bisa “menyegarkan” pikiran reader yang penat karena HyunSoo yang terlalu flat. Special for my besties’ birthday, Lee Youngmi! Enjoy~ ♥ (P.S: Mianhae, posternya ancur banget. Lagi males bikin, jadi seadanya gini >.< yang penting isinya, iya ga? Hehehe)

Chapter 3: Because I Love You

Annyeong[1]!”

Hyesoo menolehkan kepalanya dengan malas dan disambut oleh cengiran Youngmi. Gadis itu kini berdiri di samping tempat duduk kosong sebelahnya lengkap dengan tas dan beberapa buku di tangan. Hyesoo mengira-ngira mau apa anak ini, pulang lebih dulu sementara pelajaran belum di mulai?

“Boleh aku duduk di sampingmu?” tanya Youngmi. Ia buru-buru memberi alasan sebelum Hyesoo sempat menjawab. “Akhir-akhir ini Yoora menyebalkan. Aku kadang tidak tahan duduk dengannya. Boleh aku duduk disini? Untuk beberapa hari, mungkin.”

Hyesoo tidak banyak bicara, hanya mengangguk untuk menyetujui permintaan Youngmi. Youngmi terkekeh senang dan segera meraruh tasnya di depan meja. Ia mengeluarkan beberapa buku yang akan dipakai untuk pelajaran pertama. Youngmi menaruh tasnya ke belakang punggungnya tepat saat Jung songsaenim[2]—guru olahraga mereka—masuk kelas.

“Aku minta perhatian kalian sebentar,” katanya di belakang meja guru. Kelas yang awalnya berisik karenasiswa-siswa yang mengobrol langsung berubah menjadi sunyi, menunggu Jung songsaenim bicara. “Kim Taeyeon songsaenim mengambil cuti hamil mulai hari ini. Diperkirakan ia akan melahirkan satu atau dua minggu lagi.”

Beberapa siswa mulai berbisik-bisik karena guru matematika yang harus mengajar pagi ini harus mengambil cuti. Hyesoo melirik sekeliling. Mereka pasti senang sekali karena ada kemungkinan hari ini tidak belajar matematika. Dan itu sudah terlihat dari teman sebangku barunya yang tersenyum-senyum sendiri membayangkan betapa bahagianya ia terbebas dari pelajar menghitung.

Jung songsaenim mengetuk-ngetuk meja, menyuruh para siswa diam. “Jadi, untuk beberapa minggu ke depan Kim Taeyeon songsaenim akan digantikan oleh guru baru.”

Banyak yang kecewa karena batalnya jam kosong mereka. Tapi ada juga yang penasaran siapa guru baru yang akan menggantikan Kim songsaenim nanti. Youngmi termasuk yang kecewa dan Hyesoo adalah kebalikannya. Setidaknya matematika tidak membuatnya mengantuk, seperti pelajaran sejarah misalnya.

Seorang laki-laki tinggi yang lengkap dengan setelan jas hitam dan kacamata framlessnya masuk ke kelas setelah Jung songsaenim menyuruhnya. Ia menggantikan tempat Jung songsaenim berdiri. Laki-laki itu membungkuk sejenak lalu tersenyum ke seluruh penjuru kelas.

Annyeonghaseyo[3], Lee Jinki imnida[4],” katanya. “Untuk beberapa minggu ke depan, aku akan menggantikan Kim songsaenim mengajar matematika di kelas ini.”

Kembali terdengar bisik-bisik para siswa saat guru baru itu—Lee Jinki—memperkenalkan diri. Hyesoo sendiri sedikit terperangah. Pria itu terlihat jauh lebih muda dari Kim songsaenim. Apa orang ini benar-benar cukup umur untuk menjadi guru pengganti? Hyesoo melirik ‘teman’ sebangkunya. Youngmi bahkan terlihat tidak bisa menutup mulutnya saat memperhatikan Lee Jinki. Matanya mengerjap beberapa kali lalu alisnya mengkerut. Apa dia orang yang sama saat di toko buku itu?

