[chaptered/ongoing] Destiny – Chapter 8

Destiny Poster

Author: Ai Lee
Cast(s): Han Hyesoo (OCs), Kim Jonghyun (SHINee), Kim Kibum (SHINee), Park Jungsoo (Leeteuk, Super Junior), Han Eunsuh (OCs), Choi Hyewook (OCs), etc.
Rating: PG13
Genre: AU, School, Romance.
Length: Sequel, Chapter 8 of ?
A/n: Terinspirasi dari K-drama Prosecutor Princess. Yang belum baca chapter sebelumnya, bisa baca disini [DESTINY]. And, DON’T BE A SILENT READER, PLEASE!Comments are love~ 

Aku merasa kepalaku sangat berat sekarang. Semua yang terjadi belakangan ini tiba-tiba terlintas seperti potongan film yang diacak. Eunsuh dengan teror cokelat. Sekarang Hyewook yang entah bagaimana melompat dari atap gedung.

Sebelum ia dibawa Minho ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut, laki-laki itu menjelaskan kalau ia menerima pesan dari orang yang tidak dikenal mengatakan Hyewook dalam bahaya. Karena itu ia langsung berada di depan gedung kosong itu. Dan tiba-tiba saja—ia tidak ingat bagaimana rincinya karena terlalu kaget—Hyewook jatuh dari atas. Walaupun kaget, Minho berhasil menangkapnya. Itu yang terbaik.

Eunsuh awalnya ingin menemaniku untuk tidur malam ini di rumahku. Tapi aku menolak. Kalau orang gila itu mengincarku sekarang, aku tidak mau temanku menjadi korban lagi karena berada di dekatku.

Sekarang, aku belum mengganti bajuku. Aku masih mengenakan kaos yang sama sambil duduk memeluk lutut, memikirkan semua kejadian ini. Satu hal yang masih kupertanyakan: apa salahku pada orang itu?
Suara bel pintu membuyarkan lamunanku. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Mungkinkah…

“Hyesoo-yah.”

Jonghyun. Segera kubukakan pintu untuknya. Ia tersenyum sambil menyodorkanku seikat mawar putih yang masih segar.

“Kau hebat tadi,” ucapnya. “Maaf, karena tidak sempat mengucapkannya lebih awal. Aku ada urusan mendadak tadi.”

Aku mengangguk pelan. “Tidak apa.”

“Untukmu.”

Sekarang aku menatapnya aneh. “Aku ‘kan belum lulus sekolah.”

“Memangnya salah memberikan seorang gadis bunga?” balas Jonghyun tidak mau kalah.

Aku mendesah pelan sambil menerima bunga dari Jonghyun. “Terimakasih.”

“Sepertinya sudah terlalu malam. Aku pulang, ya. Sampai—”

“Jonghyun…” aku tidak tahu kenapa mulutku tiba-tiba ingin menghentikan kalimat Jonghyun.

Jonghyun terdiam, menungguku untuk bicara. Tapi pandanganku masih tertuju pada mawar putih itu. Aku ingat, saat appa membawakan omma mawar putih saat ulang tahun pernikahan mereka, dan kami berempat—saat oppa belum ke Jerman—makan bersama dengan lauk yang sangat banyak,

Kugigit bibir bawahku, menahan air mata yang nyaris jatuh. Aku menarik ujung kaos Jonghyun, memintanya untuk tidak pergi dulu.

“Kau tak apa?” tanya laki-laki itu akhirnya.

“A-aku… aku takut…”

+++

Jonghyun membuka pintu rumahnya. Ia tersentak ketika Kibum ternyata masih terbangun dan jelas sekali sedang menunggunya di ruang tamu. Ia melipat tangan di depan dada, mendengus kesal saat Jonghyun baru pulang. Padahal sudah hampir tengah malam.

“Dari sebelah?” tanya Kibum sambil mengikuti Jonghyun berjalan melewatinya begitu saja.

Jonghyun berjalan ke dapur, mengambil gelas yang diisi dengan air dingin dan langsung meneguknya. Ia bergumam pelan, mengiyakan pertanyaan Kibum.

