[chaptered/ongoing] Next To You – Chapter 1: 그여자 (That Girl)

Next To You

Title: Next To You
Author: Ai Lee
Main Cast(s): Han Hyesoo (OC), Kim Jonghyun (SHINee)
Other Cast(s): SHINee’s members
Length: Chaptered (1 of ?)
Genre: Romance, School, Family, Friendship
Rating: PG+13
Beta Reader: @nadilakhrns
A/n: 안녕하세요^^ Halo! Sekarang nyoba bikin chaptered baru nih. Semoga membawa berkah(?) Comments are love. Criticisms are approval~ Enjoy!
Disclaimer: I OWN the original casts and story line. But, I DO NOT  own SHINee members and the others. They belong to themselves. I don’t make this fan fiction for money. So, please, DO NOT SUE ME!

Chapter 1: 그여자 (That Girl)

Laki-laki itu mendorong bahu adik kelasnya hingga terbentur tembok. Adik kelasnya mengaduh kesakitan, tapi ia tidak peduli. Ia langsung merogoh plastik yang dibawa anak kelas sepuluh itu.

Ya! Mana rotiku?!” bentak si senior. Ia mengacak-acak isi plastik itu lagi tapi apa yang ia cari tidak ditemukan. “Kubilang ‘kan roti rasa barbeque! Barbeque!”

“Maaf seonbae[1], tapi roti itu sudah habis semua,” bela si adik kelas. Ia melirik seniornya sebentar kemudian menunduk lagi untuk berjaga-jaga dari semburan yang akan diterimanya.

Senior berambut cokelat itu mendesah kesal. Ia menatap laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya dengan garang. “YA! Kau mau mati?!”

Salah satu teman senior itu menahan bahunya agar tidak melayangkan pukulan ke adik kelas mereka. “Jonghyun-a, sudahlah. Setidaknya dia masih mau membelikan kita makan siang.”

Jonghyun berdecak. Ia merebut plastik berisi beberapa roti dan minuman kaleng dari adik kelasnya dengan kasar. Baru saja ia merasa sudah bebas dari senior-seniornya, tapi Jonghyun menatapnya lagi. “Ya, dengar. Kalau besok kau sampai tidak membelikan roti rasa barbeque untukku, hidupmu akan celaka!”

Si anak kelas sepuluh itu langsung merasakan bulu di tengkuknya berdiri. Buru-buru ia membungkuk sambil mengiyakan perintah Jonghyun.

“Lee Taemin, pergilah,” perintah dari seniornya yang lain. Taemin langsung melesat menuruni tangga sebelum mereka berubah pikiran untuk membebaskannya.

Aish! Kenapa anak-anak itu semakin susah diatur, sih?” gerutu Jonghyun sambil mengunyah roti cokelat—pengganti roti barbequenya—di atap sekolah.

Kibum hanya mengangkat bahunya, mendengarkan omelan Jonghyun tentang para adik kelas yang malah susah untuk dimanfaatkan. Jonghyun bilang, sepertinya adik kelas mereka tahun ini semakin bodoh karena tidak bisa mengingat pesanan mereka bertiga. Padahal, sebenarnya Kibum mau saja kalau harus ke kantin untuk membeli makan siang. Tapi Jonghyun melarangnya dan bilang, apa gunanya adik kelas kalau kita masih harus ke kantin? Temannya yang satu ini memang suka seenaknya sendiri.

Sedangkan Minho malah sibuk memperhatikan taman belakang dari pinggir atap. Ia merapatkan tubuhnya ke pagar pelindung sambil terus melihat ke bawah.

“Oh!” seru Minho, membuat Jonghyun dan Kibum sontak menoleh. “Anak itu lagi.”

“Siapa?” tanya Kibum yang kembali sibuk dengan minumannya.

“Anak kelas sepuluh,” Minho menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. “Sepertinya dia tidak punya teman. Selalu sendirian.”

“Berarti dia anak aneh,” sambar Jonghyun dan Minho mengangguk mengiyakan pendapatnya. “Biarkan saja anak seperti itu.”