Hyesoo menghela nafas saat Lee songsaenim menyuruh untuk membuka buku pelajaran. Hari ini akan sangat panjang untuk menyesuaikan diri dengan guru baru.

*

“Youngmi-ya!”

Gadis yang namanya dipanggil itu menoleh dengan sedotan yang masih di mulut. Yoora melambai padanya lalu duduk di bangku depan Youngmi. Padahal ia berencana menghindari Yoora yang pasti makan siang di kelas. Karena itu ia memilih untuk menikmati sekotak susu di kantin. Tapi gadis yang rambutnya sengaja ia cat cokelat itu justru menghampirinya disini.

“Kau tidak bawa bekal hari ini?” tanya Yoora. Walaupun Youngmi tahu ia hanya basa-basi.

“Kenapa?” balas Youngmi bertanya to-the-point.

Ani[5]…” Yoora merenggangkan ototnya sambil tersenyum-senyum sendiri. “Menurutmu bagaimana dengan guru baru itu?”

“Lee songsaenim?”

“Mm! Dia tampan, ya!”

Youngmi hampir saja tersedak mendengar pernyataan Yoora. Ia juga tahu, Lee songsaenim bisa dibilang tampan. Tapi apa maksudnya ia bicara seperti itu pada Youngmi? Ini seperti sedang membicarakan seorang anak baru tampan yang hadis di kelas mereka.

“Kau tahu, aku baru saja mendengar informasi mengejutkan dari Tuan Lee.” Tuan Lee?! “Wajahnya sama seperti umurnya. Dia baru duapuluh empat tahun!”

Youngmi melotot menatap Yoora, tidak percaya. “Kau bercanda!”

“Serius!” balas Yoora. “Tapi aku masih belum tahu kenapa ia bisa menjadi guru disini. Mau mencari tahu bersama, sambil… kau tahu, mengenalnya lebih dekat?”

Youngmi mendengus dan kembali menyeruput susu stroberinya. “Sudah punya pacar, masih saja genit.”

“Ya sudah, kalau tidak mau!” Yoora langsung berdiri sambil merengut saat mendapatkan jawaban cuek dari Youngmi. Youngmi hanya memutar bola matanya mendengarkan umpatan Yoora walapun gadis itu sudah pergi menjauh.

*

Entah sudah berapa kali Youngmi melirik jam tangannya. Ia meringis kesal. Oppa[6]nya berjanji akan menjemputnya hari ini. Tapi, nyatanya? Hampir setengah jam ia menunggu! Kalau tahu akan seperti ini, Youngmi pasti memilih pulang dengan bus.

Setelah memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya, akhirnya Youngmi memilih untuk berjalan ke halte bus walaupun beresiko seragamnya akan basah kuyup. Youngmi berbalik dan langkahnya terhenti melihat siapa yang ada di sampingnya. Laki-laki yang sedang membuka payung bening lebar itu melirik Youngmi seklas, lalu tersenyum.

Youngmi ingat senyum ini.

“Belum pulang?” tanya Lee Jinki. Youngmi buru-buru menggeleng saat mendapatkan dirinya kembali. “Kau pulang naik apa?”

“B-bus.” Sontak Youngmi langsung menggigit bibirnya sendiri. Bagaimana bisa ia menjadi gugup begini?! “Songsaenim?”

Jinki melirik jam tangannya. Sepertinya masih sempat untuk membuatkan makan malam besar untuk adiknya yang berulang tahun hari ini. Ia menoleh pada Youngmi yang baru saja memanggilnya. Gadis itu menatap Jinki dengan kening berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Ne[7]?” sahut Jinki.

“Apa… kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Youngmi ragu. Ia yakin, Jinki adalah orang yang menolongnya di toko buku beberapa hari yang lalu. Tapi kenapa Jinki terlihat berbeda? Apa karena setelan jasnya?

