[chaptered/ongoing] Next To You – Chapter 2: Earmuffs

Next To You

Title: Next To You
Author: Ai Lee
Casts: Han Hyesoo (OC), Kim Jonghyun, Lee Youngmi (OC), the other SHINee’s members.
Genre: Romance, School, Family, Friendship
Length: Chapter (2 of ?)
Rated: PG+13
Author’s Note: Chapter 2 datang~ Semoga bisa bikin lebih jelas maksud jalannya fanfic ini. Maaf kalo masih gaje. As usual, comments are love~ ♥ ^^/

Chapter 2: Earmuffs

Satu hal yang ia sesali pagi itu adalah kenapa ia tidak membeli earmuffs baru saat benda itu rusak beberapa bulan lalu. Han Hyesoo—nama gadis itu—sekarang kesulitan untuk memasukkan buku ke dalam tas sementara ia juga ingin menutup telinganya rapat-rapat.

“Ini bodoh! Kenapa tidak mengerti juga?!” Suara teriakan laki-laki terdengar lagi di telinga Hyesoo. Ia mendesah, berharap segera menemukan catatan biologinya yang hilang entah kemana.

“Kau sendiri, kenapa tidak bisa berhenti mengatakan ‘bodoh’?! Merasa kau paling pintar di dunia ini, hah?!!” Teriakan wanita pun ikut terdengar.

Hyesoo segera berlari keluar rumah setelah menemukan bukunya. Bahkan ia tidak memakai sepatu dengan benar. Hyesoo tahu, sikapnya yang ceroboh pasti akan membuat ia terjatuh berkali-kali di perjalanannya ke halte bus. Tapi ia memilih untuk terjatuh daripada harus mendengarkan kedua orangtuanya yang sibuk bertengkar.

Tolong! Mereka sudah kepala tiga tapi kenapa masih kekanak-kanakan?

*

Kalau semua anak sekolah menganggap suara bel istirahat seperti nyanyian dari surga, tapi Hyesoo justru menganggap itu adalah teriakan dari neraka. Sebagian siswa di kelasnya keluar untuk makan di kantin. Beberapa dari sisanya menghabiskan waktu makan siang dengan bekal dan teman-teman mereka. Berbeda dengan Hyesoo. Ia memilih untuk membawa roti yang sempat ia beli sebelum ke sekolah dan memakannya di taman belakang sekolah. Hyesoo menemukan taman itu saat ia sedang berjalan-jalan sendiri mengelilingi sekolah. Saat itu juga Hyesoo menetapkan taman itu menjadi taman favoritnya.

Hyesoo meneguk susu kalengan setelah menyelesaikan roti kacang merahnya. Ia menengadah, menatap langit yang mulai gelap lagi. Untung saja ia tidak lupa membawa payung sebelum berangkat untuk berjaga-jaga jika hujan saat ia pulang nanti. Eh, terbawa tidak, ya?

“Lupa lagi?!”

Suara bentakan tiba-tiba menyadarkan Hyesoo dari lamunannya. Ia melihat ke sekeliling, mencari darimana suara itu berasal.

Bugh!

Kali ini suara benturan yang terdengar. Hyesoo memutuskan untuk mencari sumber suara.

“Bu-bukan begitu, soenbae[1]. Tapi me-memang sudah habis.”

Hyesoo mengintip dari kejauhan ketika mendapati empat orang laki-laki yang ternyata sejak tadi berada tidak jauh dari tempat ‘persembunyian’ Hyesoo. Salah satu dari mereka sedang memegangi kerah kemeja laki-laki lain dan menyudutkannya ke pohon. Orang yang menyudutkan terlihat sedang berbicara sesuatu, tapi Hyesoo tidak bisa mendengar jelas apa itu. Ia berjalan mendekat hingga akhirnya laki-laki itu ingin memukul orang yang disudutkannya.