“Kenapa lama sekali? Kau tidak tahu jam berapa sekarang?” tanya Kibum lagi.

“Aku menunggunya sampai tidur. Ia menangis terus karena ketakutan,” jelas Jonghyun sambil meletakkan gelasnya di meja. “Kau seharusnya tidak perlu menungguku. Tidurlah.”

“Ya, dan kurasa aku memang hanya membuang-buang waktuku di Seoul,” desis Kibum. Jonghyun mengangkat kepalanya, menatap Kibum aneh. “Apa? Kau yang seharusnya bingung karena dirimu sendiri, Kim Jonghyun! Kau benar-benar berubah sekarang. Dan semua karena gadis itu!”

“Salah?” tanya Jonghyun sinis.

“SANGAT salah! Kau sudah merencanakan semuanya selama setahun. Dan sekarang kau hampir merusak semuanya hanya karena menyukai gadis itu?!”

“Aku sedang tidak ingin membicarakan ini,” Jonghyun berbalik, hendak menaiki tangga menuju kamarnya.

“AYAHNYA YANG MENGHANCURKAN HIDUPMU!”

“DIAM KAU!!!”

BUUGH!

Jonghyun memukul dinding di sampingnya. Nafasnya memburu, tapi ia tetap berusaha menahan diri untuk tidak memukul sepupunya sendiri. Ia meremas buku-buku jarinya. Entah kenapa, sakit di tangannya sekarang menjalar ke seluruh tubuhnya saat mendengar kata-kata Kibum barusan, membuatnya kembali teringat ke masa itu. Ia memejamkan matanya, berusaha keras agar bayangan itu cepat hilang.

“Kau benar-benar menyedihkan,” ucap Kibum lirih. “Kau jatuh cinta pada orang yang seharusnya kau bunuh.”

“Sudah kubilang ‘kan, aku tidak ingin membicarakan ini sekarang.”

“Jonghyun—”

Yah, Kibum-ah,” Jonghyun memotong perkataan Kibum, tanpa membalikkan tubuhnya. “Aku… ingin berhenti.”

Kibum tertawa, tapi bukan tertawa karena senang. Ia menertawakan kata-kata Jonghyun. Ia benar-benar tidak percaya dengana apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Berhenti? Ia pasti sudah gila!

Yah, kau mabuk?” tanya Kibum sambil mendekati Jonghyun. “Atau kau mulai gila sekarang?”

Jonghyun mendengus kesal. “Alkohol yang kau bawa masih ada ‘kan? Bisa siapkan untukku?”

“Kau ingin minum sekarang?”

+++

“Tidak ada luka serius. Hanya sedikit memar dan lecet saja. Tapi, kau tahu, dia masih sedikit trauma,” jelas Minho di seberang telepon.

“Ah, begitukah? Baguslah,” aku menghela nafas lega, sambil kembali menggulungkimbap. “Kau sendiri bagaimana?”

“Sama, hanya memar biasa.”

“Hmm… baiklah. Aku akan menjenguk Hyewook nanti. Kau masih di rumahnya?”

“Sebentar lagi aku akan kesana. Tidak mungkin aku semalaman di rumahnya.”

Aku tertawa singkat. “Baiklah, sampai nanti.”

Kutekan tombol “End Call” lalu membiarkan ponselku kembali diam diatas meja. Aku mempehatikan hasil kimbap-ku yang sudah selesai. Cukup untuk Hyewook—dan Minho kalau ia ada di rumah Hyewook nanti. Tapi nasi yang kumasak masih tersisa.

Dia suka makan kimbap apa tidak, ya?

+++

Kibum menyeret langkahnya saat mendengar suara bel berbunyi. Ia agak kaget saat membuka pintu.

“Kau datang pagi sekali,” sambut Kibum. “Mencari Jonghyun”

Hyesoo mengangguk kecil. “Dan kau. Kalian sudah sarapan?”

“Belum. Kenapa?”

“Aku membuat banyak kimbap. Kupikir, tidak ada salahnya kalau mengajak kalian sarapan bersama,”

“Tentu. Masuklah,” ajak Kibum. “Ah, kalau begitu, tolong bangunkan Jonghyun, ya. Hari ini dia susah sekali dibangunkan. Sini, akan kusiapkan kimbap-nya.”