Sekarang giliran Jinki yang menatap Youngmi sambil mengingat-ingat. “Ah! Toko buku!”

Majayo[8]! Ternyata itu benar songsaenim!” Youngmi berseru riang, kemudian langsung menunduk menyadari tingkahnya yang berlebihan. “Mianhaeyo[9].

Jinki terkekeh. “Gwenchanha[10]. Sudah mulai sore, kau tidak langsung pulang?”

Youngmi gugup untuk menjawab. Jawabannya pasti akan mempermalukannya lagi. “A-aku tidak bawa payung.”

Sementara hujan yang mengguyur semakin deras, Youngmi memilih untuk menunduk. Ia tahu sudah seberapa merah wajahnya karena malu. Jinki mengulum senyum melihat tingkah Youngmi.

“Payungku terlalu kecil untuk dua orang. Bagaimana kalau aku ke parkiran dulu?” tanya Jinki.

Youngmi memiringkan kepalanya, bingung. “Ne?”

“Kau tidak mau kuantar? Hujan seperti ini akan lama berhenti,” Jinki bersahut lagi.

Bukannya menjawab, pertanyaan Jinki justru semakin membuat Youngmi bingung. Tak lama kemudian, ia mengangguk sebelum Jinki menerobos hujan dengan payungnya.

Entah dia benar-benar malaikat atau bukan.

*

Jinki memeriksa satu per satu lembar ulangan yang baru saja ia nilai beberapa saat lalu. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada salah satu kertas. Ia tersenyum sekilas lalu berdiri di balik mejanya.

“Nilai ini akan masuk ke nilai harian kalian,” ucap Jinki yang langsung membuat seisi kelas terdiam. “Karena itu, bagi yang merasa nilainya masih kurang, temui aku saat pulang sekolah nanti.”

Ne, songsaenim,” sahut para siswa. Beberapa diantara sudah terlihat lemas karena merasa akan jadi orang yang harus masuk ruang guru.

Jinki berkeliling kelas, membagikan lembaran kertas ulangan. Tangan Youngmi berhenti mengetuk-ngetuk pensil saat Jinki berada di depan mejanya. Jinki tersenyum saat memberikannya kertas ulangan pada Youngmi.

Chukhahaeyo[11],” katanya dan langsung pergi.

Youngmi melirik kertasnya. Matanya membulat melihat tinta merah di kotak nilai. Sembilan puluh delapan, angka yang nyaris sempurna.

*

Jinki kembali menutup mulutnya, menguap karena kantuk yang melanda. Ia memasukkan dua cup mie instan dan sebungkus kimchi kering ke dalam keranjang belanjanya. Tak lupa sekotak kopi instan masuk ke dalam keranjang sebelum ia ke kasir.

Ia harus menyelesaikan beberapa lembar naskah lagi yang perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Jinki memang bukan tipe orang yang kekurangan uang, sampai ingin menjadi freelance translator Mandarin-Korea. Tapi rasa penasarannya-lah yang membuatnya ingin mencoba pekerjaan ini. Dan sepertinya ia tahu kenapa minimarket duapuluh empat jam didirikan.

Suara bel pintu minimarket membuat Jinki yang sedang menunggu antrian di kasir menoleh. Ia terkesiap melihat gadis berkaus biru dengan celana pendek yang baru saja membuka pintu bening itu.

“Oh, Lee songsaenim!” sapa gadis itu. Lee Youngmi. Tanpa Jinki sadari, ia menaikan sudut bibirnya. “Songsaenim sedang apa malam-malam begini?”

“Seharusnya aku yang bertanya,” gerutu Jinki, berpura-pura kesal.

Youngmi terkekeh. “Aku? Hanya mencari camilan untuk menonton drama malam ini.” Ia melirik sekilas keranjang belanjaan Jinki. “Kimchi kering boleh juga.”

Jinki meletakkan belanjaanya diatas meja kasir sementara Youngmi mengitari lemari-lemari mencari camilan.