YAAA!” Semua orang yang berada di taman itu terkesiap, termasuk Hyesoo. Ia mungkin yang paling kaget diantara yang lain. Gadis itu bahkan tidak sadar kalau ialah yang baru saja berteriak.

Ingin rasanya Hyesoo melangkah mundur, tapi semua sudah melihatnya. Ia mengutuki mulutnya sendiri, kenapa bisa terlalu ceroboh? Aish, sekaang apa yang harus kulakukan?!

Ya!” seru salah satu diantara mereka. Ia menatap Hyesoo lekat-lekat. “Mwohaneungoya[2]?!”

Salah satu temannya menahan orang itu sebelum berjalan mendekati Hyesoo. “Jonghyun-a, sudahlah. Kau tidak akan menyerang seorang gadis ‘kan?”

Jonghyun baru saja ingin menarik tangan Hyesoo, mengintrogasi karena sudah menganggu pekerjaannya. Tapi mendengar perkataan Kibum, ia mengurungkan niatnya. Walaupun sebagian dari dirinya masih tidak rela karena gadis itu sudah merusak acara ‘pengambilan’ makan siangnya.

Ia menatap Taemin yang sudah memasang tampang lega. Taemin yang menyadari tatapan Jonghyun langsung merasa masih belum bisa bebas. Ia menunduk saat Jonghyun mendekatinya lagi.

“Mungkin hari ini hari keberuntunganmu, kecil,” ujar Jonghyun. “Pergi sana! Dan pastikan gadis itu tidak akan buka mulut!”

*

Ya! Jamkkan[3]

Akhirnya Hyesoo menghentikan langkahnya saat orang yang mengejarnya semakin meneriakinya. Orang itu memegangi lututnya sambil menormalkan nafasnya yang terengah karena setengah berlari mengejar Hyesoo. Hyesoo berbalik, memicingkan matanya, menatap orang yang berada satu meter di belakangnya.

“Apa maumu?” tanya Hyesoo tanpa basa-basi.

Cengiran lebar menghiasi orang yang diajak Hyesoo bicara. Ia maju selangkah dan Hyesoo mundur selangkah. Melihat Hyesoo tidak suka didekati, orang itu memilih untuk diam di tempat.

“Aku mau berterima kasih,” jawabnya. “Terimakasih karena menyelamatkanku dengan teriakanmu tadi.”

“Cih, bodoh,” Tanpa memperhatikan Taemin lagi, Hyesoo langsung meninggalkan laki-laki itu yang hanya bisa melongo menyadari sikap tidak bersahabatnya. Taemin pikir Hyesoo adalah gadis manis yang tidak banyak ulah, tapi ternyata tidak seperti itu. Saat itu Taemin pun menyadari maksud dari pepatah jangan menilai sebuah buku dari sampulnya.

*

Hyesoo sebenarnya benci kalau ia terus-terusan berada di sekolah. Tapi ia lebih benci kalau ia harus pulang ke rumah. Kalau orang bilang, “rumahku, istanaku.” kalimat itu sama sekali tidak cocok dengan Hyesoo. Bagi Hyesoo, rumahnya adalah neraka.

Langkah Hyesoo terhenti saat ia berada di halte bus. Apa ia harus benar-benar pulang sekarang? Hyesoo tidak punya tempat untuk tinggal selain rumahnya itu. Ia tidak ada kenalan dekat untuk ditumpangi. Tapi Hyesoo tidak ingin pulang. Kalau ia punya banyak uang, ia pasti sudah menyewa apartemen kecil untuk dirinya sendiri. Kalau saja—

Bugh!

Hyesoo hampir saja jatuh tersungkur saat seseorang menabraknya dari belakang. Ia menopang tubuh dengan berpegangan bangku halte sambil meringis. Hanya orang gila yang tidak bisa melihatnya sedang berdiri! Runtuk Hyesoo.

Ups, sorry,” kata orang yang menabraknya tadi. Maaf?!

Hyesoo mengangkat kepalanya, menatap laki-laki yang mengenakan headphone itu dengan bengis. “YAA!