+++

Kubuka pintu kamarnya dengar hati-hati. Jonghyun masih meringkuk dalam selimutnya. Apa ia kurang tidur karena harus menungguiku semalaman?

“Jonghyun-ah,” panggilku. Tidak ada respon. Kuguncangkan tubuhnya sambil terus memanggil namanya. “Yah, jam berapa kau tidur semalam?”

Jonghyun mengerang kecil. Ia membalikkan tubuhnya. Matanya menyipit saat melihatku, lalu tersenyum tipis. “Kau datang?”

“Aku membawakan kalian kimbap. Sekarang, cepat bangun lalu kita sarapan.”

“Kenapa kau jadi seperti ibuku?” gumam Jonghyun sambil berusaha mengangkat tubuhnya sendiri. “Kibum yang menyuruhmu ke kamarku?”

“Mm-hmm. Memangnya kenapa?” tanyaku balik.

Ia menggeleng sambil mengacak rambutnya sendiri. Jonghyun sudah bangun, mungkin saatnya aku membantu Kibum di bawah. Sebuah tangan hangat tiba-tiba menahan pergelangan tanganku ketika aku baru saja ingin keluar dari kamar Jonghyun. Aku berbalik. Jonghyun menatapku dengan wajahnya yang masih mengantuk.

“Kau mau kemana?” tanyanya.

“Aku mau membantu Kibum menyiapkan sarapan,” jawabku agak bingung. Apalagi yang harus kulakukan disini?

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jonghyun langsung menarikku, sengaja menjatuhkanku diatas tubuhnya. Baru saja aku ingin mengomelinya, Jonghyun sudah memelukku dan kembali membaringkan dirinya di tempat tidur.

“Biarkan saja dia. Kau tidak perlu membantunya,” ucap Jonghyun sambil mempererat pelukannya. “Sekarang, temani aku tidur saja, ya?”

Nafasku tiba-tiba tertahan saat merasakan detak jantungku semakin cepat. Bagaimana ini? Semoga saja Jonghyun tidak merasakannya. Ia pasti tidak akan henti-hentinya menanyakan kenapa aku begini.

Benar juga. Kenapa harus gugup disaat seperti ini?

Jonghyun tiba-tiba terkekeh. Kuangkat kepalaku agar bisa melihat wajahnya.

Yah, tenanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu,” sahutnya. “Kenapa kau gugup begini, huh?”

Aku menunduk saat merasakan wajahku tiba-tiba memanas. Seharusnya aku tidak seperti ini! “G-gugup? Aku? Ha! Kau bercanda?”

Jonghyun terkekeh lagi, kemudian mengangguk kecil. “Baiklah. Terserah kau saja.”

Ia merenggangkan pelukannya, lalu memposisikan tubuhnya agar sejajar denganku. Jonghyun tersenyum, tapi aku malah berusaha mengalihkan pandanganku karena tidak berani menatap matanya.

“Beruntung sekali, orang sepertiku masih bisa melihatmu saat aku bangun,” katanya. Tangannya bergerak menyentuh pipiku, memintaku untuk melihatnya. “Aku selalu takut tidak bisa melihatmu disampingku lagi.”

Y-yah, kau ini bicara apa?” kupukul dadanya pelan. “Seperti orang ingin mati saja.”

Jonghyun tertawa hambar. Ia tetap menatapku, tapi kini dengan tatapan berbeda—lebih serius dari sebelumnya. Ia mendekatkan wajahnya hingga akhirnya aku bisa merasakan bibirnya menyentuh bibirku, melumatnya perlahan. Tangannya bergerak turun, menarik pinggangku agar lebih mendekat.

Perlahan, aku mulai membalas ciumannya sambil menggerakkan tanganku mengitari lehernya. Jonghyun pun semakin bebas melakukan aktivitasnya. Tapi suara dehaman seseorang refleks membuatku langsung melepaskan diri darinya.

“Apa aku mengganggu kalian?” tanya Kibum yang sudah berdiri di ambang pintu.