“Rumahmu dekat sini?” tanya laki-laki yang sedang tidak memakai kacamatanya itu pada Youngmi.

Youngmi mengangguk. “Mm-hmm. Dua blok dari sini. Rumah songsaenim dimana?”

Jinki menunjuk arah belakang, berlawanan dengan arah rumah Youngmi. Gadis itu mengangguk-angguk mengerti. Ia menerima plastik camilannya sebelum akhirnya keluar dari mini market bersama Jinki.

Youngmi menoleh ke belakang dan dibalas dengan tatapan bingung dari Jinki.

“Bukankah rumah songsaenim ke arah sana?” tanya Youngmi yang lebih bingung.

“Memangnya aku tega membiarkan gadis pulang sendirian?” Jinki justru bali bertanya.

Youngmi hanya mengulum senyum dan kembali berjalan. Mungkin Jinki memang seorang malaikat. Kalaupun ini mimpi, Youngmi berharap tidak akan terbangun.

“Disini!” Youngmi dan Jinki berhenti di depan sebuah rumah yang dominan putih dengan pagar hitam. Ia tersenyum lebar pada Jinki. “Gomapseumnida[12], songsaenim.”

Jinki mengangguk. “Masuklah.”

Youngmi menengadah, memperhatikan Jinki yang memang lebih tinggi darinya. Ia tertawa kecil. Jinki mengerutkan dahinya.

Wae[13]?” tanya Jinki.

Amugeotdo[14]” Youngmi menyudahi tertawanya. “Tidak pernah ada guru yang mengantarku pulang.”

“Sekarang ada.” Jinki menyeringai lebar.

Tiba-tiba angin malam  berhembus kencang. Youngmi refleks menutup matanya agar tidak ada debu yang bersinggah. Rambutnya agak berantakan karena angin dingin barusan. Youngmi meringis, merapikan rambutnya sendiri. Tanpa Jinki sadari, tangannya ikut melayang untuk menyisir rambut Youngmi dengan jemarinya. Youngmi tersentak. Ia menatap Jinki saat laki-laki itu sedang menatapnya. Untuk beberapa saat, pandangan mereka bertemu. Tapi Jinki segera sadar dan langsung mengalihkan pandangannya. Ia mengelus tengkuknya, gugup.

“Kalau begitu, aku pulang dulu,” ucap Jinki akhirnya.

Youngmi mengangguk cepat. “Josimhaeyo[15].”

*

Hyesoo mencoba mengintip dari balik lengan Youngmi, melihat apa yang dilakukan teman sebangkunya kerjakan. Tangan Youngmi terus menorehkan pensil di buku catatannya, membuat sketsa wajah laki-laki menggunakan kacamata framless.

“Aku rasa, aku tahu itu siapa,” sahut Hyesoo tiba-tiba dan berhasil membuat Youngmi nyaris berteriak kaget. “Lee song—”

Ya! Tidak usah disebutkan!” cicit Youngmi sambil menutupi mulut Hyesoo dengan tangannya.

Hyesoo menyingkirkan tangan Youngmi dengan kesal. “Kau menyukai guru pengganti itu?”

“Shhh!” Youngmi mendesis lalu melirik ke sekelilingnya, memastikan tidak ada yang mendengar kata-kata Hyesoo. Hyesoo mendengus.

“Aku juga tidak akan mengambilnya darimu. Bersenang-senanglah.”

*

Jinki menyeruput americano-nya yang mengepul. Guru-guru yang lain memilih instirahat dengan mencari makan. Tapi Jinki justru lebih senang sendirian di ruang guru. Sebentar lagi ia selesai merapikan nilai para murid, jadi ia memilih untuk tidak pergi jauh dari komputernya.

Mata Jinki menyipit melihat sosok Lee Youngmi yang sedang berjalan riang dengan gadis yang ditariknya paksa. Terlihat sekali gadis itu malas mengikuti Youngmi, tapi tidak merubah keinginan Youngmi mengajaknya—mungkin—ke kantin.