Orang itu menoleh kemudian terkesiap saat melihat siapa yang baru ia tabrak. Gadis yang meneriakinya saat sedang memarahi Taemin di taman belakang sekolah. Anak ini gemar berteriak atau apa?

Jonghyun berjongkok di depan Hyesoo yang baru saja mengingat wajahnya. Satu hal yang akan diingat Hyesoo adalah ia harus melihat wajah seseorang sebelum meneriakinya. Sekarang, orang yang diteriaki Hyesoo—untuk kedua kalinya—menatapnya tajam, seakan ingin mencincang Hyesoo saat itu juga.

“’YAA’?” ulang Jonghyun. Ia menggetik dahi Hyesoo hingga gadis itu memilih untuk menunduk. “Sudah dua kali kau meneriakiku. Kau tidak tahu siapa aku?”

Hyesoo memberanikan diri menatap Jonghyun lagi. Ia mengangkat dagunya, tidak terima dengan perilaku Jonghyun. “Kalau aku tidak tahu, memangnya kenapa?”

Jonghyun melotot. Baru pertama kali ada gadis yang melawannya, bahkan menantangnya. Tanpa berpikir panjang, Jonghyun menarik lengan gadis yang berada di hadapannya dan sontak membuat gadis itu refleks meringis. Ringisan Hyesoo berhasil mengembalikan akal sehat Jonghyun. Ia melepaskan lengan Hyesoo kemudian mendorongnya agar duduk di bangku.

Ya! Seperti ini kau memperlakukan seorang gadis?!” seru Hyesoo tidak tahan. “Aku yakin tidak akan ada yang mau denganmu nanti!”

“’Kau’?” Jonghyun membeo dan sekali lagi ia menatap Hyesoo tidak percaya. “Kau berani memanggil orang yang lebih tua dua tahun darimu dengan ‘kau’?!”

“Sejak tadi aku bicara dengan banmal[4], bodoh.” Tanpa mempedulikan perkataannya sendiri, Hyesoo mencibir sambil mengusap lengannya yang sakit.

Jonghyun memutar bola matanya, tidak tahu lagi harus menghadapi gadis itu seperti apa. Ia memilih duduk di sebelah Hyesoo lalu melirik gadis yang sedang memandangi ujung sepatunya. Orang aneh sebaiknya tidak usah ditanggapi, batin Jonghyun. Tak lama kemudian, sebuah bus menurunkan beberapa penumpang di halte tempat Jonghyun dan Hyesoo berada. Jonghyun memang tidak ada niat untuk pulang sekarang, ia justru ingin bermain sebentar nanti. Ia menoleh pada Hyesoo yang sepertinya tidak ada tanda-tanda ingin menaiki bus ini.

“Tidak pulang?” tanya Jonghyun basa-basi. Ia memang diajarkan untuk berbuat baik pada siapapun. Siapapun.

“Tidak,” jawab Hyesoo singkat.

Setelah itu, Jonghyun tidak tahu lagi harus bicara apa. Ia mengangkat bahu, mungkin gadis aneh ini lebih ingin ditinggal sendiri daripada diajak bicara. Akhiirnya, Jonghyun bangkit dari duduknya setelah memutuskan untuk bermain ke bar di daerah Hongdae.

Hyesoo memperhatikan Jonghyun yang menoleh ke kiri-kanan, sepertinya berniat untuk menyebrang. Ia bersyukur akhirnya orang itu meninggalkannya. Kali ini, Hyesoo bisa berpikir kemana ia harus pergi untuk menghabiskan waktu sebelum ia harus pulang ke rumah.

*

Suara bising di ruangan itu justru membuat para pengunjungan sangat kecanduan. Mereka menari, minum, dan mengobrol seakan saat-saat itu tidak akan pernah habis. Suasana yang remang-remang membuatnya semakin membuat mereka terbuai, tidak terkecuali Jonghyun. Hingga beberapa saat ia berhasil melepaskan diri dari kerumunan orang yang sibuk menari. Jonghyun tertawa-tawa sambil menghempaskan dirinya ke kursi.