Jonghyun mendesah kesal. Ia melepaskan pelukannya dan langsung berdiri, berjalan keluar tanpa berkata apa-apa padaku atau Kibum.

Aku bangkit dari posisi tidurku lalu menatap Kibum. Ia hanya mengangkat bahu, seakan berkata kalau ia tidak tahu apa-apa kenapa Jonghyun tiba-tiba aneh seperti itu.

Kibum meninggalkanku di kamar Jonghyun. Ia langsung ke lantai bawah dan Jonghyun pergi entah kemana. Aku berjalan keluar kamar, hendak ikut turun ke bawah. Tiba-tiba langkahku terhenti mengingat apa yang baru saja yang kulakukan: berciuman dengan Jonghyun.

“Aish, apa yang harus kukatakan nanti? Dasar bodoh!” umpatku sambil memukul kepalaku sendiri.

* * *

Aku baru menyelesaikan dua potong kimbap ketika Jonghyun akhirnya keluar dari kamarnya. Ia baru saja selesai mandi dan sudah mengganti pakaiannya. Rambutnya yang masih agak basah justru memberi kesan maskulin padanya.

Yah, apa yang baru saja kupikirkan?!

“Kau mau kemana? Tidak sarapan?” tanya Kibum saat Jonghyun melirik sebentar pada kami yang sedang berada di meja makan.

Jonghyun berjalan mendekat dan langsung memasukkan tiga potong kimbap ke mulutnya. Aku tertawa melihat mulutnya yang penuh dengan kimbap. Tapi ia tidak peduli dengan sekitarnya sama sekali. Sambil mengunyah kimbapnya, Jonghyun memakai sepatunya kemudian keluar rumah tanpa berkata apa-apa.

“Tsk, kenapa sih dia?” gumamku sambil mengambil sepotong kimbap lagi.

“Mungkin pikirannya masih kacau karena mabuk semalam,” sahut Kibum yang baru saja meneguk minumannya.

“Mabuk?” ulangku sambil menoleh pada Kibum.

“Semalam dia minum terlalu banyak. Padahal sudah tahu tidak terbiasa minum vodka,” jelas Kibum.

Kuhela nafas ringan mendengar penjelasan Kibum. Dia mabuk, dan mungkin yang tadi itu hanya karena pengaruh alkohol. Aku tidak henti-hentinya mengutuki diriku sendiri karena sempat berharap itu sungguhan. Bagaimana bisa berharap pada orang yang jelas-jelas sedang mabuk?

“Kenapa?” tanya Kibum membuyarkan lamunanku. “Dia berbuat yang aneh-aneh, ya?”

Aku menggeleng pelan. “Tidak. Yeah, tidak ada.”

Kibum mengangguk-angguk mengerti. Ia mengambil piring kosong yang tadinya tempat salad buah—tapi sudah kami habiskan berdua karena Kibum bilang Jonghyun tidak akan makan salad pagi hari. “Terimakasih ya, kimbapnya. Enak sekali. Setelah ini kau mau kemana?”

“Menjenguk temanku,” jawabku singkat.

Kurasakan ada yang aneh dengan celana jinsku. Ponsel. Dimana benda itu saat aku harus pergi sekarang?!

“Kenapa? Ada sesuatu yang hilang?” tanya Kibum sambil memperhatikanku meraba saku celanaku sendiri.

“Ponselku. Sepertinya aku lupa menaruhnya dimana,” kataku lagi sambil mencoba mengingat-ingat dimana benda itu mungkin berada.

“Mungkin tertinggal di kamar Jonghyun saat kalian ‘bermain’ tadi. Coba kau lihat dulu disana,”
Aku mengangguk dan langsung berlari kearah kamar Jonghyun. Tunggu. Bermain? Kibum saja sudah mulai berpikir yang aneh-aneh, bagaimana pikiran Jonghyun tentangku nanti?

+++

Hyesoo meraih ponselnya yang ternyata memang berada diatas tempat tidur Jonghyun. Ia bersyukur dalam hati karena ponselnya bukan hilang di tempat yang mudah dicuri orang.