“Padahal kupikir dia cukup manis,” Minho mengambil roti yang belum ia makan. Jonghyun memicingkan matanya, mencoba melihat anak yang dimaksud Minho.

“Wajahnya tidak kelihatan,” gerutu Jonghyun. Ia hanya melihat seorang gadis yang duduk di bangku taman tanpa melakukan apa-apa, seperti sedang melamun. Sekalipun gadis itu melihat keatas, Jonghyun tahu ia tetap tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena jarak sejauh lima lantai gedung sekolah mereka. “Tipemu sekarang anak aneh, ya?”

“Bukan begitu,” sanggah Minho dengan mulut penuh. “Hanya saja, dia terlihat aneh.”

Jonghyun mengangkat bahunya, tidak masih tidak mengerti dengan gadis yang wajahnya sendiri tidak bisa mereka lihat dari tempat mereka berada.

*

Ia bersenandung ringan dengan headphone putih yang menutupi telinganya. Sekarang, Jonghyun berada di halte bus. Sendirian. Minho dan Kibum sibuk dengan kegiatan masing-masing. Minho harus latihan dengan klub sepak bolanya karena dua minggu lagi ada pertandingan antarsekolah. Sedangkan Kibum sedang sibuk-sibuknya latihan di klub drama.

Jonghyun tidak mengerti, kenapa teman-temannya rela mengorbankan waktu mereka untuk kegiatan seperti itu. Ia tidak mempunyai ketertarikan dengan klub-klub sekolahnya. Menurutnya, ikut berpartisipasi dalam klub itu membosankan dan buang-buang waktu.

Setelah menimbang-nimbang, Jonghyun akhirnya bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi ke game center saja. Tapi tiba-tiba matanya menangkap sesosok gadis yang berjalan sendiri di seberang jalan. Sendirian?

*

Taemin memijat pundaknya yang terasa pegal sekali. Ia berpikir, apakah ini karena seniornya yang sempat mendorongnya ke tembok? Cukup keras memang, tapi lucu sekali kalau pundaknya sakit hanya karena itu.

Laki-laki bertubuh kurus-jangkung itu menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Ia mengatur nafasnya sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan selama ia di sekolah barunya melintasi kepala Taemin. Selama beberapa minggu terakhir, Taemin selalu menjadi korban pemalakan tiga seniornya itu—Jonghyun, Minho, dan Kibum. Mereka melihat Taemin seakan ialah yang paling lemah. Mungkin ada beberapa anak lain yang menjadi korban mereka, Taemin tidak tahu. Tapi, siapa sih yang ingin jadi korban pemalakan? Taemin ingin sekali melawan. Tapi situasi tidak pernah mendukung. Mereka datang saat Taemin sendirian. Tiga lawan satu, Taemin jelas akan kalah.

Satu hal yang Taemin inginkan kali ini adalah ia ingin kuat. Ia benci dianggap Taemin si lemah.

*

“Menurutmu, mana yang bagus?” tanya seorang gadis pada laki-laki dihadapannya. Ia memperlihatkan dua buah kemeja kotak-kotak biru dan merah pada laki-laki itu, meminta pendapatnya.

“Biru?” gumam Jonghyun, mengemukakan pendapatnya.

“Ah, kupikir juga begitu,” balas gadis itu lagi. “Baiklah, aku beli yang ini saja.”

“Kau membelinya sebagai hadiah, ya? Untuk siapa?” tanya Jonghyun tanpa melepaskan pandangannya pada gadis yang sedang memberikan kemeja barusan kepada seorang pramuniaga. “Oppamu?”

Gadis itu menggeleng sambil tersenyum sipu. “Untuk Kyuhyun. Besok itu hari jadi kami, tepat setahun.”

*

Jonghyun mengerjapkan matanya. Tidak terasa ia tertidur saat menunggu di halte. Jonghyun belum terlalu tua untuk mudah melupakan apa yang ia lakukan beberapa jam lalu: menemani seseorang membeli hadiah untuk kekasihnya. Untuk kekasihnya.

Jonghyun menggeram dan membenturkan dirinya sendiri pada dinding halte. Sadarlah, Kim Jonghyun! Dia sudah punya kekasih!