Tanpa Jinki sadari, ia tersenyum tipis. Niat awal hanya ingin bersenang-senang dengan Youngmi selama ia berada di sekolah itu sebagai guru pengganti kini berubah.

Ia ingin menjadi yang lebih. Lebih dari sekedar guru pengganti.

*

Youngmi baru saja keluar dari bilik toilet saat dikejutkan oleh sosok Yoora yang tiba-tiba berdiri di depannya. Gadis itu sedang mengunyah permen karet sambil memperhatikan Youngmi dari atas sampai bawah.

“Aku heran, apa yang dilihat dari tubuhmu ini,” gumam Yoora. “Kupikir kau teman baikku, Lee Youngmi.”

Dahi Youngmi berkerut. “Apa maumu?”

“Apa mauku?” Yoora membeo. “Bukankah sudah kubilang apa mauku sejak awal? Bukankah kau bilang tidak tertarik pada Jinki oppa?”

Oppa? Dia memanggil gurunya dengan sebutan ‘oppa’?!

Yoora mengangkat dagu Youngmi dengan ujung jemarinya. “Ternyata di balik wajahmu ini, kau seorang penghianat. Aku lihat kau pulang dengannya!”

Baru saja Youngmi ingin membalas kata-kata Yoora, tapi gadis dengan make-up tebal itu menjentikkan jarinya, membuat dua pengikutnya yang sejak tadi berada di bilik toilet di samping Youngmi segera mengguyur Youngmi dengan seember air dingin.

Yoora tertawa keras-keras sementara Youngmi meringis. Kalau di sekolah ini tidak ada peraturan agar tidak berkelahi, mungkin Youngmi sudah mencabik-cabik wajah ‘plastik’ Yoora.

“Sadarlah, Jinki oppa hanya menganggapmu murid baik biasa, seperti yang lain,” sindir Yoora. “Setelah ini pelajaran Jinki oppa, dan kau mau berpakaian seperti itu? Kau lebih mirip kucing yang dibuang, tahu?!”

Babo[16],” gumam Youngmi. “Babo gateun[17].

Mwo[18]?!” Yoora melotot, tidak percaya apa yang barusan didengarnya.

Neo jinjja babo gateunde[19]!” Youngmi menjerit. “Kapan aku bilang aku tertarik pada Jinki oppa-mu itu?!”

Yoora mendorong kasar bahu Youngmi. “YA!

PIKYEO[20]!”

Youngmi sudah tidak mempedulikan teriakan Yoora yang memanggilnya. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah, ia harus pergi. Sekarang. Sebelum orang itu melihatnya.

Langkah Youngmi semakin cepat, bahkan ia tidak sadar ia sudah berlari keluar sekolah dengan tas di punggungnya. Youngmi berusaha keras tidak terisak dengan terus menggigit bibirnya. Airmata mengalir melewati pipinya. Wajahnya sudah terasa sangat panas.

Babo gateun. Youngmi teringat kata-katanya sendiri pada Yoora tadi. Itu justru lebih tepat ditunjukkan padanya. Seperti orang bodoh. Yoora benar, Jinki pasti hanya menganggapnya siswa yang baik, seperti ia menganggap siswa lainnya.

*

“Lee Youngmi?”

Tidak ada jawaban. Jinki menoleh pada Hyesoo yang biasanya duduk di samping Youngmi. Bangku di sebelahnya kosong. Kemana dia?

“Youngmi bilang, dia izin pulang lebih cepat karena tidak enak badan,” kata Hyesoo seakan bisa membaca pikiran Jinki.

“Ah, keuraeyo[21]?” Jinki mengangguk-angguk mengerti.

Tidak enak badan?

*

Sinar matahari berwarna jingga menghiasi cahaya yang dipantulkan sungai Han semakin terlihat indah. Tapi tatapan Youngmi tidak memancarkan kekaguman. Padangannya kosong dan masih belum ada tanda-tanda ia ingin pulang.