Pandangan matanya kini tertuju ke lantai. Sebuah kertas kecil tergeletak di bawah tempat tidur Jonghyun. Karena pernasan, ia pun mengambilnya. Ternyata itu bukanlah kertas. Sebuah foto. Sangat terasa perbedaannya saat Hyesoo mengambilnya.

Ia membalik foto itu, dan matanya langsung terpaku dengan apa yang ia lihat. Fotonya, dicoret dengan tinta merah.

* * *

Jonghyun sedang duduk di sebuah bangku panjang, di pinggir jalan raya. Ia menatap sebuah restoran Jepang di seberangnya. Bukan karena ia lapar. Ia hanya teringat saat ia dan Hyesoo membeli sekotak sushi untuk Eunsuh disana. Saat seorang wanita tua dengan suaminya mengatakan bahwa mereka serasi. Mengingat semua itu justru membuat Jonghyun merasa dadanya sesak.

Ia ingat dengan dirinya yang dulu. Seseorang yang menyimpan dendam mendalam pada Hyesoo karena ayahnya merusak kehidupannya. Saat ia ingin sekali membalaskan dendam orang tuanya. Tapi kini ia justru terpuruk oleh dua pilihan: tetap dalam misi membalaskan dendam orang tuanya dengan tangan kotornya ini, atau berhenti agar orang yang ia cintai sekarang tidak tersakiti?

Suara orang berlari membuat Jonghyun refleks menoleh. Ia berdiri saat melihat siapa yang sedang berlari ke arahnya. Han Hyesoo.

Gadis itu langsung mencengkram tangan Jonghyun sambil menunjukkan foto yang ia temukan di kamar laki-laki itu. Jonghyun merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa bicara untuk membohongi Hyesoo lagi tentang foto itu.
Nafas Hyesoo memburu. Ia menatap lurus pada Jonghyun, berharap laki-laki itu bisa memberikan penjelasan yang ia butuhkan saat ini.

“Jonghyun-ah,” ucap Hyesoo. Lebih terdengar seperti bisikan karena nafasnya belum juga teratur. “Kenapa foto ini ada di kamarmu?”

– To Be Continued – 

Advertisements

4 thoughts on “[chaptered/ongoing] Destiny – Chapter 8

  1. Haaiii salam kenal~ =D
    Aku reader baru disini, dan gatau mau komen dimana soalnya gatau live journal.-.v
    Ninggalin jejak disini gapapa kan?.-.

    Ngomong2, aku nemu blog ini waktu baca ff nya jinyoung di fanfictionschools =D keren banget lho ffnya*o* dan bahasanya enak banget buat dibaca<3 komennya lanjut disana aja ya thor :p

    Abis nemu blog ini langsung ubek2 wordpress dan menemukan cerita lain, eh ternyata yg main jjong. Imma shawol too! :p hehe XD ceritanya bagus thor~ terus pemilihan jjong buat characternya disini juga pas bgt, mukanya cocok jd pembunuh soalnya(?) Tapi juga muka 'penyayang' gitu :p ini cerita candu bgt thor, ga bikin bosen *-* pemilihan kata2nya bagus, enak dibaca(?) ❤ ngmong2 ini part 8 nya udh dipost belum ya?.-. Kalo belum, I'm waiting thor<333*-*

    Satu lagi, author kenal alma kan yg bana itu? Aku temennya thor :p *then why* yaudah thor, salam kenal+keep writing! I'll wait another great fanfictions 🙂

    • waah! annyeong reader baru~ annyeong shawol~ ^^)/
      seneng deh kalo suka hehe.. tapi sebenernya aku lagi males lanjutin ini. malah hampir lupa ceritanya /slapped xD
      yang udah tamat itu next to you, coba aja lirik dikit. castnya juga jjong loh :3
      makasih udah baca+komen. silahkan liat-liat yang lain ^^~

      • Dilanjutin dong thor, penasaran sama cerita lanjutannya.___.v
        Tapi aku taemin biased thor bukan jjong biased :3
        Oke thor, besok aku baca yang next to you deh 😀
        Yang ini dilanjutin ya thor puhlease.. u_u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s