Jonghyun memperhatikan sekelilingnya, berharap tidak ada yang menganggapnya aneh karena membenturkan diri sendiri ke tembok. Hanya ada seorang gadis di halte itu. Ia memakai seragam dengan logo yang sama dengan seragam Jonghyun. Salah satu gadis di sekolahnya, mungkin anak kelas sepuluh, pikir Jonghyun.

Gadis itu terlihat sedang merapatkan jaketnya di halte bus yang tidak jauh dari sekolahnya. Hujan baru saja reda tapi hawa dingin masih belum pergi juga. Bus yang ia tunggu untuk mengantarkannya pulang pun belum datang. Sejenak ia berpikir, pasti menyenangkan kalau ada seorang teman yang bisa diajak mengobrol jadi ia tidak akan merasa bosan saat menunggu.

Ah, teman.

Kapan terakhir kali ia memikirkan kata itu, ya?

*

Jonghyun merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia menatap langit-langit, memikirkan apa yang ia alamai hari ini. Ekor matanya melirik meja kecil di samping tempat tidur. Jonghyun bangkit dan duduk dengan tangan yang meraih sebuah bingkai foto dari meja itu. Fotonya bersama gadis cantik berambut panjang terurai. Foto itu ia ambil dengan kekasih—mantan kekasih—nya pada musim dingin dua tahun lalu.

Dua tahun lalu. Ada rasa perih setiap Jonghyun mengingat alasan gadis itu memutuskan hubungan mereka. Hanya karena sudah merasa tidak cocok. Itu terjadi pada awal musim semu di tahun berikutnya dan membuat Jonghyun masih tidak bisa melupakan kenangan mereka.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Jonghyun.

“Jonghyun-a, makan malam!” seru suara wanita dari luar kamar.

Ne, eomma[2]!” balas Jonghyun. Buru-buru ia masukkan bingkai foto itu dalam laci mejanya.

Ia berjalan kearah cermin, menatap pantulan bayangannya di cermin. Jonghyun memantapkan dirinya sendiri akan melupakan semua kenangan itu. Buktikan ia tidak terkurung dalam suatu jeratan bernama masa lalu. Ia tahu ia bisa melakukan yang jauh lebih baik.

*

“Aku pulang,” gumam Hyesoo sambil membuka sepatunya. Tidak ada jawaban. Ia menghela nafas dan berpikir bodoh sekali kalau ia masih mengharapkan ada yang menyambutnya saat pulang.

Baru saja Hyesoo ingin membuka lemari pendingin, ekor matanya menangkap selembar post-it yang ditempelkan disana.

Hyesoo-a, Eomma[3] mungkin akan pulang malam. Kunci saja pintunya sebelum kau tidur, Eomma membawa kunci cadangan. Take care, My dear! –Eomma.

Hyesoo mendengus lalu melempar post-it yang sudah ia remas sembarangan. Orang yang selalu meninggalkan anaknya sendirian dan hanya berkomunikasi dengan post-it masih bisa dibilang perhatian?

*

Gadis berambut panjang hingga punggung itu memainkan rambutnya sendiri. Ia memandang sekeliling. Perhatiannya tertuju pada salah satu teman sekelasnya. Anak yang hampir tidak bersosialisasi di kelas itu sedang merapikan buku-bukunya diatas meja. Tidak seperti biasanya. Youngmi selalu melihat gadis itu buru-buru keluar kelas. Mungkin ia sama seperti Youngmi, sedang tidak ada kerjaan.

“Hei,” Youngmi menyapa gadis itu. Teman-temannya yang lain sedang sibuk mengerjakan tugas mereka yang belum selesai, jadi ia merasa tidak ada salahnya mengajak anak itu bermain. “Mau ke kantin?”

Gadis yang diajaknya bicara menatap Youngmi, bingung. Ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, ia membeli makan siang. Tapi di sisi lain, ia masih tidak ingin berkenalan dengan siapapun. Ia tahu, keadaannya sekarang berbeda. Bukan ia yang mengajak berkenalan, tapi Youngmi. Haruskah ia menerima ajakan Youngmi? Dahinya berkerut, memikirkan resiko terburuk yang akan diterimanya nanti.