“Kurasa dia mabuk,” ujar Kibum sambil memperhatikan Jonghyun.

“Dia selalu mabuk,” ralat Minho lalu meneguk minumannya lagi. “Sudah, biarkan saja.”

Jonghyun menegakkan tubuhnya dan langsung menoleh pada sua orang temannya. “Aku tidak mabuk!” sanggahnya. Ia meminum cocktailnya yang masih tersisa setengah dan terkekeh lagi.

“Lihat? Dia selalu mabuk,” Minho meyakinkan Kibum yang melongo memperhatikan sikap Jonghyun.

Ya, kalian tahu? Tadi aku bertemu gadis aneh,” Jonghyun mulai bercerita.

Kibum tertawa mengejek. “Kalau dia lebih aneh darimu, dia pasti orang gila.”

“Aku serius!” seru Jonghyun. Kibum akhirnya memilih diam sebelum kepalanya terkena lemparan gelas. “Dia anak yang berteriak saat kita bersama Lee Taemin tadi. Dan dia meneriakiku. Bayangkan!”

“Meneriakimu bukan berarti dia aneh,” bela Minho. “Kau mengganggunya?”

“Aku tidak—”

Brak!

Ketiga orang itu langsung menoleh ke sumber suara. Seseorang jatuh tersungkur tepat di samping kursi Jonghyun. Mereka mengernyit bingung lalu segera berpikir, mungkin orang itu mabuk.

“Oh, Minho-ya. Kalau kau ingin mendekati gadis, kuberitahu caranya,” sahut Jonghyun tiba-tiba dan segera turun dari kursinya. Ia menarik lengan gadis—orang yang terjatuh tadi—untuk membantunya berdiri. “Kau tidak apa-apa?”

Gadis itu berusaha mengangkat tubuhnya yang sempoyongan. Matanya menyipit saat melihat Jonghyun tapi sontak menarik tangannya. Ia mengernyit, memastikan siapa yang baru saja menolongnya adalah orang yang pernah bertemu dengannya.

Samar-samar Jonghyun melihat wajah gadis di hadapannya. Ia juga memperhatikan pakaian yang gadis itu pakai—kemeja putih dengan rok hitam bergaris tepi kuning. Sekilas tidak seperti seragam sekolah. Tapi Jonghyun mengenali wajah yang sedang dalam keadaan mabuk berat itu.

“Si pengganggu di halte!”

“Si tukang berteriak!”

*

Lee Youngmi menengadah lalu mendengus. Ia tahu, novel yang diincarnya sudah menjadi best seller sekarang. Tapi kenapa harus ditaruh di tumpukan buku paling atas? Youngmi berjinjit, mencoba menggapai novel romansa itu.

Aish, mwoya[5]

Sebuah tangan lain berhasil mengambil novel yang Youngmi incar. Youngmi menoleh pada si pemilik tangan. Orang itu tersenyum di balik kacamata framlessnya. Ia menyodorkan pada Youngmi buku yang baru ia ambil.

“Kau ingin ini ‘kan?” tanyanya tanpa menghilangkan senyum. Youngmi yang masih setengah sadar karena senyum manis laki-laki itu hanya mengangguk. “Adikku bilang, novel itu memang bagus,”

“Ah, ne. Gomawo[6].”

Laki-laki itu hanya mengangguk lalu berjalan ke tumpukan buku yang lain. Satu hal yang masih Youngmi pikirkan saat memandangi punggungnya yang semakin menjauh: ia termasuk orang beruntung yang sudah ditolong oleh malaikat.

To Be Continued

Footnote:

[1] Seonbae : Senior
[2] Mwohaneungoya? : Apa yang kau lakukan?
[3] Jamkkan : Tunggu
[4] Banmal : Bahasa informal
[5] Mwoya : Apa sih?
[6] Gomawo : Makasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s