Semakin lama Youngmi berpikir, apa yang ia lakukan semakin tidak ada gunanya. Sepertinya ia harus kembali menjadi Lee Youngmi yang biasa. Lee Youngmi yang hanya dianggap sebagai “siswi yang baik”. Youngmi menghela nafas setiap kali memikirkan kata-kata itu. Tapi akhirnya ia berbalik, berniat untuk pulang saja ke rumah.

Youngmi terkesiap ketika menyadari sejak tadi ia tidak sendiri di jempatan sungai Han. Tempat disampingnya ada orang yang tidak ingin ia temui sekarang. Lee Jinki.

“Kau bolos pelajaranku?” tanya Jinki menyeruput kopi yang mengepul dari gelas kertasnya.

Youngmi memilih menunduk dan hanya bergumam mengiyakan. Jinki menoleh untuk menatap Youngmi. Ia tersenyum lelah. Lelah karena hampir dua jam ia berkeliling mencari Youngmi yang ternyata belum pulang.

“Ada masalah?” tanya Jinki lagi.

Songsaenim, sebaiknya pulang saja,” ujar Youngmi mengalihkan pembicaraan. “Bukankah Songsaenim banyak pekerjaan?”

“Mau kuantar pulang?” Jinki menawarkan Youngmi yang mulai berjalan pergi.

Youngmi menghentikan langkahnya lalu menggeleng. Ia menarik nafas dalam-dalam, memberanikan diri membuka mulutnya. “Aku ini ‘kan, hanya seorang murid. Kenapa songsaenim harus mempedulikanku? Ini sudah bukan di sekolah.”

Jinki mendekati Youngmi. Tangannya menyentuh jemari Youngmi yang dingin. Ia menatap Youngmi sendu. “Apa aku tidak boleh mempedulikanmu di luar sekolah?”

Dahi Youngmi berkerut, tidak mengerti apa maksud Jinki. Kemudian laki-laki itu melanjutkan. “Apa kau tidak bisa menganggapku lebih dari seorang guru?”

Youngmi tersentak. Ia melangkah menjauhi Jinki sambil menutup mulutnya. Perasaan ingin menangis lagi kembali datang. Dan kali ini tidak bisa Youngmi tahan.

Hajimayo[22]…” Youngmi terisak menutupi wajahnya sendiri.

Jinki mendekati Youngmi, memeluk tubuh gadis itu. Youngmi berusaha melepaskan diri, namun Jinki memeluknya semakin erat. Ia mengusap punggung Youngmi pelan untuk menenangkan gadis itu.

“Kalau kau masih menganggapku hanya seorang guru,” Jinki mulai bersuara lagi. “Boleh aku menganggapmu lebih dari seorang murid?”

Youngmi jelas-jelas mendengar perkataan Jinki yang sukses membuat wajahnya panas. Ia hanya bisa menggumamkan jawaban dan disambut senyum lebar dari Jinki.

To Be Continued

Footnote:
[1] Annyeong: Hai
[2] Songsaenim: panggilan untuk guru
[3] Annyeonghaseyo: Halo / Selamat pagi
[4] Imnida: dipakai untuk memperkenalkan diri
[5] Ani: Tidak
[6] Oppa: panggilan untuk laki-laki lebih tua dari perempuan
[7] Ne: Ya
[8] Majayo: Benar
[9] Mianhaeyo: Maafkan aku
[10] Gwenchanha: Tidak apa-apa
[11] Chukhahaeyo: Selamat
[12] Gomapseumnida: Terimakasih
[13] Wae: Kenapa
[14] Amugeotdo: Bukan apa-apa
[15] Josimhaeyo: Hati-hati di jalan
[16] Babo: Bodoh
[17] Babo gateun: Seperti orang bodoh
[18] Mwo: Apa
[19] Neo jinjja babo gateunde: Kau benar-benar seperti orang bodoh
[20] Pikyeo: Minggir
[21] Keuraeyo: Begitu
[22] Hajimayo: Jangan lakukan ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s