“Apa aku terlalu sok akrab?” gumam Youngmi, atau lebih tepatnya menanyai Hyesoo. “Ah, matta[4]! Aku Lee Youngmi. Kau?”

Hyesoo semakin bingung, namu akhirnya menjawab. “Han… Hyesoo.”

Keurae[5]… Hyesoo-a, mau ke kantin denganku?”

*

“Minho-ya, ppalli[6]!

Minho mendengus. Kibum sudah merengek kelaparan sedangkan ia harus membawa tiga porsi makan siang yang lengkap dengan kimchi dan supnya. Mereka—Jonghyun dan Kibum—seharusnya tahu, tidak mudah membawa makanan sebanyak ini. Bukannya membantu, Minho justru harus membawanya sendiri. Bahkan mereka meminta semua dibayar oleh Minho.

“Waaah! Kalau tidak ada kau, aku akan tetap makan roti hari ini,” sahut Jonghyun saat Minho sampai di meja mereka bertiga.

“Kalau tidak ada Kibum yang mengintip dompetku, aku tidak akan menraktir kalian seperti ini,” balas Minho, kesal.

“Sesama teman itu harus berbagi!” sambung Kibum riang.

Minho mendecakkan lidah sambil bergumam tidak jelas. Sementara Jonghyun dan Kibum mulai makan, Minho justru terpaku pada pemandangan di depannya. Beberapa orang sedang menganti untuk membeli makan siang juga. Salah satu diantaranya adalah orang yang dikenal Minho. Ralat, orang yang akhir-akhir ini sering ia perhatikan.

“Aku tidak pernah melihatnya ke kantin,” gumam Minho dengan mata yang terus tertuju pada gadis berambut sebahu itu.

Huh?” Jonghyun melirik Minho dengan mulut yang penuh dengan nasi. Ia memperhatikan arah pandangan Minho dan berusaha menelan makanannya dengan susah payah. “Itu gadis yang kau maksud?”

Minho hanya nyengir lebar kemudian mulai menyantap makanannya. Jonghyun memutar mata. “Aku tidak mengerti seleramu.”

“Kau bukannya tidak mengerti,” sahut Minho. “Kau hanya tidak bisa membuka matamu untuk melihat gadis lain. Selalu terikat dengan masa lalu.”

Sontak Kibum langsung menusuk perut Minho dengan Kibumnya. Minho hampir saja memuntahkan makanannya lalu menatap Kibum kesal. Kibum balas menatap Minho dengan tatapan perhatikan-ucapanmu-atau-mati. Minho terkesiap, tidak sadar akan perkataannya barusan. Ia melirik Jonghyun yang sedang menatap Minho sinis, lalu melanjutkan makanannya lagi.

Minho menghela nafas lega. Ia bersyukur, Jonghyun mulai bisa mengontrol emosinya tanpa harus melayangkan pukulan ke wajah siapapun.

*

Laki-laki berkacamata frameless itu baru saja mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Ia merapikan jas yang dikenakannya sebelum memutar kenop pintu. Ia tersenyum melihat pria dengan setelan saddlebrown yang berdiri dan menyambutnya hangat.

“Wah, kupikir perkataan ayahmu itu hanya bercanda,” celetuk sang kepala sekolah sambil menjabat tangannya. “Ternyata kau benar-benar datang.”

Ia terkekeh, lalu duduk setelah di persilahkan oleh Tuan Kang.

Tuan Kang adalah sahabat dekat ayahnya dan mereka baru bertemu kemarin setelah lima tahun terakhir. Tidak heran pria ini agak terkejut melihatnya.

“Awalnya aku tidak mengenalimu, kau tahu?” kata Tuan Kang lagi. “Kau lebih mirip ibumu. Tapi kau terlihat lebih dewasa sekarang, Jin Ki-ya.”

To Be Continued

Footnote:

[1] Senior
[2] Ya, Ibu!
[3] Ibu
[4] Ah, iya!
[5] Oke
[6] Cepat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s